(Vibiznews – Commodity) – Perdagangan karet di bursa komoditas internasional awal pekan alami kenaikan pada perdagangan hari Senin (23/2/2026) yang terlihat di bursa Singapura (TSR20) sebagai acuan dunia.
Kenaikan harga karet yang juga terjadi di bursa Singapura (Sicom) dipicu oleh kendala pasokan musiman dan ekspektasi permintaan yang lebih kuat.
Sebagian besar wilayah penghasil karet utama di Asia Tenggara sebagian besar telah menyelesaikan penyadapan karet karena tanaman memasuki musim sepi.
Pohon karet biasanya mengalami periode penyadapan singkat di akhir Januari, diikuti oleh penurunan produksi dari Februari hingga Mei, sebelum produksi meningkat kembali selama musim panen puncak, yang berlangsung hingga September.
Sementara itu, Asosiasi Negara-Negara Penghasil Karet Alam (ANRPC) mengatakan pada Februari 2019 bahwa permintaan global untuk karet alam diproyeksikan akan melebihi produksi untuk tahun keenam berturut-turut pada tahun 2026, didorong oleh pertumbuhan sektor otomotif yang lebih kuat di negara-negara berkembang dan maju.
Produksi global diproyeksikan meningkat sebesar 2,4% pada tahun 2026, mencapai 15,2 juta ton sementara permintaan diperkirakan akan tumbuh sebesar 1,7%, naik menjadi 15,6 juta ton.
Harga karet di bursa Singapura – Sicom, kontrak yang sedang ramai diperdagangkan yaitu kontrak bulan Mei 2026 ditutup naik 0,78% dari harga sesi sebelumnya ke posisi $194,3, tertinggi sejak April 2025.
Sentimen positif di pasar karet juga dipengaruhi oleh kesepakatan Indonesia dan AS untuk menurunkan tarif hingga nol persen pada karet.
Indonesia dan Amerika Serikat telah menandatangani Agreement on Reciprocal Trade yang mencakup liberalisasi tarif, pengurangan hambatan non-tarif, kerja sama digital, hingga penguatan perlindungan kekayaan intelektual.
Indonesia menghapus tarif pada lebih dari 99% produk Amerika Serikat, sebaliknya pemerintah Trump memberi tarif 0 persen pada 1819 produk Indonesia.



