(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika dunia bergerak melemah pada perdagangan hari ini, Selasa, 1 September 2026. Kontrak berjangka arabika melanjutkan tren penurunan dari akhir pekan lalu ke level terendah dalam beberapa minggu terakhir seiring meredanya kekhawatiran pasokan dari Brasil.
Pergerakan harga kopi arabika hari ini terpantau bergerak di kisaran 3,12 hingga 3,14 dolar AS per pon untuk kontrak pengiriman Desember 2026 di bursa ICE New York. Harga ini turun sekitar 4 persen dibandingkan puncak reli pada pertengahan Agustus lalu, namun masih bertahan di level psikologis yang cukup tinggi. Secara teknikal, penurunan ini dipicu oleh aksi ambil untung melalui likuidasi posisi beli oleh para spekulator, setelah harga gagal menembus level resisten kuat akibat bertambahnya pasokan fisik di gudang komoditas.
Tekanan jual terbesar pada perdagangan kali ini datang dari melimpahnya pasokan hasil panen raya Brasil. Kondisi cuaca yang kering mempercepat akselerasi panen kopi musim 2026/2027, hingga gudang-gudang penyimpanan di Brasil dilaporkan penuh dan mulai membatasi penerimaan stok baru. Kondisi ini memaksa para petani untuk mempercepat penjualan hasil panen mereka ke pasar spot.
Meski demikian, penurunan harga kopi arabika hari ini tertahan dari kejatuhan yang lebih dalam berkat stok sertifikasi ICE yang masih sangat kritis. Persediaan kopi bersertifikat di bursa ICE global masih tertahan di dekat level terendah dalam 26 tahun terakhir, yakni sekitar 224.011 kantong. Ketatnya cadangan fisik ini membuat pasar tetap sensitif terhadap potensi gangguan pasokan sekecil apa pun.
Sentimen jangka menengah pasar arabika juga masih dibayangi oleh laporan Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA, yang memproyeksikan total produksi kopi global untuk musim 2026/2027 akan naik 6 persen menjadi rekor 189,7 juta kantong, dengan lonjakan produksi arabika dunia diperkirakan tumbuh hingga 12 persen secara tahunan.
Selain faktor fundamental pasokan, harga kopi arabika turut terimbas oleh ketegangan makro global. Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz yang melambungkan harga minyak mentah ikut memengaruhi pergerakan pasar komoditas lunak. Penguatan indeks dolar AS akibat ekspektasi kebijakan ketat dari Federal Reserve membuat harga komoditas yang dinilai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi para pembeli dengan mata uang asing.
Di pasar fisik Indonesia, harga green bean arabika lokal seperti Arabika Gayo dan Mandheling terpantau masih stabil tinggi di kisaran Rp118.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Harga lokal mendapat perlindungan dari kuatnya permintaan industri coffee shop domestik serta premiumnya kualitas kopi spesialti Indonesia di mata para importir luar negeri. Sementara itu, pelemahan Rupiah terhadap dolar AS yang dipicu sentimen global justru memberikan keuntungan bagi para eksportir kopi nasional saat mengonversi pendapatan ekspor mereka kembali ke mata uang lokal.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kopi arabika ke depan masih akan diwarnai oleh tarik-menarik antara melimpahnya pasokan dari panen raya Brasil dan proyeksi rekor produksi global yang menekan harga, melawan ketatnya stok sertifikasi ICE serta sentimen ketegangan geopolitik yang menopang harga, sehingga harga arabika berpotensi bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.








