Rekomendasi Harga Kopi Arabika 28 Juli 2026 : Naik Terpicu Hambatan Panen di Brasil

39

(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir melonjak tajam pada perdagangan hari Selasa (28 Juli 2026), didorong oleh kekhawatiran pasokan yang memburuk secara mendadak akibat anomali cuaca di negara produsen utama.

Harga kopi arabika berjangka kontrak acuan September 2026 ditutup melonjak tajam sebesar 3,43% atau naik 10,75 poin ke level 324,55 sen dolar AS per pon (sekitar $3,24 per pon). Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang harian 318,50 hingga 327,00 sen per pon.

Lonjakan harga yang signifikan ini berhasil membalikkan tren penurunan pada pekan lalu, sekaligus mendorong harga kopi arabika kembali bertengger di level tertinggi dalam setengah bulan terakhir. Secara bulanan, harga komoditas ini telah mencatatkan penguatan impresif sebesar 16,32% yang utamanya dipicu oleh tingginya volatilitas cuaca ekstrem.

Faktor utama pemicu lonjakan harga hari ini berasal dari anomali cuaca hujan ekstrem di Brasil. Lembaga cuaca Somar Meteorologia melaporkan bahwa curah hujan di wilayah Minas Gerais, yang merupakan kawasan produsen kopi terbesar Brasil, mencapai 32,4 mm dalam sepekan terakhir. Angka curah hujan ini setara dengan 2.700% di atas rata-rata historisnya, yang seketika melumpuhkan aktivitas pemetikan dan penjemuran biji kopi di lapangan.

Akibat gangguan cuaca tersebut, laju panen kopi Brasil untuk musim 2026/2027 dilaporkan tertinggal jauh dan baru mencapai 64%. Realisasi ini sangat tertinggal dibandingkan laju panen tahun lalu yang mencapai 77% serta rata-rata historis lima tahunan yang berada di kisaran 70%.

Dukungan harga juga datang dari kondisi persediaan di gudang pemantauan ICE yang semakin kritis. Stok kopi arabika bersertifikat terus menyusut tajam hingga merosot menembus ke bawah batas psikologis 300.000 karung, dan saat ini tercatat hanya tersisa 292.810 karung. Menipisnya ketersediaan stok fisik ini membuat pergerakan harga menjadi sangat sensitif terhadap kepanikan di pasar.

Lonjakan harga di bursa berjangka ini semakin diperparah oleh aksi penutupan posisi atau short covering. Langkah agresif dari para manajer dana investasi (hedge funds) dan spekulan yang melakukan pembelian massal untuk menutup posisi short mereka, setelah melihat nyata adanya hambatan panen fisik di lapangan, turut mengerek harga melambung tinggi.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai kondisi kontras dalam jangka panjang yang dapat menjadi titik buta atau blind spot bagi investor. Laporan terbaru dari Foreign Agricultural Service USDA memproyeksikan bahwa total produksi kopi Brasil untuk siklus penuh 2026/2027 sebenarnya berpotensi melonjak 14% mencapai 71,9 juta karung, berkat siklus panen dua tahunan (biennial cycle) yang positif. Apabila cuaca di Brasil kembali membaik dan mengering pada bulan depan, potensi surplus global ini dapat memicu pembalikan arah harga secara drastis di masa mendatang.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika dapat terus bergerak fluktuatif cenderung menguat merespons hambatan panen akibat anomali cuaca di Brasil serta kritisnya persediaan fisik di bursa. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $3.18-$3.15. Namun jika terus melanjutkan kenaikannya, harga akan bergerak dalam kisaran Resistance $3.27-$3.30.