Klinik Ekspor Bea Cukai Banyak Manfaatnya Bagi UMKM

893
Sumber: Kemenkeu

(Vibiznews – Economy & Business) – UMKM memainkan peran penting dalam ekonomi Indonesia. Selain merupakan tulang punggung ekonomi nasional, UMKM juga memiliki peran krusial dalam membantu pemulihan ekonomi. Jadi tidak heran, berbagai langkah dilakukan pemerintah untuk terus memperkuat UMKM. Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga turut mendorong kinerja ekspor UMKM melalui program Klinik Ekspor Bea Cukai yang tersebar di beberapa kantor wilayah salah satunya Klinik Ekspor Bea Cukai Gresik.

Apa itu Klinik Ekspor?

Klinik Ekspor adalah program dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang diadakan untuk mendorong dan membantu para pelaku usaha dalam negeri terutama UMKM, agar dapat mengembangkan potensinya dan melakukan ekspor.

Klinik Ekspor Gresik berfokus pada pemberdayaan pelaku UMKM serta dunia usaha di bidang industri dan perdagangan secara luas. Tujuan utamanya yaitu memperluas pangsa pasar produk para pelaku usaha melalui ekspor sehingga mampu berkontribusi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Klinik Ekspor Gresik memiliki tiga kegiatan utama, yaitu sosialisasi, asistensi, dan realisasi.

Ada beberapa pelaku UMKM dari Klinik Ekspor Bea Cukai Gresik yang menceritakan pengalamannya menggunakan program Klinik Ekspor tersebut. Heryanto, Uly Darojah dan Ririn adalah tiga dari 21 pelaku UMKM yang merasakan manfaat dari Klinik Ekspor. Ketiganya amat terbantu dalam memasarkan produk mereka ke pasar luar negeri.
“Alhamdulillah mulai tahun 2021, kami melakukan pengiriman ekspor ke Jepang, menampilkan produk-produk kami untuk dibuat pameran,” ungkap Heryanto, Ketua Koperasi Kerajinan Rotan Domas.

Begitu pula dengan Uly dan Ririn. Produk minuman sarang burung walet milik Uly sudah menembus pasar Hongkong dan dalam proses ekspor ke Jepang, sementara olahan ikan milik Ririn sudah dinikmati oleh warga Malaysia

Melalui kegiatan sosialisasi, peserta Klinik Ekspor memiliki pemahaman tentang bagaimana tata cara prosedur ekspor dan syarat apa saja yang harus dibawa. Selain melakukan sosialisasi, Klinik Ekspor Bea Cukai Gresik juga memberikan asistens dalam mengurus persyaratan dan perizinan ekspor.

“Kita sangat disupport semuanya, mulai dari perizinannya, mulai dari awal kita mengurus ide ekspor, buyer, perizinan surat-suratnya, sampai barang itu diterima di buyer,” terang Ririn. Terbukanya peluang untuk melakukan ekspor membuat pangsa pasar UMKM semakin luas. Ini tentu saja turut berdampak pada omset yang semakin meningkat.

Para pelaku UMKM bersyukur Klinik Ekspor ini tidak hanya menjadikan mereka punya buyer di luar negeri, tapi pasar domestik juga meningkat. “Setelah kami ekspor dan legalitas kami semakin lengkap juga turut meningkatkan customer trust. Jadi mereka semakin yakin ‘oh iya bener nih, produk ini bagus’. Omset di lokal kami meningkat drastis dari yang awalnya hanya area Gresik, Surabaya, Jawa Timur, sekarang kami sudah punya beberapa reseller distributor di Lombok, Bandung, Semarang, dan Bali,” cerita Uly.

Tidak hanya meningkatkan usaha pelaku UMKM, Klinik Ekspor juga turut berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Pada awalnya Uly hanya mempekerjakan satu orang pegawai, tetapi kini ia sudah memiliki 30 orang pegawai. Sementara di Koperasi Kerajinan Rotan Domas, kesempatan untuk ekspor ini juga turut mendorong aspek pemberdayaan perempuan sebab mayoritas pengrajin rotannya adalah perempuan, terutama para ibu rumah tangga yang tidak bersuami.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting