(Vibiznews – Forex) Mata uang Euro berakhir turun pada akhir pakan hari Jumat, tertekan kenaikan harga minyak.
Pasangan mata uang EUR/USD berakhir turun 0,03% pada 1.1439.
Lonjakan harga minyak mentah menekan Euro pada hari Jumat, setelah minyak mentah WTI melonjak lebih dari +4% ke level tertinggi 5 minggu, yang negatif bagi ekonomi Zona Euro dan euro, karena Eropa mengimpor sebagian besar energinya.
Pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar +25 basis poin oleh ECB sebesar +8% pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 23 Juli.
Siang hari nanti akan dirilis data PPI Juni Jerman yang diindikasikan menurun.
Ketegangan AS-Iran kembali meningkat di akhir pekan. Pasukan Amerika pada hari Minggu melakukan serangan malam kedelapan berturut-turut terhadap Iran sebagai balasan atas serangan Iran dan untuk mencoba menjamin jalur aman di Selat Hormuz.
“Pasukan CENTCOM berhasil menyerang fasilitas pengawasan pantai dan pertahanan udara militer Iran, kemampuan maritim, dan lokasi penyimpanan rudal dan pesawat tak berawak untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
“Militer Amerika juga menargetkan pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer AS di Yordania pada 17 Juli,” tambahnya.
Ketegangan militer di Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan safe haven dolar AS.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Euro dapat bergerak turun terbebani penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak. Juga jika data PPI Juni Jerman terealisir turun, akan menekan Euro. Pasangan mata uang EUR/USD diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 1.1425-1.1412. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 1.1452-1.1466.








