Indonesia Menjaga Momentum di Tengah Perlambatan Ekonomi Dunia

46
Bank Dunia

(Vibiznews-Kolom) Perekonomian global kembali memasuki periode yang penuh ketidakpastian. Setelah beberapa tahun berupaya pulih dari dampak pandemi COVID-19, dunia kembali dihadapkan pada guncangan baru akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik tersebut tidak hanya memengaruhi stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang pasar energi, perdagangan internasional, dan sistem keuangan global. Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,5 persen pada 2026, turun dari 2,9 persen pada 2025. Angka tersebut menjadi laju pertumbuhan terendah sejak pandemi apabila tidak memperhitungkan periode resesi, sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi global kembali kehilangan momentum.

Perlambatan tersebut dipicu oleh kombinasi berbagai faktor yang saling memperkuat. Gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk mendorong lonjakan harga minyak mentah, gas alam, serta pupuk yang menjadi komponen penting dalam aktivitas ekonomi dunia. Pada saat yang sama, inflasi kembali meningkat sehingga memaksa bank sentral di berbagai negara mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Biaya pembiayaan yang semakin mahal kemudian menekan investasi, memperlambat ekspansi dunia usaha, serta mengurangi konsumsi masyarakat. Kondisi tersebut menciptakan tekanan yang hampir merata, baik bagi negara maju maupun negara berkembang yang bergantung pada impor energi.

Di tengah situasi global yang memburuk tersebut, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,0 persen pada 2026, kemudian meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan 2028. Proyeksi tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 2,5 persen maupun rata-rata negara berkembang yang diperkirakan hanya tumbuh 3,6 persen pada tahun yang sama. Bahkan ketika sebagian besar kawasan mengalami revisi penurunan proyeksi pertumbuhan, Indonesia masih mampu mempertahankan laju ekspansi di kisaran lima persen.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia memiliki tingkat ketahanan yang lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Berbeda dengan negara yang sangat bergantung pada ekspor manufaktur atau impor energi, pertumbuhan Indonesia masih ditopang oleh permintaan domestik yang besar. Konsumsi rumah tangga, investasi swasta, pembangunan infrastruktur, serta aktivitas sektor jasa tetap menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Diversifikasi sumber pertumbuhan inilah yang membuat guncangan eksternal tidak langsung menghambat aktivitas ekonomi secara signifikan.

Meski demikian, Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap gejolak internasional. Bank Dunia memperkirakan harga minyak Brent akan mencapai rata-rata US$94 per barel sepanjang 2026, meningkat sekitar 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, indeks harga energi dunia diperkirakan melonjak hampir 40 persen, sementara indeks harga komoditas secara keseluruhan meningkat hampir 29 persen dibandingkan proyeksi sebelumnya. Kenaikan harga tersebut akan meningkatkan biaya transportasi, logistik, produksi industri, hingga harga pangan melalui kenaikan biaya pupuk dan distribusi.

Bagi Indonesia, tekanan tersebut memiliki dua sisi yang berbeda. Sebagai negara penghasil berbagai komoditas, kenaikan harga sebagian produk primer dapat meningkatkan nilai ekspor dan penerimaan negara. Namun di sisi lain, Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan beberapa produk energi sehingga lonjakan harga minyak dunia akan meningkatkan beban subsidi energi maupun biaya impor. Apabila harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama, ruang fiskal pemerintah berpotensi menyempit sehingga kemampuan membiayai pembangunan dapat ikut terpengaruh.

Tekanan juga datang dari sektor perdagangan internasional. Meskipun Bank Dunia mencatat bahwa investasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) masih menopang sebagian aktivitas perdagangan global, konflik geopolitik menyebabkan arus perdagangan komoditas strategis menjadi lebih rentan. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, misalnya, menghambat pasokan energi dunia sekaligus meningkatkan biaya pengiriman internasional. Negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan kawasan tersebut harus menanggung biaya logistik yang lebih tinggi, sementara ketidakpastian pasar menyebabkan dunia usaha cenderung menunda ekspansi investasi.

Dalam kondisi seperti itu, kestabilan ekonomi domestik menjadi faktor yang sangat menentukan. Indonesia memiliki keuntungan berupa pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Ketika permintaan eksternal melemah, konsumsi dalam negeri tetap mampu menjaga aktivitas ekonomi. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang terus berlangsung selama beberapa tahun terakhir telah memperbaiki konektivitas logistik dan meningkatkan efisiensi distribusi barang antardaerah. Faktor-faktor tersebut menjadi penyangga penting agar perlambatan ekonomi global tidak langsung diterjemahkan menjadi perlambatan ekonomi nasional.

Namun tantangan yang lebih besar justru berasal dari sisi fiskal. Dalam laporan yang sama, Bank Dunia menegaskan bahwa utang pemerintah di banyak negara berkembang telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah modern. Peningkatan utang tersebut mendorong kenaikan suku bunga obligasi pemerintah sehingga biaya pinjaman semakin mahal. Ketika beban pembayaran bunga meningkat, anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, atau mendorong investasi produktif justru terserap untuk membayar kewajiban utang. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi negara-negara berkembang dalam beberapa tahun ke depan.

Bagi Indonesia, pengelolaan fiskal yang hati-hati menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor. Rasio utang pemerintah yang relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara berkembang memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan antisipatif apabila tekanan ekonomi global semakin meningkat. Namun ruang tersebut tidak boleh dianggap sebagai alasan untuk meningkatkan belanja secara berlebihan. Sebaliknya, disiplin fiskal harus tetap dipertahankan agar stabilitas ekonomi makro tetap terjaga ketika ketidakpastian global masih berlangsung.

AI, Investasi, dan Peluang Indonesia Memimpin Kawasan

Di tengah berbagai risiko yang membayangi perekonomian dunia, Bank Dunia melihat masih terdapat sumber optimisme yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan global dalam dekade berikutnya, yaitu percepatan adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini diperkirakan tidak hanya meningkatkan efisiensi proses produksi, tetapi juga mampu mempercepat inovasi, mendorong produktivitas tenaga kerja, serta menciptakan model bisnis baru di berbagai sektor ekonomi. Menurut Bank Dunia, apabila AI berkembang secara optimal dan diikuti dengan peningkatan produktivitas yang berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi global pada dekade 2030 bahkan berpotensi melampaui rata-rata pertumbuhan yang terjadi pada dekade 2000-an. Namun, manfaat tersebut tidak akan diperoleh secara otomatis. Negara yang tidak memiliki infrastruktur digital, kapasitas komputasi, kualitas sumber daya manusia, maupun ekosistem inovasi yang memadai justru berisiko semakin tertinggal dibandingkan negara-negara yang lebih siap mengadopsi teknologi tersebut.

Bagi Indonesia, perkembangan AI merupakan peluang sekaligus tantangan strategis. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia memiliki pasar digital yang terus berkembang dan didukung oleh meningkatnya penetrasi internet, penggunaan telepon pintar, serta transformasi layanan digital di berbagai sektor. Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi telah mendorong pertumbuhan perdagangan elektronik, layanan keuangan digital, transportasi daring, hingga berbagai aplikasi berbasis komputasi awan. Fondasi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan pemanfaatan AI secara lebih luas, baik dalam sektor manufaktur, pertanian, kesehatan, pendidikan, maupun layanan publik. Namun, agar manfaatnya benar-benar dirasakan, investasi pada pusat data, jaringan telekomunikasi, riset, pendidikan tinggi, dan pengembangan talenta digital harus berjalan lebih cepat daripada laju perubahan teknologi itu sendiri.

Bank Dunia juga mengingatkan bahwa produktivitas ekonomi dunia telah mengalami perlambatan selama lebih dari dua dekade terakhir. Pertumbuhan produktivitas yang melemah menjadi salah satu penyebab utama rendahnya potensi pertumbuhan ekonomi global. Dalam konteks tersebut, AI dipandang sebagai teknologi yang mampu membalikkan tren perlambatan produktivitas apabila penerapannya didukung oleh kebijakan yang tepat. Oleh sebab itu, negara-negara berkembang tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu membangun kapasitas inovasi, memperkuat penelitian, serta mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Selain transformasi digital, investasi tetap menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam laporan tersebut, Bank Dunia menegaskan bahwa perlambatan ekonomi global akan mengurangi minat investasi apabila ketidakpastian geopolitik, inflasi, dan biaya pembiayaan terus meningkat. Karena itu, pemerintah di berbagai negara didorong untuk menciptakan lingkungan usaha yang lebih kondusif, memperkuat kepastian hukum, meningkatkan kualitas regulasi, serta memobilisasi investasi swasta sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Infrastruktur fisik, modal manusia, dan modal digital disebut sebagai tiga fondasi utama yang harus terus diperkuat untuk menjaga daya saing ekonomi.

Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan rekomendasi tersebut. Pembangunan kawasan industri, hilirisasi sumber daya alam, pengembangan energi baru terbarukan, serta percepatan pembangunan infrastruktur logistik dapat menjadi magnet bagi investasi domestik maupun asing. Dalam beberapa tahun terakhir, reformasi regulasi melalui penyederhanaan perizinan dan peningkatan kemudahan berusaha telah memberikan sinyal positif bagi investor. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, melainkan juga oleh kualitas investasi tersebut dalam menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas industri nasional, serta mendorong transfer teknologi.

Di tingkat regional, posisi Indonesia juga relatif lebih kuat dibandingkan beberapa negara di Asia. Proyeksi Bank Dunia menunjukkan bahwa pertumbuhan Indonesia sebesar 5,0 persen pada 2026 berada jauh di atas Thailand yang diperkirakan hanya tumbuh 1,7 persen, sekaligus melampaui rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diproyeksikan sebesar 4,2 persen. Walaupun pertumbuhan Indonesia sedikit berada di bawah India yang diperkirakan mencapai 6,6 persen, stabilitas ekonomi nasional tetap menjadi salah satu yang paling konsisten di antara negara-negara ekonomi besar berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah pelemahan ekonomi internasional.

Meskipun demikian, berbagai risiko eksternal masih perlu diantisipasi. Bank Dunia memperingatkan bahwa apabila konflik di Timur Tengah kembali meningkat atau gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama dari perkiraan, pertumbuhan ekonomi global dapat merosot hingga hanya 1,3 persen pada 2026. Skenario tersebut akan disertai dengan inflasi yang lebih tinggi, tekanan terhadap pasar keuangan, meningkatnya kerawanan pangan, serta pelemahan aktivitas perdagangan internasional. Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan, bencana terkait perubahan iklim, dan potensi gejolak di pasar keuangan global.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian tersebut, ketahanan ekonomi Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada kondisi eksternal yang membaik. Penguatan fondasi domestik harus tetap menjadi prioritas utama melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja, percepatan industrialisasi bernilai tambah, penguatan ketahanan pangan dan energi, reformasi birokrasi, serta pembangunan sumber daya manusia. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia juga harus dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan agar mampu memenuhi kebutuhan industri modern yang semakin berbasis teknologi.

Laporan Global Economic Prospects Juni 2026 memberikan pesan yang jelas bahwa dunia sedang memasuki fase pertumbuhan yang lebih lambat dengan tingkat risiko yang semakin tinggi. Namun, di tengah perlambatan tersebut, Indonesia masih memiliki peluang untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen apabila mampu menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat disiplin fiskal, meningkatkan kualitas investasi, serta mempercepat transformasi digital. Ketahanan ekonomi Indonesia bukan semata-mata lahir karena besarnya pasar domestik, tetapi juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam memanfaatkan perubahan global menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing nasional. Apabila fondasi tersebut terus diperkuat, Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi perlambatan ekonomi dunia, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan utama di kawasan Asia pada dekade mendatang.