(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex turun ke $66.51 per barel yang merupakan level rendah yang baru sejak 21 Juli meskipun berita-berita dari Timur Tengah dan Korea Utara membangkitkan keprihatinan mengenai supply. Alasannya adalah karena menguatnya dollar AS secara luas.
Laporan dari PBB mengatakan bahwa Pyongyang masih terus mengembangkan program nuklir dan misil balistik, meskipun ekonomi negaranya memburuk disebabkan karena pandemic Covid – 19. Sementara AS dan Uni Eropa telah berusaha mendorong Korea Utara ke meja perdamaian namun progress nya masih sangat lambat.
Selain itu pertikaian antara AS dengan Iran menjadi masalah geopolitik yang berdampak ke persediaan minyak dan menopang harga minyak mentah WTI.
Namun, menguatnya dollar AS, yang didukung oleh menguatnya data employment, berita-berita stimulus dan penyebaran Covid telah membebani harga minyak mentah.
Laporan Non-Farm Payrolls keluar dengan lompatan pekerjaan ke 943.000 pekerjaan, di atas dari yang diperkirakan di 870.000, dengan kenaikan upah 4% YoY yang mengakibatkan naiknya dollar AS. Indeks dollar AS berhasil naik dan melanjutkan kenaikannya menjelang dan setelah keluarnya laporan NonFarm Payrolls yang lebih baik daripada yang diperkirakan sehingga mendorong indeks dollar AS naik ke 92,782.
“Support” terdekat menunggu di $66.18 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $65.00 dan kemudian $64.68. “Resistance” yang terdekat menunggu di $67.02 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $67.89 dan kemudian $69.00.
Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido



