(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan dalam negeri mixed, tetap dalam sentimen optimis, dengan IHSG lanjut mencetak rekor baru meskipun pasar global tidak menentu di tengah serangan Rusia atas Ukraina.
- Arus modal asing kembali variatif dengan outflow di pasar SBN dan inflow di bursa saham.
Minggu berikutnya, isyu antara prospek pemulihan ekonomi dalam dan luar negeri, serta perkembangan pandemi virus corona, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 7-11 March 2022.
===
Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat oleh dorongan aksi beli investor asing dan kembali mencetak rekor penutupan barunya (all time high) di level 6928. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya melemah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0,58%, atau 40,157 poin, ke level 6.928,328. Untuk minggu berikutnya (7-11 Maret 2022), IHSG kemungkinan akan diintip profit taking namun tetap dalam uptrend-nya. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.997 dan 6.750. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6.698, dan bila tembus ke level 6.626.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu melemah perlahan di minggu keduanya dalam pergerakan yang fluktuatif, di tengah kuatnya dollar di pasar global dan capital outflow di pasar SBN, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir melemah 0,14% ke level Rp 14.387. Sementara, dollar global terpantau lanjut menguat sebagai safe haven. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan bergerak naik bertahap, atau kemungkinan rupiah agak fluktuatif dengan bias melemah dalam range antara resistance di level Rp14.412 dan Rp14.450, sementara support di level Rp14.316 dan Rp14.249.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau berakhir turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yields obligasi dan berakhir ke 6,637% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah berlanjutnya aksi jual investor asing di SBN. Sementara yields US Treasury bergerak turun cukup tajam.
===
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2022 mengalami deflasi 0,02% (mtm). Perkembangan ini bersumber dari deflasi pada kelompok volatile food serta penurunan inflasi inti dan kelompok administered prices. Secara tahunan, inflasi IHK Februari 2022 tercatat 2,06% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,18% (yoy).
Berdasarkan data transaksi 1-2 Maret 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp6,13 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp8,30 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp2,17 triliun.
===
Pasar kadangkala berpola tidak jelas, bahkan bisa dalam volatilitas atau fluktuasi yang panjang seperti pasar belakangan ini. Apakah itu berarti undur dari pasar bagi seorang investor? Belum tentu juga. Pasar demikian kadang malah menarik untuk para pelaku trading yang agresif. Dengan mengandalkan analisis teknikal yang tepat bisa mengoleksi kumpulan profit secara cepat. Cepat masuk, cepat keluar. Sangat memungkinkan. Namun, lagi-lagi, ketersediaan waktu bisa merupakan kendala besar bagi seorang investor apalagi mereka yang masih ada pekerjaan utama sehari-harinya. Untuk isyu demikian, vibiznews bisa menggantikan Anda dalam analisis pasar secara kontinyu, nyaris tanpa henti sepanjang minggu. Untuk Anda para members loyal, disampaikan terimakasih telah bersama terus dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting


