(Vibiznews-Kolom) Google selama ini dikenal sebagai mesin pencari, platform video, dan raksasa teknologi global. Namun dari data yang dikumpulkannya, Google juga menyimpan satu potret penting tentang perubahan ekonomi Indonesia yang kerap luput dari pembacaan konvensional. Di tengah narasi penurunan daya beli dan perlambatan konsumsi, data digital justru menunjukkan denyut ekonomi lain yang tumbuh cepat, masif, dan semakin menentukan arah masa depan.
Berdasarkan laporan ekonomi digital Asia Tenggara yang disusun Google bersama Bain dan Temasek, nilai perekonomian digital Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 100 miliar dolar AS. Angka ini tumbuh sekitar 14 persen secara tahunan dan menempatkan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di kawasan. Ini bukan pertumbuhan yang terjadi di ruang hampa, melainkan lahir dari perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja, bertransaksi, mengonsumsi konten, dan bekerja.
Perubahan paling mendasar terletak pada cara membaca konsumsi. Selama ini diskursus ekonomi cenderung berhenti pada istilah daya beli. Ketika penjualan ritel menurun dan toko fisik terlihat sepi, kesimpulan yang cepat diambil adalah konsumsi melemah. Namun data digital memperlihatkan dimensi lain yang sering diabaikan, yakni keinginan membeli. Dalam banyak kasus, keinginan membeli justru bergerak lebih kuat dibandingkan kemampuan membeli secara konvensional.
Fenomena ini terlihat jelas pada konsumsi barang nonprimer. Penjualan makanan kucing, misalnya, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini bukan kebutuhan pokok, tetapi tetap dibeli dan bahkan meningkat. Budaya populer ikut membentuknya. Media sosial melahirkan figur baru berupa hewan peliharaan yang diperlakukan layaknya selebritas, memiliki jutaan pengikut, dan mendorong belanja berbasis emosi serta afiliasi. Ekonomi tidak lagi sekadar rasional, melainkan juga relasional.
Dalam peta ekonomi digital, e-commerce menjadi kontributor terbesar dengan nilai sekitar 70 miliar dolar AS dan pertumbuhan sekitar 14 persen. Namun pendorong utamanya bukan lagi sekadar katalog digital atau promosi harga, melainkan video commerce. Indonesia mencatat sekitar 2,6 miliar transaksi video commerce dengan pertumbuhan mendekati 90 persen secara tahunan, tertinggi di Asia Tenggara.
Video commerce mengubah cara orang berbelanja. Konsumen tidak hanya melihat produk, tetapi juga cerita, pengalaman, dan rekomendasi dari figur yang mereka percayai. Kreator konten membangun komunitas, dan komunitas itulah yang menjadi pasar. Dalam konteks ini, kepercayaan menjadi mata uang utama. Produk yang direkomendasikan oleh kreator dipercaya bukan karena iklannya, melainkan karena relasi yang terbangun sebelumnya.
YouTube menjadi contoh penting dari perubahan ini. Dalam satu tahun sejak peluncuran fitur YouTube Shopping, konten yang berkaitan dengan belanja meningkat hingga lima kali lipat. Puluhan juta orang datang ke platform video bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mencari referensi sebelum membeli. Menariknya, belanja tidak lagi terikat pada waktu tertentu. Tidak harus siaran langsung. Sebuah video dapat terus menghasilkan transaksi selama ia ditonton.
Ekonomi digital juga ditopang oleh sistem pembayaran yang semakin matang. Sekitar 60 persen transaksi kini dilakukan secara nontunai, sementara sisanya masih tunai. QRIS dan berbagai metode pembayaran digital menghilangkan hambatan transaksi, mempercepat keputusan belanja, dan memperluas inklusi keuangan. Bahkan di luar negeri, sistem pembayaran Indonesia mulai dikenal karena kemudahannya.
Selain e-commerce dan pembayaran digital, sektor lain yang menonjol adalah transportasi online, perjalanan daring, media digital, gim, dan layanan keuangan digital. Gim, misalnya, menyumbang sekitar 40 persen dari total unduhan gim mobile di Asia Tenggara dan sekitar 35 persen dari pendapatan regional. Pasar gim Indonesia menjangkau lintas generasi, lintas gender, dengan preferensi yang beragam.
Namun mungkin perubahan paling signifikan datang dari adopsi kecerdasan buatan. Indonesia termasuk negara yang sangat terbuka dan optimistis terhadap AI. Penggunaan layanan AI Google, termasuk Gemini dan fitur generatif lainnya, mencatat tingkat adopsi yang tinggi secara global. Aplikasi yang menyertakan fitur AI dan memonetisasinya mengalami kenaikan pendapatan hingga 127 persen.
Ini menunjukkan satu hal penting, masyarakat Indonesia bersedia membayar layanan berbasis AI jika dirasakan memberikan nilai nyata. AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan alat sehari-hari untuk belajar, bekerja, dan berkreasi. Dalam waktu singkat, AI berkembang dari sekadar alat generatif menjadi sistem agentik yang mampu mengeksekusi tugas atas nama pengguna.
Meski demikian, ada paradoks yang muncul. Tingginya konsumsi dan adopsi teknologi tidak berbanding lurus dengan jumlah startup teknologi lokal. Indonesia hanya memiliki sekitar 45 startup AI, jauh tertinggal dibandingkan Singapura yang mencapai hampir 500. Investor kini lebih selektif, menuntut jalur profitabilitas yang jelas dan model bisnis berkelanjutan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa ekonomi digital Indonesia saat ini lebih kuat di sisi konsumsi dibandingkan penciptaan teknologi. Padahal, AI justru membuka peluang untuk mempercepat proses inovasi, menurunkan biaya pengembangan, dan menciptakan solusi baru lintas sektor. Tantangannya bukan ketiadaan peluang, melainkan kesiapan talenta dan ekosistem.
Google berupaya menjembatani kesenjangan ini melalui pelatihan pengembang, sertifikasi karier, program inkubasi startup, dan penguatan komunitas. Fokusnya bergeser dari sekadar pengembangan aplikasi ke penguasaan AI dan infrastruktur cloud. Tujuannya bukan hanya mencetak pengguna teknologi, tetapi juga pencipta teknologi.
Ekonomi digital juga memunculkan tantangan baru, terutama dalam kepercayaan dan keamanan. Dalam sektor keuangan digital, masih terdapat keraguan masyarakat terhadap fintech dibandingkan bank tradisional. Isu keamanan siber, perlindungan data, dan praktik penagihan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.
Selain itu, maraknya misinformasi dan deepfake menjadi risiko nyata. Teknologi yang sama yang memudahkan kreasi juga dapat digunakan untuk manipulasi. Literasi digital menjadi kebutuhan mendesak, bukan hanya bagi pengguna muda, tetapi juga masyarakat luas.
Data Google memperlihatkan bahwa ekonomi Indonesia tidak sedang berhenti, melainkan bergeser. Aktivitas ekonomi Indonesia berpindah dari ruang fisik ke ruang digital, dari transaksi kas ke transaksi daring, dari iklan satu arah ke ekosistem berbasis komunitas. Survei konvensional yang hanya membaca dunia offline berisiko kehilangan gambaran utuh.
Ekonomi digital membuka peluang kerja baru di tengah tingginya pengangguran muda. Kreator, pengembang, analis data, pelaku UMKM digital, dan profesi berbasis platform menjadi bagian dari struktur ekonomi baru. Namun peluang ini menuntut satu hal yang sama: kemampuan untuk terus belajar dan menjaga relevansi.
Google, melalui data dan pengamatannya, tidak sekadar menyajikan angka. Ia mengingatkan bahwa cara lama membaca ekonomi perlu diperbarui. Bahwa di balik layar ponsel, terjadi transaksi, interaksi, dan penciptaan nilai yang nyata. Bahwa keinginan membeli, kepercayaan, dan teknologi kini menjadi penggerak utama konsumsi.
Ekonomi digital bukan pelengkap, melainkan arus utama. Ia sedang membentuk ulang cara bekerja, berbelanja, dan berbisnis di Indonesia. Dan perubahan itu, seperti ditunjukkan data Google, sudah berlangsung jauh lebih cepat daripada yang disadari banyak orang.



