(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah berakhir melonjak tajam pada hari Rabu dengan berlanjut kembali ketegangan di Timur Tengah, yang mengancam pasokan energi global.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS berakhir melonjak tajam 6,56% pada $84,46 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir melonjak tajam 7,32% pada $88,09 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah meningkat pada hari Rabu setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan “menghantam Iran dengan keras” setelah serangan baru-baru ini dari Iran yang menargetkan pangkalan AS di Yordania.
Harga minyak mentah melesat ke level tertinggi setelah persediaan minyak mentah mingguan EIA secara tak terduga turun ke level terendah dalam 7,75 tahun dan setelah pasokan minyak mentah di Cushing turun ke level terendah dalam hampir 12 tahun.
Harga minyak mentah melonjak pada hari Rabu setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan telah menargetkan pangkalan udara dan pusat komando AS di Yordania dengan rudal balistik. IRGC juga mengklaim telah mengenai dan menghentikan tiga kapal tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, AS dan Arab Saudi melancarkan serangan gabungan terhadap “teroris yang bersekutu dengan Iran” di Irak setelah IRGC mengarahkan mereka untuk menargetkan pasukan AS dan infrastruktur energi Saudi.
Ketegangan tetap tinggi di Timur Tengah karena AS mempertahankan blokade pengiriman minyak Iran di Teluk Persia. Upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz juga tampaknya menemui jalan buntu. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Gharibabadi mengatakan proposal Oman untuk rute melalui Selat Hormuz, dengan 50% di bawah kendali Iran dan 50% di bawah kendali Oman, tidak akan mengatasi kekhawatiran Iran dan bahwa jalur masuk dan sebagian jalur keluar harus sepenuhnya di bawah kendali Iran.
Laporan mingguan EIA pada hari Rabu menunjukkan hasil yang beragam untuk minyak mentah dan produknya. Di sisi positif, persediaan minyak mentah EIA secara tak terduga turun -7,17 juta barel ke level terendah dalam 7,75 tahun dibandingkan dengan ekspektasi peningkatan +1,0 juta barel. Selain itu, pasokan minyak mentah di Cushing, titik pengiriman untuk kontrak berjangka WTI, turun -771.000 barel ke level terendah dalam hampir 12 tahun.
Malam nanti akan dirilis data PCE Price Index Juni AS dan Core PCE Price Index Juni AS yang diindikasikan menurun.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak mentah dapat bergerak naik seiring meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran di Timur Tengah. Namun perlu diwaspadai aksi profit taking setelah harga minyak melonjak tinggi. Juga jika data PCE Price Index Juni AS dan Core PCE Price Index Juni AS terealisir menurun dan menekan dolar AS, akan menaikkan harga minyak.
Harga minyak mentah berjangka WTI diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $85,16-$82,24. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $89,80-$91,52.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $84,90-$87,71. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance $79,97-$77,85.








