The Fed Beri Sinyal Dovish, Pasar Kini Menanti Data Ketenagakerjaan

47

Pasar keuangan global akhirnya mendapat sedikit ruang untuk bernapas setelah komentar dovish dari Gubernur Federal Reserve Christopher Waller meredakan sebagian kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada September.

Namun, kelegaan tersebut belum berarti tekanan di pasar suku bunga berakhir. Investor masih menghadapi satu rangkaian data ekonomi penting yang dapat mengubah kembali ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat menjadi perhatian utama. Setelah pasar merespons positif pernyataan Waller, laporan non-farm payrolls yang dirilis Jumat menjadi salah satu indikator paling menentukan sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September.

Pasar kini berada dalam situasi yang sangat sensitif terhadap data. Setiap kejutan positif atau negatif dari indikator ekonomi dapat dengan cepat mengubah ekspektasi terhadap keputusan The Fed.

Kondisi tersebut menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “short sigh of relief”—tarikan napas lega yang hanya berlangsung sejenak.

Waller Redakan Tekanan, Tetapi Belum Mengubah Arah Sepenuhnya

Komentar Waller memberikan sinyal bahwa The Fed belum sepenuhnya terkunci pada skenario kenaikan suku bunga.

Waller menyatakan dirinya cenderung mempertahankan suku bunga pada pertemuan September apabila data inflasi terus menunjukkan perkembangan yang meyakinkan. Ia menilai sejumlah indikator mulai memperlihatkan tanda-tanda disinflasi, sehingga bank sentral masih memiliki alasan untuk menunggu sebelum melakukan penyesuaian kebijakan.

Namun, Waller juga menegaskan pentingnya data yang akan keluar dalam dua pekan menjelang pertemuan FOMC, terutama laporan inflasi Agustus.

Dengan demikian, pesan yang disampaikan bukanlah bahwa kenaikan suku bunga telah dikesampingkan. Sebaliknya, keputusan The Fed tetap sangat bergantung pada data.

Sikap tersebut sedikit berbeda dari nada yang sebelumnya muncul setelah pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole. Setelah pidato tersebut, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa kenaikan suku bunga pada September menjadi skenario yang lebih dominan.

Komentar Waller kemudian memberikan sedikit penyeimbang.

Probabilitas kenaikan suku bunga yang sebelumnya meningkat pun kembali bergerak turun. Namun, perubahan tersebut tidak berlangsung sepenuhnya karena pasar menyadari bahwa masih ada dua data penting yang dapat menentukan arah kebijakan: tenaga kerja dan inflasi.

Data Ekonomi Kembali Menjadi Penggerak Utama Pasar

Setelah komentar Waller, perhatian investor beralih kepada laporan ketenagakerjaan AS.

Data Juli memberikan sinyal yang cukup lemah. Non-farm payrolls justru turun 23 ribu, sementara tingkat pengangguran berada di 4,1%. Data tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum.

Untuk Agustus, ekonom memperkirakan penciptaan lapangan kerja kembali positif. Konsensus berada di sekitar 55-56 ribu pekerjaan, dengan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,1%.

Angka tersebut memang menunjukkan perbaikan dibandingkan kontraksi pada Juli. Namun, secara historis, pertumbuhan pekerjaan sebesar itu masih tergolong moderat.

Inilah yang membuat laporan payrolls menjadi sangat penting.

Jika pertumbuhan tenaga kerja ternyata jauh lebih lemah dari perkiraan, pasar dapat kembali meningkatkan taruhan bahwa The Fed akan memilih mempertahankan suku bunga. Sebaliknya, angka yang jauh lebih kuat dapat menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih cukup besar untuk membutuhkan pengetatan tambahan.

Ekonom bahkan memperkirakan bahwa angka payrolls di bawah 25 ribu, atau bahkan kehilangan pekerjaan secara neto, dapat menjadi salah satu kondisi yang cukup kuat untuk mendorong The Fed menunda kenaikan suku bunga.

Namun, data tenaga kerja saja tidak cukup.

Payrolls dan Inflasi Jadi Penentu Arah The Fed

Setelah payrolls, perhatian pasar akan segera beralih kepada data inflasi.

Bagi The Fed, perkembangan inflasi tetap menjadi faktor utama dalam menentukan apakah suku bunga perlu dinaikkan atau dipertahankan.

Waller sendiri memberikan sinyal bahwa apabila tren disinflasi terus berlanjut, ia akan lebih nyaman mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Sebaliknya, jika data inflasi kembali menunjukkan tekanan yang lebih kuat, ruang untuk kenaikan suku bunga tetap terbuka.

Karena itu, kombinasi antara data ketenagakerjaan dan inflasi menjadi sangat penting.

Payrolls yang lemah tetapi inflasi tetap tinggi dapat menempatkan The Fed dalam posisi sulit. Bank sentral harus menimbang risiko pelemahan pasar tenaga kerja dengan risiko inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.

Sebaliknya, apabila pertumbuhan pekerjaan melemah dan inflasi juga terus melandai, alasan untuk mempertahankan suku bunga akan semakin kuat.

Skenario tersebut dapat memberikan dukungan bagi obligasi AS dan aset yang sensitif terhadap suku bunga, sekaligus memberikan tekanan terhadap dolar AS.

ISM Jasa Beri Sinyal Berlawanan

Ketidakpastian semakin tinggi setelah data ISM sektor jasa menunjukkan hasil yang relatif kuat.

Indeks tersebut menunjukkan kenaikan pesanan baru dan harga yang dibayar, sementara komponen ketenagakerjaan justru melemah.

Kombinasi ini menarik karena memberikan dua pesan berbeda kepada pasar.

Di satu sisi, melemahnya komponen tenaga kerja memperkuat argumen bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Namun di sisi lain, meningkatnya pesanan baru dan harga yang dibayar menunjukkan bahwa tekanan permintaan dan harga belum sepenuhnya hilang.

Kondisi tersebut juga sejalan dengan kekhawatiran mengenai dampak perkembangan artificial intelligence atau AI terhadap struktur ekonomi AS.

Investasi besar di sektor teknologi dapat menopang pertumbuhan produktivitas dan aktivitas bisnis, tetapi pada saat yang sama perubahan struktur tenaga kerja akibat AI dapat membuat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja menjadi semakin kompleks.

Akibatnya, pasar tidak lagi hanya melihat satu indikator.

Setiap data harus dibaca dalam konteks yang lebih luas.

Imbal Hasil Obligasi Jangka Panjang Masih Menyimpan Risiko

Pergerakan imbal hasil Treasury AS juga mencerminkan ketidakpastian tersebut.

Imbal hasil tenor pendek bergerak mengikuti perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Ketika peluang kenaikan suku bunga meningkat, yield tenor pendek cenderung ikut naik. Sebaliknya, komentar dovish Waller memberikan ruang bagi yield untuk turun.

Namun, imbal hasil tenor panjang memiliki cerita yang berbeda.

Kurva imbal hasil yang semakin curam menunjukkan bahwa pasar tidak hanya memperhitungkan keputusan The Fed dalam beberapa pekan ke depan. Investor juga mempertimbangkan faktor jangka panjang, termasuk inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, penerbitan obligasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi.

Dengan kata lain, sekalipun The Fed memilih menahan suku bunga pada September, bukan berarti imbal hasil obligasi tenor panjang otomatis akan turun secara signifikan.

Ada narasi lain yang tetap menjaga yield jangka panjang berada pada level tinggi.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pasar obligasi global masih rentan terhadap volatilitas.

Jumat Menjadi Hari Penting bagi Pasar

Laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat menjadi salah satu data terakhir yang sangat penting sebelum periode communications blackout The Fed menjelang pertemuan FOMC September.

Konsensus memperkirakan ekonomi AS menambah sekitar 55-56 ribu pekerjaan pada Agustus, sementara tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di 4,1%.

Angka aktual akan menjadi ujian pertama bagi pandangan pasar setelah komentar Waller.

Jika data jauh lebih lemah dari perkiraan, pasar berpotensi kembali memperbesar peluang bahwa The Fed mempertahankan suku bunga.

Sebaliknya, apabila penciptaan lapangan kerja jauh lebih kuat, tekanan terhadap The Fed untuk mempertimbangkan kenaikan dapat kembali meningkat.

Namun, investor sebaiknya tidak melihat payrolls secara terpisah.

Data inflasi yang akan dirilis pekan berikutnya tetap memiliki peran penting. Bahkan Waller telah memberikan sinyal bahwa perkembangan inflasi dapat menjadi pertimbangan yang sangat menentukan dalam keputusannya.

Payrolls dan CPI Jadi Penentu Arah Pasar

Situasi saat ini menggambarkan betapa sulitnya membaca arah kebijakan The Fed.

Di satu sisi, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Di sisi lain, sejumlah indikator aktivitas dan harga masih menunjukkan ketahanan ekonomi.

The Fed pun menghadapi dilema klasik: terlalu cepat menaikkan suku bunga dapat memperbesar risiko perlambatan ekonomi, sementara terlalu lama menunggu dapat membuat tekanan inflasi kembali mengakar.

Karena itu, komentar Waller memberikan sedikit kelegaan bagi pasar, tetapi belum memberikan kepastian.

Justru sebaliknya, pasar kini semakin bergantung pada data.

Dalam jangka pendek, payrolls dan CPI akan menjadi dua katalis utama yang menentukan arah obligasi, dolar AS, emas, dan aset berisiko.

Jika keduanya memberikan sinyal pelemahan ekonomi sekaligus moderasi inflasi, ekspektasi terhadap penahanan suku bunga dapat semakin kuat.

Namun jika inflasi kembali panas dan pasar tenaga kerja ternyata lebih tangguh dari perkiraan, narasi kenaikan suku bunga dapat kembali mendominasi.

Dengan demikian, “tarikan napas lega” yang dirasakan pasar setelah komentar dovish Waller kemungkinan masih bersifat sementara.

Pasar belum keluar dari rollercoaster kebijakan moneter. Justru, dengan semakin dekatnya pertemuan FOMC September, setiap angka ekonomi akan memiliki bobot yang semakin besar dalam menentukan langkah The Fed berikutnya.