(Vibiznews – Commodity) Pada minggu lalu harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex bergerak sangat fluktuatif.
Setelah pada 2 minggu lalu harga minyak mentah WTI turun dari ketinggian di $109 ke $98, pada minggu lalu harga minyak mentah WTI bergerak dengan sangat fluktuatif dimana sempat naik ke $105. Namun sempat turun kembali ke $94.50. Dan di akhiri pada hari Jumat dengan diperdagangkan di sekitar $97.56.
Setelah sempat naik ke $105.50, harga minyak WTI berbalik turun pada hari kedua dari minggu perdagangan yang baru. Harga minyak WTI berbalik turun ke sekitar $102.75 per barel karena menguatnya dollar AS ditengah sentimen pasar yang risk-off dan masuknya arus safe-haven.
Dollar AS terus menguat, didukung oleh naiknya yields treasury AS. Yields obligasi treasury AS benchmark 10 tahun berada pada level yang tertinggi dalam lebih dari 3 tahun di 2.62%, naik lebih dari 2% per hari.
Sementara itu, dollar AS terus berlanjut menguat menyambut laporan pasar tenaga kerja AS yang bagus dan komentar yang hawkish dari Presiden Federal Reserve San Fransisco Mary Daly yang meningkatkan ekspektasi kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps pada pertemuan the Fed bulan Mei.
Risalah pertemuan kebijakan FOMC bulan Maret pada hari Rabu menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan cenderung memilih kenaikan tingkat bunga sebanyak 50 basis poin pada bulan Maret yang lalu dan bulan Mei akan menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengurangi neraca.
Indeks dollar AS berada pada level tertinggi sejak Mei 2020, yang merefleksikan dampak yang positip dari sikap pengetatan the Fed yang agresif terhadap dollar AS.
Komentar the Fed yang hawkish bersamaan dengan data PMI jasa AS yang bagus meneguhkan kesepakatan akan kenaikan tingkat bunga sebesear 50 bps pada bulan Mei.
Sementara itu Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan bahwa bank sentral AS perlu menaikkan tingkat bunga benchmark jangka pendek ke sekitar 3.5% yang menggerakkan indeks dollar AS naik ke level tertinggi sejak bulan Mei 2020 dan naiknya yields obligasi AS ke ketinggian selama tiga tahun.
Pada hari Rabu harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex semula bertahan di $102, namun akhirnya bergerak melanjutkan penurunannya menembus $100.00 ke sekitar $99.00 per barel, karena laporan mengatakan bahwa International Energy Agency (IEA) akan merilis 120 juta barel minyak mentah di dalam usaha untuk mendinginkan pasar minyak mentah.
AS akan memberikan kontribusi 60 juta barel dari total 120 juta barel tersebut dan akan dimasukkan sebagai bagian dari 180 juta barel yang telah diumumkan sebelumnya pada minggu lalu. 60 juta barel lagi akan datang dari negara-negara lainnya. Hal ini membuat jatuh harga minyak mentah WTI menembus ke bawah $100.00.
Pada hari Kamis harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex melanjutkan penurunannya ke sekitar $94.50 per barel.
Sanksi terhadap Rusia terus membebani sisi supply, sementara itu dari sisi demand berkepanjangannya penutupan Shanghai karena meluasnya kasus baru Covid – 19 telah berdampak terhadap pengurangan impor minyak mentah Cina.
Pada hari Jumat, harga minyak mentah WTI sempat melanjutkan penurunannya menyentuh ke kerendahan di bulan Maret di $93.56, sebelum akhirnya berbalik naik kembali dan ditutup di $97.56.
Penurunan harga minyak mentah WTI disebabkan oleh karena keluarnya laporan dari International Energy Agency (IEA) yang mengatakan akan melepaskan cadangan minyak mentahnya menambah kepada akan dilepaskannya cadangan minyak mentah dari Amerika Serikat.
Laporan dari IEA ini menutupi perkembangan geopolitik dimana Uni Eropa telah bergerak untuk memperluas sanksinya terhadap impor energi Rusia, meskipun belum memberlakukan larangan impor gas dan minyak secara langsung. Tekanan politik di Uni Eropa atas embargo impor energi Rusia secara penuh terus meningkat, di tengah meningkatnya ketegangan antara Barat dengan Rusia atas persoalan Ukraina.
Perang Rusia – Ukraina masih menjadi penggerak terdepan di pasar dengan semakin banyaknya sanksi ekonomi yang dikenakan terhadap Rusia atas kekejaman perangnya terhadap penduduk Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa kemungkinan dia tidak bisa bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di tengah kejahatan perang yang dilakukan oleh tentara Rusia di Bucha.
Sementara Rusia membantah telah melakukan kejahatan perang. Hal ini menyalakan kembali ketegangan antara Barat dengan Rusia dan memicu AS, Eropa dan Inggris untuk mengajukan tambahan sanksi terhadap Moskow.
Kemungkinan dikenakannya embargo impor energi Rusia secara penuh ini bisa menjadi pendorong naiknya kembali harga minyak mentah WTI pada minggu ini. Peluang ini bertambah dengan kartel minyak terbesar di dunia OPEC+ enggan untuk membuka saluran produksi minyak mentah yang baru untuk menurunkan harga minyak yang sudah naik begitu tinggi dalam waktu yang lama.
Selain itu tidak adanya kemajuan di dalam negosiasi AS/Iran untuk kembali kepada pakta nuklir di tahun 2015 yang bisa membuat pertambahan produksi sebanyak 1,3 juta barel per hari, membuat harga minyak mentah WTI pada minggu ini berpeluang naik.
Dari data makro ekonomi di kalender ekonomi, pada minggu ini para trader minyak juga akan memonitor dengan seksama dua laporan mingguan yang utama yaitu laporan perubahan persediaan minyak mentah AS bulan April yang akan dikeluarkan oleh International Energy Agency (EIA) dan The American Petroleum Institute (API) pada hari Rabu.
“Support” terdekat menunggu di $94.28 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $93.11 dan kemudian $92.00 “Resistance” yang terdekat menunggu di $98.70 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $100.81 dan kemudian $103.48.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Reseach Vibiz Consulting
Editor: Asido.



