(Vibiznews – Commodity) Setelah terkoreksi normal dari $80 ke $78, pada minggu ini, minyak mentah WTI kembali naik ke $83.68 karena sempat berkurangnya supply di Kazakhstan dan Libya serta Energy Information Administration (EIA) AS menaikkan perkiraan harga minyak mentahnya.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex naik ke ketinggian dua bulan lebih di $83.68, lebih tinggi dari yang dicapai pada awal minggu di $82.47, datang kembali dengan mengesankan dari kejatuhan di bawah area $81.
Momentum penurunan dollar AS yang berkelanjutan nampaknya berdampak sangat positip terhadap emas hitam ini.
Dollar AS tumbang terhadap semua rival utamanya dan katalisatornya adalah inflasi AS. Consumer Price Index muncul dikonfirmasi di 7% YoY pada bulan Desember, level tertinggi sejak 1982.
Tekanan kenaikan harga telah menjadi tema utama selama tahun 2021, dengan dunia mulai pulih dari pukulan karena pandemik yang mula-mula. Disrupsi rantai supply dan perubahan di dalam tingkah laku konsumsi membawa kepada inflasi yang sudah mencapai ketinggian selama beberapa dekade di negara – negara maju, yang menyebabkan bank sentral mereka mulai memperketat kebijakan moneter mereka meskipun ada kemajuan di dalam pemulihan ekonomi.
Sampai hari Rabu minggu lalu, rilis dari data inflasi cenderung memicu keengganan terhadap resiko, dengan ketakutan bahwa Federal Reserve AS akan menarik dukungan keuangan yang mengakibatkan saham-saham berjatuhan dan yields obligasi pemerintah mengalami kenaikan, dan memberikan keuntungan terhadap dollar AS. Tapi kali ini berbeda. Rilis data inflasi malah membuat saham-saham mengalami kenaikan sementara yields obligasi pemerintah banyak yang mengabaikan angka inflasi dan akibatnya dollar AS tumbang.
Kejatuhan dollar AS pada minggu lalu dibumbui oleh keluarnya data makro ekonomi AS yang buruk selama seminggu yang lalu.
Pada bulan Desember Producer Price Index menyentuh 9.7% YoY sementara angka inti lompat ke 8.3% yang merefleksikan tekanan inflasi yang persisten. Selain itu, Initial Jobless Claims pada minggu yang berakhir 7 Januari dicetak di 230.000 naik lebih besar daripada yang diperkirakan untuk minggu kedua berturut-turut.
Data Retail Sales AS muncul turun minus 1.9% di bulan Desember dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang naik sebesar 0.3%.
Pada hari Jumat, Departemen Perdagangan AS mengeluarkan laporan Penjualan Ritel AS bulan Desember, yang menunjukkan kontraksi sebesar 1.9%, lebih buruk daripada yang diperkirakan oleh para ekonom sebesar – 0.1%. Angka inti, yang mengeluarkan gasoline dan autos, bahkan turun lebih jauh lagi, sebesar 2.5% dibandingkan dengan penurunan pada bulan Nopember sebesar 0.1%.
Menambah kepada data makro ekonomi AS yang lebih buruk daripada yang diperkirakan, UoM Consumer Sentiment turun ke 68.8 dibawah daripada yang diperkirakan di 70.0 dan dari angka sebelumnya di 70.6.
Minggu ini, perkembangan harga minyak akan tergantung kepada perkembangan harga dollar AS dan juga faktor-faktor lainnya.
Setelah sempat naik dari 95.63 ke 96.13 karena risalah pertemuan FOMC AS yang hawkish, minggu ini dollar AS kembali tertekan. Pada hari Rabu, munculnya angka CPI AS yang naik ke 7% sesuai dengan yang diperkirakan, telah memicu tekanan jual yang kuat atas dollar AS. Indeks dollar AS turun 0.6% ke 95.00 dan pada minggu ini indeks dollar AS kembali ditutup di teritori negatip memperpanjang penurunan ke kerendahan selama dua bulan yang baru di 94.60, namun meredanya minat terhadap resiko berhasil menaikkan indeks dollar AS ke 94.80. Dengan perkiraan bahwa pemulihan ekonomi terus berlangsung meskipun ditengah banyaknya penularan karena Omicron, maka kemungkinan sentimen pasar akan positip pada minggu ini sehingga akan membebani dollar AS.
Namun perkembangan harga minyak tergantung juga kepada perkembangan data makro ekonomi yang akan keluar, antara lain data inflasi. Jika inflasi semakin meninggi, maka bank sentral AS akan terpaksa melakukan pengetatan kebijakan moneter termasuk menaikkan tingkat suku bunga sehingga akan mendorong naik dollar AS.
Minggu ini, giliran Jerman dan Uni Eropa yang akan merilis angka final dari inflasi mereka bulan Desember, yang diperkirakan akan muncul di 5.3% YoY untuk Jerman dan 5% YoY untuk Uni Eropa. Selain itu, akan dipublikasikan juga ZEW Survey untuk bulan Januari dan Producer Price Index untuk bulan Desember, sementara Uni Eropa juga akan mengeluarkan perkiraan pendahuluan dari Consumer Confidence bulan Januari.
Selain itu pasar juga akan mempertimbangkan dilepaskannya cadangan minyak mentah dari Cina yang sudah dekat waktunya. Cina berencana untuk melepaskan “strategic petroleum reserves” (SPR) nya di sekitar liburan hari Imlek sebagai bagian dari rencana terkoordinasi dengan Amerika Serikat dan dengan konsumen minyak utama lainnya dalam rangka mengerem kenaikan harga minyak mentah dan kalau bisa menurunkannya.
Data historis menunjukkan bahwa pelepasan pengapalan minyak mentah tahunan yang pertama kalinya dilakukan oleh Cina dalam dua dekade pada tahun 2021 kemungkinan bisa membebani sentimen di sekitar WTI.
Hal lainnya adalah otoritas Cina telah meminta penduduknya untuk tidak berpergian selama liburan Imlek dalam usaha membatasi penularan varian Covid Omicron. Restriksi dari pemerintah Cina ini bisa mengurangi permintaan akan minyak mentah, yang bisa menurunkan harga minyak mentah WTI.
Fokus pasar minggu ini juga bergerak ke arah laporan inventori minyak mentah dari Amerika Serikat yang akan dikeluarkan pada hari Rabu dan penghitungan penyulingan minyak AS pada hari Jumat.
“Support” terdekat menunggu di $83.15 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $82.51 dan kemudian 81.00. “Resistance” yang terdekat menunggu di $83.81yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $84.25 dan kemudian $84.50.
Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido



