Rekomendasi Harga Gula 5 Oktober 2026

100

(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah berakhir melonjak tajam pada hari Jumat, 2 Oktober 2026, terpicu risiko cuaca di Brasil dan kekhawatiran defisit pasokan global yang mendorong aksi beli dana investasi.

Harga gula mentah berjangka kontrak Maret 2027 di bursa ICE New York ditutup naik 0,99 poin atau 5,23% ke level 19,93 sen per pon, sekaligus mencetak level tertinggi dalam 1,5 tahun untuk kontrak terdekat. Sementara itu, harga gula putih berjangka kontrak Desember 2026 di London ditutup naik 24,20 poin atau 4,77%, mencapai level tertinggi dalam 2,5 pekan.

Prakiraan hujan di wilayah Center-South Brasil, sentra tebu terbesar negara tersebut, selama sepekan ke depan berpotensi mengganggu proses penggilingan tebu di pabrik-pabrik gula Brasil dan menekan pasokan. Kekhawatiran ini memicu aksi beli dana investasi di pasar berjangka.

Prospek defisit pasokan global turut menopang harga. International Sugar Organization (ISO) memproyeksikan defisit gula global musim 2026/27 sebesar 200.000 ton, berbalik dari surplus 1,1 juta ton pada musim 2025/26. Thai Sugar Millers Corp juga memperkirakan produksi gula Thailand, eksportir gula terbesar kedua dunia, turun 17% secara tahunan menjadi 10 juta ton. Sementara itu, Czarnikow memperkirakan defisit global 2,9 juta ton pada musim 2027/28, seiring pabrik-pabrik gula Brasil yang memproduksi lebih banyak etanol dibandingkan gula di tengah lonjakan harga minyak mentah.

Faktor cuaca juga masih membayangi. Fenomena El Niño yang kuat berpotensi menekan curah hujan di Brasil, India, dan Thailand, tiga produsen gula terbesar dunia. US Climate Prediction Center menyatakan bahwa El Niño yang muncul di Pasifik bagian khatulistiwa diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun. Di India, Departemen Meteorologi melaporkan curah hujan monsun kumulatif periode Juni–September berada 12,6% di bawah normal per 30 September, terlemah dalam 11 tahun. Pemerintah India bahkan mengizinkan impor hingga 1 juta ton gula mentah bebas bea hingga 31 Oktober, sebuah sinyal tekanan pasokan di negara yang biasanya menjadi eksportir.

Dari sisi permintaan, Covrig Analytics memperkirakan pengiriman untuk penyelesaian kontrak Oktober sebesar 1,45 juta ton, turun dari estimasi awal 1,80 juta ton, yang mengindikasikan permintaan fisik lebih kuat dari perkiraan.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mewaspadai risiko koreksi setelah reli tajam. USDA masih memproyeksikan surplus gula India sebesar 2,5 juta ton pada musim 2026/27, sementara ISO memperkirakan produksi gula global 2025/26 mencapai rekor 182 juta ton. Pelemahan harga minyak mentah juga dapat mendorong pabrik gula mengalihkan lebih banyak tebu ke produksi gula dan menambah pasokan, serta aksi ambil untung (profit-taking) berpotensi muncul setelah lonjakan lebih dari 5% dalam sehari.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan hari ini, harga gula masih berpeluang bertahan dengan bias menguat seiring risiko cuaca di Brasil, India, dan Thailand serta prospek defisit pasokan global. Namun, setelah kenaikan tajam pada sesi sebelumnya, ruang koreksi teknikal tetap terbuka sehingga volatilitas harga diperkirakan tinggi. Harga gula diperkirakan bergerak menguji area Resistance di kisaran 20,28 hingga 20,64. Namun apabila muncul aksi ambil untung atau cuaca di Brasil membaik, harga berpeluang terkoreksi menuju area Support di 19,25 hingga 18,58.