Sejarah Inggris Menelusuri Jalan Melalui Zaman yang Gelap

45
Inggris

(Vibiznews-Kolom) Bayangkan seorang bangsawan Romano-Britania pada pertengahan abad keempat. Ia tinggal di suatu tempat di pedesaan subur yang kelak menjadi wilayah Inggris selatan, dekat dengan tanah-tanah milik yang hasil sewanya menopang gaya hidupnya. Rumahnya adalah sebuah vila pedesaan yang nyaman, tempat ia tinggal bersama keluarganya dan para budak yang melayani mereka. Ia berbicara dan membaca bahasa Latin, bahasa Kekaisaran Romawi, meskipun mungkin ia berbicara kepada para penyewa lahannya dalam bahasa Brittonik, bahasa Kelt dari Zaman Besi Britania. Sebagai warga negara Romawi, ia mengeluhkan pajak, tetapi memahami bahwa negara menjaga ketertiban. Perekonomian kekaisaran menyediakan pakaian, tembikar, anggur, rempah-rempah, dan buku-buku baginya.

Sekarang bayangkan seorang pria dengan status sosial yang setara, tinggal di tempat yang kurang lebih sama, sekitar 200 tahun kemudian. Ia adalah seorang kepala perang Anglo-Saxon. Ia tinggal di sebuah balai kayu yang berangin dengan lantai tanah yang dipadatkan, dikelilingi keluarganya dan para pengikut bersenjata. Ia berbicara dalam bahasa Inggris Kuno dan tidak dapat membaca maupun menulis, meskipun budayanya kaya akan puisi dan kisah-kisah kepahlawanan. Kekuasaan Romawi di Britania telah runtuh, dan wilayah itu kini menjadi kumpulan kerajaan-kerajaan kecil, di mana seluruh politik bersifat lokal dan peperangan berskala kecil terjadi terus-menerus. Ia hanyalah salah satu pelaku dalam lanskap yang terus berubah dan penuh bahaya. Para pedagang yang sesekali datang membawakannya barang-barang logam dan budak, tetapi tidak banyak lagi selain itu.

Dalam bukunya yang luar biasa, How England Began, Nicholas J. Higham mengisahkan bagaimana bangsawan Romano-Britania digantikan oleh kepala perang Anglo-Saxon. Seperti yang dikemukakan Higham, pemahaman kita mengenai perubahan Britania Romawi menjadi Inggris dipenuhi berbagai kendala bukti. Sangat sedikit sumber tertulis yang mencatat peristiwa-peristiwa di Britania antara runtuhnya kekuasaan Romawi pada awal abad kelima dan pertobatan bangsa Anglo-Saxon kepada agama Kristen yang dimulai sekitar tahun 600. Arkeologi memang lebih membantu, tetapi peralihan dari ekonomi Romawi—yang menghasilkan tembikar murah dalam jumlah besar dan banyak koin—ke ekonomi awal Abad Pertengahan yang hampir tidak memiliki keduanya, membuat kita kehilangan banyak bahan sejarah yang biasanya digunakan. Inilah benar-benar sebuah Zaman Kegelapan, setidaknya dalam arti bahwa kita mengetahui sangat sedikit tentang masa tersebut.

Higham, profesor emeritus sejarah di Universitas Manchester, membimbing pembaca melewati medan yang sulit ini. Setelah memberikan gambaran umum mengenai Britania Romawi, ia menyajikan uraian yang cermat tentang bagaimana kekuasaan kekaisaran di pulau tersebut tersapu oleh periode kacau yang dipenuhi perang saudara dan invasi bangsa-bangsa barbar. Pada tahun 407, pasukan Romawi di Britania yang sudah lama tidak menerima gaji memberontak dengan mengangkat seorang prajurit biasa sebagai Kaisar Konstantinus III. Kaisar baru ini memimpin pasukannya ke Galia dalam upaya merebut kekuasaan tertinggi, tetapi akhirnya dikalahkan dan dihukum mati pada tahun 411. Setelah itu tidak ada lagi upaya serius untuk memulihkan kekuasaan kekaisaran di pulau tersebut. Britania Romawi tidak benar-benar berakhir secara tiba-tiba, melainkan perlahan-lahan memudar.

Dalam beberapa dekade setelah Konstantinus III, terjadi perubahan besar dalam kehidupan ekonomi dan sosial. Industri manufaktur runtuh, dan sisa-sisa terakhir kehidupan perkotaan pun lenyap. Namun demikian, ada pula unsur-unsur yang tetap bertahan. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa tidak terjadi penyusutan besar dalam luas lahan yang digarap untuk pertanian. Higham berpendapat bahwa sistem politik dan administrasi bergaya Romawi masih berlanjut untuk beberapa waktu, sehingga, menurutnya, “tidak memberi ruang bagi semacam partai revolusioner kaum pekerja Romawi Akhir untuk merebut kekuasaan.”

Higham menegaskan pentingnya sedikit sumber tertulis yang kita miliki. Meski memiliki banyak keterbatasan, tulisnya, “teks memiliki keunggulan yang sangat penting karena berawal dari kata-kata. Gigi, tembikar, dan benda-benda lainnya tidak demikian.” Tokoh yang paling mendekati sejarawan sezaman adalah Gildas, seorang Briton yang kemungkinan menulis pada paruh pertama abad keenam. Gildas adalah sosok yang menarik sekaligus sulit dipahami. Higham meyakini bahwa ia tinggal di wilayah yang kini menjadi Inggris barat daya. Ia merupakan hasil didikan kaum elite pemilik tanah bergaya Romawi yang bertahan dengan gigih di kawasan tersebut. Tampaknya ia termasuk dalam kelompok orang Briton terpelajar yang saling berdebat mengenai cara menghadapi berbagai persoalan yang mereka hadapi—terutama ancaman bangsa Saxon yang menyerbu.

Dalam Concerning the Ruin of Britain, Gildas mengambil peran sebagai seorang nabi Perjanjian Lama, menyampaikan kecaman keras terhadap dosa-dosa sesama bangsa Briton dan menyerukan agar mereka bertobat supaya dapat mengalahkan musuh-musuh Saxon mereka. Sebagaimana dijelaskan Higham, Gildas membandingkan Britania pasca-Romawi dengan Israel kuno, sambil mendorong bangsanya untuk “memperbarui perjanjian mereka dengan Allah sehingga memperoleh kembali perkenan-Nya dan, sebagai akibatnya, merebut kembali tanah air leluhur mereka.” Di sela-sela pesan religiusnya, ia juga menyampaikan beberapa potongan informasi sejarah dari masa itu, termasuk penyebutan Pertempuran Badon (sekitar tahun 500), kemenangan bangsa Briton atas bangsa Saxon.

Selain Gildas, sumber tertulis utama untuk periode tersebut adalah dua surat Santo Patrick yang masih bertahan, kemungkinan dikirim pada pertengahan abad kelima, serta Ecclesiastical History of the English People karya Bede yang diselesaikan pada tahun 731. Santo Patrick memberikan gambaran yang hidup mengenai praktik perbudakan dan pekerjaan misionaris di wilayah sekitar Laut Irlandia. Sementara itu, Bede tampaknya sering kali tidak mengetahui lebih banyak daripada yang kita ketahui sekarang. Gildas merupakan sumber utamanya.

Higham menyoroti besarnya arus migrasi dari Eropa barat laut menuju Inggris bagian timur setelah runtuhnya kekuasaan Romawi. Menurutnya, bangsa Saxon membawa “sebuah paket budaya, bahasa, dan ideologi yang utuh.” Mereka mengkremasi jenazah, berbicara dalam bahasa-bahasa Jermanik yang menjadi nenek moyang bahasa Inggris Kuno, dan menganut kepercayaan pagan. Higham menerima bahwa para pendatang ini menaklukkan beberapa wilayah dengan kekerasan. Meskipun ia mengakui bahwa “penaklukan dan kolonisasi” sebagian besar Britania dataran rendah oleh bangsa Saxon mendorong perubahan wilayah itu menjadi Inggris, ia menunjukkan bahwa proses tersebut jauh lebih rumit dan berlangsung lebih lama daripada yang sering dibayangkan.

Buku ini padat, memuat begitu banyak pemikiran dan argumentasi. Pada beberapa bagian, isinya cukup menantang sehingga pembaca mungkin akan lebih mudah memulai dari sintesis yang elegan pada bab terakhir karya Higham sebelum kembali menelusuri bagaimana ia sampai pada kesimpulan tersebut. Namun, bagi mereka yang tekun membacanya hingga selesai, imbalannya sama kayanya dengan perekonomian kekaisaran yang dahulu memasok berlimpah barang-barang mewah kepada bangsawan Romano-Britania.