(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia ditutup melemah pada perdagangan terakhir akhir pekan, Jumat waktu Amerika Serikat atau Sabtu (29/8/2026) pagi WIB. Kedua tolok ukur komoditas energi utama dunia ini juga mencatatkan kerugian mingguan yang cukup dalam, seiring memudarnya premi risiko geopolitik di Selat Hormuz serta prospek kebijakan suku bunga ketat yang digaungkan oleh Ketua Federal Reserve baru, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole.
Berdasarkan data penutupan perdagangan hari ini, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent ditutup melemah 0,43 persen ke level 89,31 dolar AS per barel. Secara mingguan, Brent tercatat turun lebih dari 5 persen. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 0,16 persen ke level 83,40 dolar AS per barel, dengan pelemahan mingguan yang mencapai lebih dari 4 persen. Kerugian mingguan yang cukup dalam pada kedua patokan harga minyak ini menandai pembalikan arah setelah tren bullish yang sempat mendominasi pasar selama beberapa pekan sebelumnya.
Pelemahan harga hari ini utamanya dipicu oleh meredanya premi risiko di Selat Hormuz, setelah pasar mulai meyakini bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini lebih mengarah pada ranah konfrontasi ekonomi melalui sanksi, ketimbang ancaman fisik langsung terhadap jalur distribusi minyak. Rumor mengenai kesepakatan kerangka kerja pembagian pendapatan transportasi laut antara Iran dan Oman turut memperbaiki kelancaran arus kapal tanker di selat tersebut, sehingga mengikis sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani harga.
Sentimen hawkish dari bank sentral AS turut menambah tekanan pada harga minyak. Pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga lanjutan di sisa tahun 2026 guna menekan inflasi ke target 2 persen. Suku bunga yang tinggi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan pada gilirannya menekan proyeksi permintaan minyak mentah dunia, sehingga turut memperberat sentimen bearish yang telah terbentuk dari sisi pasokan.
Dari sisi fundamental pasokan, estimasi Goldman Sachs menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia telah merangkak naik ke level 15 hingga 16 juta barel per hari. Meski angka tersebut masih berada jauh di bawah level sebelum konflik yang berkisar 22 hingga 24 juta barel per hari, capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan titik terendah yang tercatat pada bulan Maret lalu, sehingga mengonfirmasi bahwa pemulihan arus pasokan dari kawasan Teluk terus berlanjut secara bertahap.
Analisa Teknikal
Secara teknikal, minyak mentah WTI yang ditutup di level 83,40 dolar AS per barel menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut, setelah mengonfirmasi tren pelemahan mingguan yang mencapai lebih dari 4 persen. Selama harga tertahan di bawah pivot point saat pasar kembali dibuka pekan depan, tekanan bearish berpotensi berlanjut menuju support 1 di kisaran 82,30 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di support 2 pada area psikologis 81,00 dolar AS per barel apabila sentimen hawkish The Fed terus membayangi prospek permintaan energi global. Sebaliknya, apabila muncul aksi beli menyusul kondisi jenuh jual, resistance 1 berada di kisaran 84,50 dolar AS per barel sebagai batas atas terdekat, dengan resistance 2 di area 85,80 dolar AS per barel sebagai ujian bagi potensi pembalikan tren jangka pendek.
Untuk minyak mentah Brent, dengan harga ditutup melemah ke level 89,31 dolar AS per barel, pivot point harian berada di kisaran level tersebut. Selama harga tertahan di bawah pivot point, potensi pelemahan lanjutan dapat mengarah ke support 1 di kisaran 88,00 dolar AS per barel, dengan support 2 di area psikologis 86,50 dolar AS per barel sebagai lantai pertahanan berikutnya jika pemulihan pasokan dari Teluk Persia terus berlanjut. Sementara itu, resistance 1 berada di kisaran 90,50 dolar AS per barel, dengan resistance 2 di area 92,00 dolar AS per barel sebagai target apabila muncul kembali gangguan tak terduga terhadap kelancaran arus kapal di Selat Hormuz.
Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak saat pasar kembali dibuka pekan depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan kesepakatan kerangka kerja Iran-Oman terkait Selat Hormuz, sinyal kebijakan suku bunga lanjutan dari Federal Reserve pascasimposium Jackson Hole, serta laju pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia yang akan menjadi penentu arah pasokan global dalam beberapa pekan mendatang.








