Menjelang Berakhirnya Shutdown, Data Pekerjaan AS Jadi Penentu Arah Suku Bunga The Fed Desember Ini?

764
The word FED Federal Reserve on US dollars as the economy concept, interest rates control to help world economy crisis

(Vibiznews-News) Pasar menanti data ketenagakerjaan yang tertunda sebagai penentu arah kebijakan The Fed, di tengah ekonomi AS yang mulai kehilangan momentum

Setelah melalui penutupan pemerintah (government shutdown) terpanjang dalam sejarah modern Amerika Serikat, Wall Street kini bersiap mengalihkan fokus ke serangkaian data ekonomi penting yang tertunda. Di antara data tersebut, laporan ketenagakerjaan September menjadi sorotan utama, karena dinilai dapat menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan Desember mendatang.

Menurut analis dari Morgan Stanley, laporan pekerjaan yang segera dirilis setelah pemerintah kembali beroperasi akan memiliki bobot yang lebih besar dari biasanya. Pasalnya, The Fed kini tengah berada dalam fase pengambilan keputusan yang sepenuhnya bergantung pada data, yang merupakan sebuah pergeseran dari pendekatan sebelumnya yang lebih menekankan pada manajemen risiko.

“Kami memperkirakan data yang terkumpul antara sekarang hingga pertemuan Desember nanti akan cukup bagi The Fed untuk melakukan pemangkasan suku bunga,” tulis ekonom Morgan Stanley dalam laporan riset terbaru mereka. “Lemahnya pasar tenaga kerja menjadi tema utama dalam analisis kami.”

Laporan yang tertunda, tapi data sudah terkumpul

Morgan Stanley memperkirakan laporan ketenagakerjaan September akan dipublikasikan sekitar tiga hari setelah penutupan pemerintah berakhir. Meskipun sempat tertunda, sebagian besar data ketenagakerjaan sudah dikumpulkan sebelum shutdown dimulai. Hal ini berarti, laporan tersebut diperkirakan akan tetap merepresentasikan kondisi pasar tenaga kerja yang aktual pada akhir kuartal ketiga.

Berdasarkan proyeksi Morgan Stanley, ekonomi AS hanya menambah sekitar 50.000 lapangan kerja baru pada September, dengan tingkat pengangguran yang bertahan di kisaran 4,3%. Bank investasi itu juga memperkirakan pengangguran dapat naik lebih lanjut ke 4,5% atau bahkan lebih tinggi pada Oktober dan November dimana sebagian karena dampak furlough (cuti tanpa bayaran) sementara di sektor pemerintahan dan efek program pensiun dini bagi pegawai federal.

Kelemahan di pasar tenaga kerja ini, jika dikonfirmasi oleh data resmi, akan memperkuat argumen bagi kubu dovish di dalam The Fed yang mendorong pemangkasan suku bunga lebih cepat guna mencegah perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Data terbatas, fokus The Fed semakin sempit

Selain laporan pekerjaan, sebagian besar indikator ekonomi lain  seperti inflasi, belanja konsumen, dan produk domestik bruto (PDB)  juga diperkirakan akan mengalami keterlambatan publikasi akibat jeda pengumpulan data selama penutupan pemerintah. Dalam situasi tersebut, indikator tenaga kerja seperti non-farm payrolls dan klaim pengangguran mingguan akan menjadi kompas utama bagi para pembuat kebijakan moneter.

“Selama musim dingin ini, The Fed akan lebih fokus pada data ketenagakerjaan sebagai pijakan dalam menentukan arah kebijakan,” tambah laporan Morgan Stanley. “Dengan data yang terbatas, setiap laporan baru akan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pandangan kebijakan.”

Namun, analis memperingatkan bahwa ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Desember bisa berubah drastis apabila data yang dirilis justru menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan.

“Dengan pendekatan yang kini kembali berpusat pada data, laporan ekonomi yang lebih kuat dapat membuat The Fed menunda langkah pemangkasan,” tulis Morgan Stanley.

Sinyal campuran dari pejabat The Fed

Pandangan internal The Fed saat ini juga tampak semakin terpecah. Ambang batas untuk pemangkasan suku bunga Desember naik sejak pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell bulan lalu, yang menegaskan bahwa langkah tersebut “belum merupakan keputusan yang pasti” dan bahkan “masih jauh dari itu.”

Powell menekankan bahwa komite kebijakan moneter kini “lebih bergantung pada data daripada manajemen risiko,” menandakan pergeseran besar dalam strategi komunikasi The Fed setelah serangkaian pemangkasan suku bunga sepanjang 2024. Ia juga mengakui adanya “perbedaan pandangan yang cukup kuat” di antara para pembuat kebijakan terkait arah kebijakan suku bunga ke depan.

Sinyal perbedaan itu kian terlihat dari pernyataan beberapa pejabat senior The Fed dalam pekan terakhir. Gubernur The Fed Stephen Miran, misalnya, pada awal pekan ini menyerukan pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan Desember untuk mencegah ekonomi terperosok ke dalam perlambatan lebih tajam.

Sebaliknya, Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengambil posisi yang lebih hati-hati. Ia menilai masih terlalu dini untuk menentukan arah kebijakan berikutnya, mengingat data ekonomi yang tersedia masih terbatas akibat penutupan pemerintah.

“Masih banyak ketidakpastian yang perlu dipertimbangkan,” kata Goolsbee dalam sebuah wawancara. “Kita belum memiliki cukup data pasca-penutupan untuk menyimpulkan kondisi aktual ekonomi.”

Dilema antara inflasi dan pertumbuhan

Selain pasar tenaga kerja, inflasi tetap menjadi komponen krusial dalam perdebatan kebijakan. Data harga konsumen terakhir menunjukkan bahwa inflasi inti masih berada sedikit di atas target 2% The Fed. Meski tren inflasi menurun dalam beberapa bulan terakhir, tekanan harga di sektor jasa dan perumahan masih tinggi.

Kondisi ini menempatkan The Fed dalam dilema klasik: di satu sisi, perlambatan pasar tenaga kerja memberi alasan kuat untuk memangkas suku bunga demi menopang pertumbuhan; namun di sisi lain, inflasi yang belum sepenuhnya terkendali menuntut kehati-hatian agar tidak mengulang kesalahan kebijakan longgar di masa lalu.

Investor di Wall Street kini menilai peluang pemangkasan suku bunga Desember sekitar 65%, berdasarkan data dari CME FedWatch Tool. Angka ini naik dari sekitar 50% sebelum penutupan pemerintah dimulai, menandakan meningkatnya keyakinan pasar terhadap prospek pelonggaran kebijakan moneter.

Menanti kepastian dari data

Dengan semua ketidakpastian tersebut, rilis laporan ketenagakerjaan September menjadi titik krusial yang akan menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan. Jika data menunjukkan perlambatan signifikan, tekanan terhadap The Fed untuk segera memangkas suku bunga akan meningkat. Sebaliknya, bila angka perekrutan tetap solid, peluang pemangkasan Desember bisa kembali memudar.

“Laporan pekerjaan kali ini akan menjadi ujian pertama bagi keyakinan pasar bahwa The Fed siap beralih ke siklus pelonggaran baru,” tulis analis Morgan Stanley.

Bagi pelaku pasar, hasilnya bukan sekadar angka, melainkan petunjuk arah bagi ekonomi terbesar dunia di penghujung tahun yang penuh ketidakpastian fiskal dan politik.