Investor Saham Harus Belajar Menghadapi Fluktuasi Pasar

49
asia saham
In this Tuesday, Nov. 19, 2019 photo, a Chinese investor uses a smartphone as he monitor stock prices at a brokerage house in Beijing. Shares retreated in Asia on Wednesday after Japan reported its worst monthly decline in exports in three years. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

(Vibiznews-Kolom) Ada sesuatu yang aneh dalam dunia investasi. Ketika seseorang membeli rumah untuk ditempati selama puluhan tahun, ia tidak merasa perlu mengetahui berapa harga rumah itu setiap pagi. Ia tetap tinggal di dalamnya, memperbaiki bagian yang rusak, membayar kewajibannya, dan menilai rumah tersebut berdasarkan manfaat yang diberikannya. Tetapi ketika membeli saham, perilakunya sering berubah total. Harga saham yang dimilikinya bisa diperiksa berkali-kali dalam sehari. Ketika harga naik, ia merasa semakin kaya. Ketika harga turun, ia mulai merasa telah melakukan kesalahan. Padahal, bisnis yang berada di balik saham tersebut belum tentu berubah sedikit pun.

Benjamin Graham melihat persoalan ini sebagai salah satu ujian terbesar bagi seorang investor. Pasar saham menyediakan harga setiap hari, bahkan setiap detik, tetapi ketersediaan harga bukan berarti investor harus selalu bertindak berdasarkan harga tersebut. Dalam The Intelligent Investor, Graham menggambarkan pasar sebagai sosok bernama Mr. Market, seorang rekan bisnis yang setiap hari datang membawa penawaran harga. Kadang-kadang ia sangat optimistis dan menawarkan harga yang terlalu tinggi. Pada kesempatan lain ia diliputi ketakutan sehingga bersedia menjual dengan harga yang sangat rendah. Tugas investor bukan mengikuti suasana hati Mr. Market, melainkan memanfaatkan penawarannya ketika harga tersebut masuk akal.

Bayangkan seseorang memiliki sebagian kecil dari sebuah perusahaan dengan nilai investasi tertentu. Setiap hari rekannya datang dan berkata bahwa bagian perusahaan tersebut sekarang bernilai lebih tinggi. Besok ia mungkin mengatakan nilainya turun drastis. Lusa ia kembali berubah pikiran. Jika bisnis yang dimiliki sebenarnya tidak mengalami perubahan fundamental, mengapa penilaian terhadap bisnis itu harus berubah hanya karena seseorang mengucapkan angka yang berbeda? Di sinilah Graham ingin mengubah cara berpikir investor. Harga pasar adalah informasi, tetapi bukan selalu kebenaran tentang nilai.

Gagasan tersebut menjadi semakin penting karena saham memberikan ilusi bahwa nilai investasi berubah setiap saat. Ketika pasar terbuka, investor dapat melihat angka bergerak naik dan turun. Pergerakan tersebut terasa nyata karena terlihat di layar. Namun Graham membedakan antara perubahan harga dan perubahan nilai ekonomi dari bisnis. Sebuah perusahaan bisa mengalami penurunan harga saham tanpa mengalami kerusakan yang sebanding dalam kemampuan menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, saham dapat terus naik ketika harga sudah jauh melampaui nilai yang masuk akal. Karena itu, investor harus belajar memisahkan dua hal yang sering dianggap sama: apa yang sedang dibayar pasar dan apa yang sebenarnya dimiliki investor.

Graham bahkan menunjukkan bahwa fluktuasi harga dapat menjadi keuntungan bagi investor yang memiliki disiplin. Ketika harga turun tajam, pasar sebenarnya sedang memberikan kesempatan untuk membeli kepemilikan bisnis dengan harga lebih murah. Masalahnya, psikologi manusia sering bekerja secara terbalik. Ketika harga naik, orang merasa aman dan semakin tertarik membeli. Ketika harga jatuh, rasa takut membuat mereka ingin menjual. Pola tersebut dapat membawa seseorang membeli ketika optimisme sedang tinggi dan menjual ketika ketakutan sedang mendominasi. Investor kemudian bukan lagi menggunakan pasar sebagai alat, melainkan menjadi korban suasana hati pasar.

Dalam kerangka Graham, investor yang rasional justru memiliki hubungan yang berbeda dengan fluktuasi. Ia tidak menganggap setiap penurunan sebagai bencana dan setiap kenaikan sebagai kabar baik. Penurunan harga harus diperiksa untuk mengetahui apakah ada perubahan nyata dalam nilai bisnis. Jika kinerja perusahaan, posisi keuangan, prospek usaha, dan kemampuan menghasilkan laba masih sesuai dengan alasan awal pembelian, maka penurunan harga semata tidak otomatis menjadi alasan untuk menjual. Sebaliknya, kenaikan harga yang sangat besar juga tidak otomatis membuktikan bahwa saham tersebut semakin menarik.

Graham menghubungkan persoalan ini dengan cara seseorang memandang kepemilikan bisnis pribadi. Jika seseorang memiliki sebuah usaha yang tidak diperdagangkan di bursa, ia tidak menerima laporan harga setiap lima menit. Ia akan lebih banyak melihat pendapatan, biaya, aset, utang, pelanggan, dan prospek usahanya. Ia akan menilai apakah bisnis itu semakin kuat atau semakin lemah. Investor saham seharusnya memiliki pola pikir yang serupa. Saham adalah kepemilikan atas bisnis, bukan sekadar angka yang bergerak di layar.

Di sinilah muncul salah satu paradoks penting dalam investasi. Semakin berhasil sebuah perusahaan, semakin tinggi pula harga yang mungkin bersedia dibayar pasar. Ketika harga sudah jauh meninggalkan nilai aset atau kemampuan menghasilkan laba yang dapat dibenarkan, investor justru dapat menjadi semakin bergantung kepada suasana pasar. Nilai investasinya bukan lagi hanya ditentukan oleh keberhasilan bisnis, tetapi juga oleh kesediaan investor lain membayar harga yang semakin tinggi. Ketergantungan seperti ini membuat fluktuasi pasar menjadi jauh lebih penting daripada yang seharusnya.

Graham juga membedakan sikap investor dengan spekulator melalui cara mereka memandang pergerakan pasar. Spekulator terutama tertarik pada kemampuan memperkirakan perubahan harga. Ia ingin mengetahui kapan pasar akan naik dan kapan akan turun. Investor memiliki perhatian yang berbeda. Ia mencari sekuritas yang sesuai dan membelinya pada harga yang masuk akal, kemudian bersedia memegangnya selama dasar ekonominya tetap mendukung kepemilikan tersebut. Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan teknik, tetapi perbedaan cara memandang apa yang sebenarnya sedang dibeli.

Karena itu, investor tidak harus merasa wajib melakukan sesuatu setiap kali pasar bergerak. Justru kemampuan untuk tidak bertindak dapat menjadi bagian dari disiplin investasi. Jika harga bergerak tanpa perubahan berarti pada bisnis, tidak ada keharusan untuk menjual. Jika harga turun tetapi nilai bisnis masih memadai, penurunan tersebut bahkan dapat menciptakan peluang. Sebaliknya, jika harga meningkat jauh melampaui nilai yang dapat dibenarkan, investor dapat mempertimbangkan untuk mengurangi kepemilikan. Yang menentukan bukan arah pergerakan harga semata, melainkan hubungan antara harga dan nilai.

Dalam pandangan Graham, investor juga perlu menerima kenyataan bahwa pasar tidak selalu memberikan penilaian yang masuk akal. Ada masa ketika optimisme menguasai pasar dan saham tertentu diperdagangkan dengan harga yang sangat tinggi. Ada pula masa ketika pesimisme membuat saham perusahaan yang masih memiliki dasar bisnis yang kuat ikut tertekan. Investor yang mengharapkan pasar selalu rasional akan mudah frustrasi. Investor yang menerima bahwa pasar dapat bersikap emosional justru memiliki ruang lebih besar untuk menggunakan ketidakrasionalan tersebut sebagai kesempatan.

Fluktuasi dengan demikian bukan sesuatu yang harus dihilangkan dari pengalaman investasi. Fluktuasi adalah bagian dari mekanisme pasar. Yang perlu dikendalikan adalah reaksi investor terhadap fluktuasi tersebut. Graham mengingatkan bahwa investor harus mampu melihat pasar sebagai pelayan, bukan sebagai pemberi perintah. Harga yang ditawarkan pasar dapat digunakan ketika menarik, tetapi dapat pula diabaikan ketika tidak memberikan alasan yang cukup untuk bertindak.

Gagasan ini juga menjelaskan mengapa investor membutuhkan kerangka penilaian yang lebih kuat daripada sekadar melihat grafik harga. Ketika harga berubah, investor membutuhkan sesuatu yang relatif lebih stabil sebagai pembanding. Itulah sebabnya Graham terus kembali kepada kondisi keuangan perusahaan, kemampuan menghasilkan laba, aset, dividen, prospek usaha, serta margin of safety. Tanpa ukuran tersebut, investor akan mudah terseret oleh angka terakhir yang muncul di layar.

Tantangan terbesar dalam menghadapi pasar bukanlah mengetahui kapan harga akan naik atau turun. Tantangannya adalah mempertahankan kemampuan berpikir ketika harga bergerak dengan cepat. Pasar akan selalu menawarkan cerita baru. Hari ini ketakutan membuat harga jatuh, besok optimisme membuatnya melonjak. Investor yang terlalu dekat dengan setiap perubahan akan mudah menganggap setiap gerakan sebagai sinyal penting. Padahal, sebagian besar gerakan tersebut mungkin tidak mengubah alasan dasar mengapa sebuah bisnis layak dimiliki.

Investor yang matang justru belajar memberi jarak antara dirinya dan pasar. Ia melihat harga, tetapi tidak diperbudak oleh harga. Ia memperhatikan perubahan, tetapi tidak otomatis bereaksi terhadap perubahan. Ketika pasar memberikan harga yang menarik, ia siap memanfaatkannya. Ketika pasar memberikan harga yang tidak masuk akal, ia dapat menunggu. Dalam pendekatan Graham, kesabaran bukan berarti pasif. Kesabaran adalah kemampuan menunggu sampai harga dan nilai berada dalam hubungan yang memberikan alasan kuat untuk bertindak.

Karena itu, Mr. Market sebenarnya bukan musuh investor. Ia adalah sumber kesempatan yang selalu berubah-ubah. Masalah muncul ketika investor mulai memperlakukan setiap perkataan Mr. Market sebagai kebenaran. Selama investor mampu membentuk penilaiannya sendiri terhadap bisnis yang dimiliki, fluktuasi harga tidak lagi menjadi sumber kepanikan. Ia berubah menjadi informasi yang dapat digunakan ketika memang relevan.

Setelah memahami cara menghadapi fluktuasi pasar, pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik, jika investor tidak boleh dikendalikan oleh perubahan harga, bagaimana ia menentukan kapan sebuah saham benar-benar murah atau mahal? Di sinilah analisis terhadap nilai, laba, aset, dan kualitas perusahaan menjadi semakin penting. Pasar boleh berubah setiap hari, tetapi investor membutuhkan ukuran yang membuat keputusan tetap berpijak pada kenyataan.