Bursa Wall Street Rabu Berakhir Turun Terpicu Kenaikan Harga Minyak

45
Bursa Wall Street - Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wall Street pada penutupan pasar hari Rabu waktu AS (9 September 2026) berakhir melemah, memperpanjang tren koreksi selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Kejatuhan pasar didorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan tajam biaya energi, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Indeks S&P 500 ditutup turun -0,50% ke level 7.636,36. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah -0,80% atau 405,41 poin ke level 52.380,66. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite ditutup turun -0,64% ke level 26.253,34.

Lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi sentimen negatif utama yang membebani pasar pada sesi perdagangan kali ini. Konflik militer antara AS dan Iran kembali memanas setelah AS menghancurkan lima tanker minyak Iran, membuat harga minyak mentah Brent melonjak +3,4% dan menetap di level USD 101,21 per barel, menandai pertama kalinya harga minyak menembus level USD 100 per barel sejak bulan Juli. Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran investor terhadap potensi tekanan inflasi yang berkepanjangan.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut menambah tekanan bagi pasar saham. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun merangkak naik ke level 4,836%, level tertinggi sejak tahun 2023, setelah investor menyatakan kekecewaan karena perluasan program pembelian kembali (buyback) obligasi oleh Departemen Keuangan AS dinilai tidak sebesar yang diharapkan pasar. Kenaikan yield ini kembali menekan minat investor terhadap aset berisiko seperti saham.

Dari sisi korporasi, raksasa teknologi Apple meluncurkan ponsel lipat pertamanya, iPhone Duo, namun sahamnya justru turun sekitar -1,75% di tengah skeptisisme investor dan analis yang mencatat bahwa saham Apple lebih sering tertekan atau bergerak mendatar ketimbang melonjak pasca peluncuran produk barunya dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah koreksi massal yang turut menekan sektor ritel, dengan saham Amazon turun -1,8% dan Starbucks melemah -1,9%, sektor energi justru bergerak melawan arus dan menjadi satu-satunya penopang pasar. Saham Exxon Mobil naik +2,2% dan Chevron menguat +1,9%, seiring lonjakan harga minyak yang mendongkrak prospek pendapatan emiten energi.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan tetap bergerak dalam mode defensif menjelang rilis data inflasi konsumen (CPI) penting pada akhir pekan ini, sembari pasar terus mencermati perkembangan eskalasi geopolitik AS-Iran serta arah pergerakan harga minyak dan yield obligasi AS yang masih berpotensi membayangi sentimen pasar dalam beberapa hari mendatang.