(Vibiznews – Forex) – Pergerakan indeks Dolar AS (DXY) terpantau bergerak stabil dan bertahan di kisaran 100,8 pada akhir perdagangan forex sesi Asia hari Senin (22/06/2026).
Posisi ini menjaga kinerja mata uang Amerika Serikat tetap berada di dekat level tertinggi sejak Mei 2025. Perkembangan positif dalam peta jalan negosiasi perdamaian AS-Iran serta antisipasi pasar terhadap data inflasi utama AS menjadi motor penggerak utama pergerakan pasar pekan ini.
Sentimen pasar global sempat mendapatkan angin segar dari laporan bahwa Washington dan Teheran menyepakati roadmap menuju kesepakatan akhir dalam 60 hari.
Hal ini meredakan kekhawatiran geopolitik setelah kedua belah pihak sempat saling melontarkan ancaman terkait konflik di Lebanon, sekaligus melonggarkan jalur energi di Selat Hormuz.
Meskipun ketegangan geopolitik mereda, keperkasaan Dolar AS tetap ditopang oleh sikap hawkish Federal Reserve pada pertemuan kebijakan pekan lalu.
Meskipun acuan suku bunga dipertahankan pada level 3,50%–3,75%, pembaruan dot plot menunjukkan bahwa 9 dari 19 pembuat kebijakan memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun 2026.
Pasar kini mulai memperkirakan potensi kenaikan tersebut dapat terjadi segera pada bulan September mendatang.
Fokus utama para pelaku pasar minggu ini akan mengumumkan pada rilis data Indeks Harga PCE (Personal Consumption Expenditures) AS, yang merupakan indikator inflasi acuan favorit The Fed, guna mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
Secara teknikal, analis Vibiz Research Center melihat indeks dollar masih berada dalam bias bullish yang kuat di atas level psikologis 100,00.
Jika momentum penguatan terus menembus level 100,91 (tertinggi akhir pekan lalu), pergerakan DXY berpotensi menuju target resisten berikutnya di kisaran 101,20 hingga 101,50.
Sebaliknya, jika terjadi koreksi, penurunan awal akan menguji level acuan terdekat di 100,50. Penurunan lebih dalam di bawah level tersebut dapat membawa indeks menguji zona support kuat pada level 100,00.
Terhadap rival utamanya:
- EURUSD: Euro terpantau melemah di kisaran 1,1430. Meskipun ECB sempat menaikkan suku bunga deposito menjadi 2,25% di awal bulan, keunggulan imbal hasildan sentimen hawkish dari The Fed membuat Euro terus tertekan.
- USDJPY: Mata uang Yen Jepang semakin terbenam di kisaran 161,25 per dolar AS. Meskipun Bank of Japan (BoJ) telah menaikkan suku bunga ke level 1% dan otoritas Jepang gencar melakukan intervensi verbal, pelebaran selisih suku bunga (divergensi kebijakan) dengan AS terus menanamkan Yen.
- AUDUSD: Dolar Australia bergerak konsolidasi tipis di kisaran 0,7010 setelah sempat menyentuh level terendah 10 minggunya. Aussie dibayangi oleh memudarnya spekulasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Reserve Bank of Australia (RBA).








