Pasar Lanjut Bearish Searah Regional, Perang dan Volatilitas Harga Minyak — Domestic Market Outlook, 16-17 March 2026

115
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu berlanjut bearish di tengah berlanjutnya konflik Timur Tengah.
  • BI melaporkan indikasi keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia tetap optimis.
  • Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari diprakirakan tumbuh sebesar 6,9% (yoy).
  • Sentimen global saat ini masih di sekitar konflik Timur Tengah serta volatilitas harga minyak mentah dunia.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang adalah rilis BI Rate pada hari Selasa yang diperkirakan bertahan di level 3,75%.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 16-17 March 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau berlanjut bearish di pekan ketiga, ditutup ke level 8 bulan terendahnya, dengan investor asing net sell pada saham-saham bank besar dan big caps lain. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya melemah, di tengah konflik perang Iran yang berkepanjangan dan volatilitas harga minyak mentah dunia. Secara mingguan IHSG ditutup melemah tajam 5,92%, atau 449,475 poin, ke level 7.137,212.

Untuk minggu berikutnya (16-17 Maret 2026), merupakan minggu pendek di tengah libur Nyepi dan Lebaran, IHSG kemungkinan akan lebih konsolidasi menjelang libur panjang, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 7.765 dan 8.098. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 7,071 dan bila tembus ke level 6,955.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu berakhir kembali tertekan, walau lebih terbatas, namun kembali mendekati area rekor terendahnya, di tengah rally dollar global oleh konflik Timur Tengah yang memanas. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 30 poin atau 0,18% ke level Rp 16.940 per USD. Sementara, dollar global terpantau perkasa di sekitar hampir 10 bulan tertingginya, di tengah naiknya permintaan dollar sebagai safe haven.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih akan uptrend, atau kemungkinan rupiah lanjut bias terkoreksi, dalam range antara resistance di level Rp16.976 dan Rp17.100, sementara support di level Rp16.812 dan Rp16.753.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun signifkan secara mingguannya, terlihat dari pergerakan lompat naik yield obligasi dan berakhir ke level 6,818% pada akhir pekan keduanya. Sementara yields US Treasury terpantau menanjak naik di minggu kedua.

===

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 125,2.

Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9.

Kinerja penjualan eceran pada Februari 2026 diprakirakan meningkat secara tahunan dan bulanan. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang secara tahunan diprakirakan tumbuh sebesar 6,9% (yoy). Kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh meningkatnya penjualan mayoritas kelompok, terutama Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Subkelompok Sandang.

Peningkatan tersebut didorong oleh permintaan masyarakat saat Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.

===

 

Berita-berita yang datangnya dari bursa aset investasi di kawasan Asia, Eropa dan Amerika kerap kali memengaruhi pasang surutnya pasar investasi. Baik itu karena faktor non ekonomi seperti perang, tensi geopolitik Timur Tengah, atau faktor ekonomi seperti prospek penurunan suku bunga berikutnya atau rilis inflasi. Satu saat sepertinya memberi harapan, pada kesempatan lain memutuskan ekspektasinya. Sangat tidak menentu. Kita tidak menyalahkan pasar atas hal tersebut. Pasar tidak pernah salah. Kita, sebagai investor, yang harus mengerti siapa pasar, apa perilakunya, serta bagaimana penyebabnya.

Vibiznews.com dapat menjadi pendukung bagi Anda untuk memahami pasar investasi lebih baik. Bagi Anda kami selalu hadir mendampingi. Saat ini, kami sampaikan terimakasih kepada para pembaca yang telah bersama dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting