Harga Kopi Arabika Akhir Pekan Ditutup Melemah Akibat Lonjakan Ekspor Brasil

40
kopi

(Vibiznews – Commodity) Harga kontrak berjangka kopi arabika di bursa ICE Futures US, New York, ditutup kembali melemah pada penutupan akhir pekan dan tertahan di dekat level terendah dalam tujuh minggu terakhir. Pelemahan ini terjadi meskipun fundamental persediaan fisik di gudang bursa masih dalam kondisi sangat kritis, namun derasnya arus pasokan dari masa panen raya Brasil berhasil meredam pergerakan harga di pasar komoditas.

Pergerakan harga kopi arabika pada penutupan kali ini tercatat di level 284,07 sen dolar AS per pon, atau setara sekitar 2,84 dolar AS per pon. Angka ini mencerminkan koreksi harian sebesar 1,42 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Secara akumulasi bulanan, harga arabika telah mencatatkan penurunan sebesar 11,21 persen dalam sebulan terakhir, seiring meningkatnya kepastian pasokan secara global.

Tekanan jual utama pada perdagangan kali ini dipicu oleh lonjakan rekor ekspor kopi Brasil. Asosiasi Eksportir Kopi Brasil atau Cecafe melaporkan bahwa total ekspor kopi Brasil pada bulan Agustus melonjak 31 persen secara tahunan menjadi 4,155 juta kantong, yang merupakan rekor tertinggi untuk periode bulan Agustus. Rampungnya masa panen raya dengan siklus dua tahunan yang kuat di Brasil membuat ketersediaan kopi di pasar ekspor langsung melimpah ke pasar global.

Selain itu, para pelaku pasar dan spekulan mulai mengambil posisi jual setelah beredarnya informasi bahwa para pedagang tengah berencana mengirimkan volume kopi arabika dalam jumlah besar dari Brasil, sebagai produsen terbesar dunia, ke gudang-gudang bursa ICE. Masuknya pasokan fisik baru ini diproyeksikan dapat mendobrak jumlah persediaan sertifikasi bursa hingga dua kali lipat, yang kemudian memicu dana lindung nilai berbasis algoritma untuk melakukan aksi jual secara otomatis.

Harga arabika juga tertekan oleh proyeksi surplus global dari International Coffee Organization atau ICO, yang memperkirakan produksi kopi dunia musim 2025/2026 akan naik 4,4 persen secara tahunan menjadi rekor 183,6 juta kantong. Proyeksi ini turut membawa pasar kopi global ke kondisi surplus sekitar 3 juta kantong, yang merupakan surplus pertama dalam lima tahun terakhir.

Kendati demikian, penurunan harga arabika tidak jatuh terlalu dalam karena tertahan oleh fakta bahwa persediaan bersertifikat di gudang bursa ICE New York saat ini masih terdampar di level kritis terendahnya dalam 26 hingga 27 tahun terakhir. Kondisi stok yang sangat tipis ini terus menjadi bantalan kuat yang membatasi ruang penurunan harga lebih lanjut.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kopi arabika ke depan masih akan diwarnai oleh tarik-menarik antara derasnya pasokan dari panen raya dan rekor ekspor Brasil serta proyeksi surplus global yang menekan harga, melawan kritisnya level inventaris bersertifikat di gudang bursa yang menopang harga, sehingga harga arabika berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan dalam waktu dekat.