Mencermati Prospek Pemulihan Ekonomi — Domestic Market Outlook, 29 March – 2 April 2021 by Alfred Pakasi

800

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pengaruh sentimen dari pasar global sehubungan optimisme pasar atas pemulihan ekonomi di Amerika dan meningkatnya penyebaran virus gelombang ketiga di kawasan Eropa yang menghambat pemulihan.
  • OJK merilis penilaiannnya bahwa stabilitas sistem keuangan masih terjaga dan mampu mendorong proses pemulihan perekonomian Indonesia.

Untuk korban virus di Indonesia, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 1,487 ribu orang terinfeksi, 1,323 ribu sembuh dengan tingkat kesembuhan 88,9%, dan 40 ribu lebih orang meninggal.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan pandemi virus corona, prospek pemulihan ekonomi dalam dan luar negeri akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 29 March – 2 April 2021.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau terkoreksi kembali di minggu keduanya terpengaruh sentimen negatif bursa regional dan aksi jual investor asing, namun tampak rebound di hari terakhir pasarnya. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya melemah. Secara mingguan IHSG ditutup melemah signifikan 2.53%, atau 160.597 poin, ke level 6,195.563. Untuk minggu berikutnya (29 Maret – 1 April 2021), dengan libur nasional pada Jumat, IHSG kemungkinan akan berupaya melanjutkan rebound terakhirnya, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6,394 dan kemudian 6,505, sedangkan support level di posisi 6,058 dan kemudian 6,018.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau melemah di minggu keenamnya dalam pergerakan fluktuatif, sementara dollar global menanjak naik, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir melemah terbatas 0.08% ke level Rp 14,417. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih perlahan naik, atau kemungkinan rupiah melemah agak terbatas di sekitar area konsolidasinya, dalam range antara resistance di level Rp14,475 dan Rp14,567, sementara support di level Rp14.325 dan Rp14.240.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau beranjak naik terbatas secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yields obligasi secara perlahan dan berakhir ke 6,749% pada akhir pekan. Sementara yields US Treasury fluktuatif dan menanjak di akhir minggunya.

===

Bank Indonesia merilis data terbaru Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan IV 2020 yang mencatat penguatan aliran masuk modal asing. Pada akhir triwulan IV 2020, PII Indonesia mencatat kewajiban neto 281,2 miliar dolar AS (26,5% dari PDB), meningkat dibandingkan dengan posisi kewajiban neto pada akhir triwulan III 2020 yang tercatat sebesar 260,0 miliar dolar AS (24,3% dari PDB). Peningkatan tersebut disebabkan oleh peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN).

Rapat Dewan Komisioner OJK, pekan lalu menilai berdasarkan data hingga Februari 2021, stabilitas sistem keuangan masih terjaga dan mampu mendorong proses pemulihan perekonomian yang sedang dilakukan Pemerintah.

Di tengah moderasi kinerja intermediasi, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Maret 2021 masih relatif terjaga dengan rasio NPL gross tercatat sebesar 3,21% (NPL net: 1,04%) dan Rasio NPF Perusahaan Pembiayaan 3,9%.

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat BBB (investment grade) dengan outlook stabil. Menurut Fitch, ada dua  faktor kunci yang mendukung afirmasi peringkat Indonesia, yaitu prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah yang baik dan beban utang pemerintah yang rendah, meskipun meningkat.

Perbaikan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia sedang bergerak ke arah pemulihannya di tahun 2021 ini.

===

 

Variasi pasar kembali menampakkan dirinya belakangan ini. Di tengah ketidakpastian perkembangan ekonomi dan penanganan wabah virus di kawasan Eropa, serta masih rapuhnya pemulihan ekonomi di banyak negara, pasar mata uang tampil menunjukkan trend-nya. Gejolak pasar, kalau kita perhatikan, bisa berbentuk volatilitas yang tinggi pada satu periode, dapat juga berupa gelombang naik turun dalam irama yang diwarnai dengan ketidakpastian di periode waktu yang lainnya. Memang demikian situasi dan kondisi pasar. Untuk ambil keuntungan terhadap pasarnya, nampaknya, kitalah yang harus menambahkan pengetahuan dan keahlian (skill) dalam berinvestasi. Bagaimanapun, tidak ada salahnya sama sekali seseorang untuk menambah pengetahuan dan skill. Itu suatu bentuk investasi tersendiri juga. Untuk itu, Anda dapat belajar bersama vibiznews.com. Terimakasih telah tetap bersama dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here