(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu variatif, di mana IHSG rally 4 pekan namun rupiah kembali tergerus.
- Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengundurkan diri, diganti Destry Damayanti, sebagai pejabat Gubernur BI sementara.
- Pasar menantikan proses pergantian Gubernur BI yang baru.
- Sentimen global saat ini masih sekitar tensi geopolitik Timur Tengah, gejolak harga minyak dunia, serta ancaman tekanan inflasi global.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis inflasi IHK Juli, neraca perdagangan Juni, dan S&P Global Manufacturing PMI Juli pada hari Senin; data pertumbuhan ekonomi Q2 pada Rabu; serta rilis cadangan devisa Juli di hari Jumat nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 3-7 August 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau rally di pekan keempatnya, dalam pergerakan fluktuatif, sempat tergerus ke 2 minggu terendahnya lalu rebound sampai ke seminggu tertingginya, dipimpin kenaikan sektor kesehatan dan bahan baku. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed bias menguat dengan pergerakan fluktuatif di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0,64%, atau 39,696 poin, ke level 6.236,126.
Untuk minggu berikutnya (3-7 Agustus 2026), IHSG kemungkinan cenderung bias positif secara bertahap, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.460 dan 6.631. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,029 dan bila tembus ke level 5,839.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu bergerak fluktuatif dan melemah di minggu keduanya, sempat mencapai level 2 minggu terendahnya, lalu rebound kuat di hari terakhir mangurangi loss, di antara berita mundurnya Gubernur Bank Indonesia. Rupiah secara mingguannya berakhir melemah 55 poin atau 0,31% ke level Rp17.990 per USD. Sementara, dollar global bearish ke level 1,5 bulan terendahnya oleh melunaknya rilis inflasi AS yang mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed segera dalam tahun ini.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih bisa turun dan sideways, atau rupiah kemungkinan bias menguat dan berkonsolidasi, dalam range antara resistance di level Rp18.126 dan Rp18.180, sementara support di level Rp17.845 dan Rp17.690.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik terbatas secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun tipis yield obligasi dan berakhir ke level 7,337%. Sementara yields US Treasury terpantau menguat dalam 2 pekan.
===
Sehubungan dengan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, maka Rapat Dewan Gubernur menetapkan Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti, sebagai pejabat Gubernur BI sementara.
===
Isyu ancaman inflasi global kembali mengemuka di tengah bergejolaknya harga minyak mentah dunia. Isyu lain, panasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang bisa begitu menggerakkan pasar. Kita melihat bahwa faktor fundamental ekonomi serta politik begitu signifikan dalam memengaruhi pasar. Bagi investor lokal yang, katakanlah, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator perekonomian dan yang terkait tersebut.
Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting






