Harga Minyak, Sentimen yang Mendominasi Pasar Juli 2026; Bagaimana Agustus 2026?

67

(Vibiznews – Commodity) Minyak mentah acuan WTI tercatat naik sekitar 26,6% sepanjang Juli — kinerja bulanan terbesar dalam setahun terakhir. Namun angka itu menyembunyikan drama yang jauh lebih dramatis di baliknya: bukan kenaikan yang mulus, melainkan rentetan lonjakan dan penurunan tajam yang silih berganti, masing-masing dipicu oleh perkembangan konflik Amerika Serikat–Iran di Selat Hormuz.

Awal bulan, harga sempat mereda ke kisaran 71 dolar per barel ketika muncul optimisme jalur pelayaran di Hormuz kembali normal. Tak sampai sepekan kemudian, gencatan senjata runtuh, dan harga melompat mendekati 79–83 dolar hanya dalam hitungan hari. Menjelang akhir bulan, harapan jeda konflik sempat menekan harga turun lagi, sebelum serangan Houthi di Laut Merah dan gangguan di jalur ekspor Laut Hitam Rusia mendorongnya melonjak kembali ke level tertinggi bulan itu, di atas 86 dolar.

 

Kronologi Gejolak Minyak

Polanya jelas terlihat di grafik: minyak bergerak liar mengikuti eskalasi-deeskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz.

  • 10 Juli — sempat mereda, WTI turun ke US$71,51/barel dan Brent ke US$76,00/barel seiring optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz.
  • 13 Juli — gencatan senjata runtuh. AS dan Iran kembali saling serang, memicu kekhawatiran keamanan pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia, dan Brent sempat menguat 3,5% mendekati US$79/barel.
  • 14 Juli — lonjakan Brent hingga US$83,30/barel memicu kekhawatiran inflasi baru, sekaligus mendorong probabilitas kenaikan suku bunga The Fed dan memicu aksi borong dolar sebagai aset aman.
  • 28 Juli — sempat mereda lagi, Brent turun 4,8% ke US$84,09 dan WTI turun 4,1% ke US$79,26, dipicu harapan bahwa jeda konflik AS-Iran bisa membuka pembicaraan damai.
  • 31 Juli — melonjak lagi ke US$86,80, didorong konflik yang diperbarui antara AS dan Iran, serangan Houthi di Laut Merah, serta serangan dekat infrastruktur ekspor minyak Laut Hitam Rusia yang mengancam pasokan Kazakhstan ke penyuling Eropa.

Pola inilah yang membedakan Juli dari bulan-bulan sebelumnya: minyak tidak bergerak karena data fundamental pasokan-permintaan yang biasa, melainkan menjadi barometer harian dari eskalasi dan deeskalasi geopolitik Timur Tengah.

 

Bagaimana Efek Minyak Merambat

Yang membuat minyak layak disebut sentimen paling dominan bukan cuma besaran pergerakannya sendiri, melainkan seberapa jauh getarannya menjalar ke aset lain.

Rupiah adalah salah satu korban paling nyata. Sepanjang pekan ketiga Juli, rupiah tertekan mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar, dengan kombinasi kenaikan harga minyak global dan spekulasi arah suku bunga The Fed disebut sebagai penggerak utama. Bahkan penguatan domestik seperti kinerja IHSG dan pertahanan peringkat utang Indonesia oleh S&P Global Ratings tak cukup menahan tekanan tersebut hingga rupiah sempat menembus Rp17.977.

Ekspektasi kebijakan The Fed pun ikut terseret. Ketika Brent melonjak ke 83 dolar pertengahan bulan, pasar langsung merevisi naik probabilitas kenaikan suku bunga The Fed — dari yang semula diperkirakan condong menahan, menjadi hampir 43 persen peluang kenaikan. Ini logika klasik: minyak naik, ekspektasi inflasi naik, bank sentral dipaksa lebih hawkish.

Emas, yang biasanya diuntungkan saat geopolitik memanas sebagai aset lindung nilai, justru sempat merosot 2,9 persen mendekati 4.000 dolar per ons di hari yang sama. Penyebabnya: penguatan dolar akibat perburuan aset aman ternyata lebih dominan dibanding daya tarik emas itu sendiri — sebuah anomali yang hanya bisa dijelaskan jika kita memahami minyak sebagai pemicu utamanya.

Bahkan bursa saham Amerika Serikat tak luput. Pekan ketiga Juli ditutup di zona negatif, dengan sentimen risiko yang memburuk akibat konflik geopolitik disebut sebagai salah satu faktor penekan, di tengah musim laporan keuangan kuartal kedua yang seharusnya menjadi fokus utama investor.

 

Minyak Sebagai Trigger; Kebijakan Fed Penentu

Jika kita hanya melihat pertengahan bulan, minyak memang tampak sebagai penggerak tunggal. Tapi menjelang akhir Juli, ceritanya bergeser. Dolar AS justru mencatat kinerja bulanan terburuknya sejak April 2026, turun lebih dari 1 persen — bukan karena minyak, melainkan karena kekhawatiran pasar terhadap kemampuan The Fed meredam inflasi, yang tecermin dari aksi jual obligasi yang cukup tajam.

Fokus pasar pun bergeser ke agenda FOMC 30 Juli, di mana The Fed diproyeksikan menahan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen dengan probabilitas sekitar 69 persen — meski sikap tegas Ketua The Fed Kevin Warsh terhadap inflasi tetap membuka peluang kejutan hawkish.

Dengan kata lain: minyak adalah “pemicu” (trigger) yang paling sering muncul dan paling cepat menular ke aset lain sepanjang bulan. Tapi kebijakan The Fed tetap menjadi “jangkar” (anchor) yang pada akhirnya menentukan arah dolar secara keseluruhan dalam horizon yang lebih panjang. Keduanya saling mengunci — dan justru interaksi antara keduanyalah yang membuat Juli 2026 begitu volatil.

 

Apa artinya bagi pelaku pasar Indonesia?

Bagi investor dan pelaku pasar domestik, ada tiga pelajaran yang bisa ditarik dari pola Juli ini.

Pertama, korelasi antara harga minyak dan pergerakan rupiah kini jauh lebih erat dibanding periode-periode tenang sebelumnya. Setiap eskalasi di Selat Hormuz kemungkinan besar akan langsung tecermin pada tekanan terhadap rupiah dalam hitungan hari, bukan minggu.

Kedua, sinyal dari pasar obligasi dan ekspektasi suku bunga The Fed tidak boleh diabaikan hanya karena headline geopolitik lebih ramai. Justru pergeseran ekspektasi Fed di akhir Juli menunjukkan bahwa faktor moneter domestik AS bisa membalikkan arah dolar secara mendadak, terlepas dari apa yang terjadi di Timur Tengah.

Ketiga, volatilitas semacam ini kemungkinan besar akan berlanjut ke Agustus, mengingat status gencatan senjata AS-Iran masih rapuh dan berulang kali dilanggar sepanjang Juli. Pelaku pasar sebaiknya bersiap menghadapi pola serupa: reli tajam saat eskalasi, koreksi cepat saat muncul harapan damai — sebuah siklus yang, sayangnya, belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.