(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Bursa saham domestik minggu ini mengalami pelemahan terpicu pelemahan bursa saham AS, kekhawatiran inflasi dan perlambatan ekonomi global.
- Mata uang rupiah melemah minggu ini, tertekan penguatan dolar AS seiring prospek kenaikan suku bunga AS.
- Data ekonomi Indonesia membaik tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia bulan Mei tetap tingi dan stabil, demikian juga data Indeks Keyakinan Konsumen bulan Mei meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Minggu berikutnya, isyu antara prospek pemulihan ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 13-17 June 2022.
Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia melemah terpengaruh pelemahan Bursa AS dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 1,34%, ke level 7.086,64. Untuk minggu berikutnya (13-17 Juni 2022), IHSG akan menghadapi sentiment bearish dengan lonjakan inflasi AS yang dapat mendukung The Fed lebih agresif dalam pengetatan kebijakan moneternya. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.150 dan 7.214. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7.009, dan bila tembus ke level 6.910.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu bergerak turun, sehingga rupiah secara mingguannya berakhir turun 1,25% ke level Rp 14.609. Sementara, dollar global masih mencatatkan penguatan secara mingguannya. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan melanjutkan uptrend-nya, dengan demikian kemungkinan rupiah berkonsolidasi menghadapi sentiment kenaikan suku bunga AS, dalam range antara resistance di level Rp14.663 dan Rp14.744, sementara support di level Rp14.525 dan Rp14.429.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau berakhir melemah secara mingguannya, terlihat dari pergerakan naik yield obligasi dan berakhir ke 7,220% pada akhir pekan. Ini terjadi di tengah aksi beli investor asing di SBN. Sementara yields US Treasury meningkat.
===
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2022 tetap tinggi sebesar 135,6 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir April 2022 sebesar 135,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Bank Indonesia merilis hasil Survei Konsumen Mei 2022 yang mengindikasikan optimisme terhadap kondisi ekonomi terus menguat. Hal ini terindikasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK)[1] Mei 2022 sebesar 128,9, lebih tinggi dari 113,1 pada bulan sebelumnya. Pada Mei 2022, optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini membaik dari bulan sebelumnya, tercermin dari Indeks Ekonomi Saat Ini (IKE) Mei 2022 yang tercatat sebesar 116,4, lebih tinggi dari 98,9 dibandingkan April 2022. Keyakinan konsumen pada Mei 2022 yang menguat didorong oleh meningkatnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Berdasarkan data transaksi 6-9 Juni 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp0,52 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp0,99 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp1,50 triliun


