(Vibiznews – Kolom) Jutaan pekerja di sektor gig di Amerika dilaporkan mulai merasakan dampak signifikan dari lonjakan harga bensin, terutama mereka yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja seperti pengemudi ride-hailing dan kurir pengantaran.
Harga rata-rata bensin tanpa timbal disebut meningkat sekitar 22% dalam satu bulan terakhir dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2024. Lonjakan ini tidak hanya cepat, tetapi juga mencetak catatan ekstrem, dengan kenaikan dalam tiga hari terakhir disebut sebagai yang terbesar sejak Badai Katrina lebih dari dua dekade lalu, serta lonjakan dalam 10 hari yang dinilai sebagai yang paling tajam dalam sejarah.
Seorang pengemudi rideshare berpengalaman lebih dari satu dekade di wilayah Los Angeles menggambarkan bahwa perubahan harga terjadi sangat cepat dan belum pernah ia alami sebelumnya. Ia menilai lonjakan tersebut terasa terjadi hampir dalam semalam, terutama setelah meningkatnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Untuk menjaga pendapatan, ia dilaporkan mulai menghindari perjalanan jarak pendek dan berbagi strategi dengan sesama pengemudi agar tetap memperoleh keuntungan.
Para pekerja gig disebut tidak memiliki banyak pilihan selain tetap bekerja meski biaya bahan bakar meningkat, karena penghasilan dari aktivitas tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sewa dan tagihan. Kondisi ini memperlihatkan betapa sensitifnya kelompok ini terhadap perubahan biaya operasional.
Dalam periode terbaru, harga bensin tercatat mencapai sekitar 3,59 dolar per galon, menjadikannya level tertinggi sejak Mei 2024. Kenaikan tajam ini dinilai tidak hanya memberikan tekanan finansial secara langsung, tetapi juga memicu kekhawatiran yang semakin besar dalam kehidupan sehari-hari para pekerja yang bergantung pada kendaraan.
Sejumlah pekerja lain di sektor ini juga dilaporkan mulai menyesuaikan strategi. Seorang kurir makanan disebut melakukan perhitungan lebih ketat untuk memastikan setiap perjalanan tetap menguntungkan. Ia juga menekankan bahwa tip dari pelanggan menjadi semakin krusial dalam kondisi harga bahan bakar yang tinggi. Selain itu, ia mulai mencari alternatif pekerjaan berbasis online sebagai langkah antisipasi jika tekanan biaya berlangsung lebih lama.
Untuk mengurangi pengeluaran, beberapa pekerja juga berusaha menekan penggunaan kendaraan untuk keperluan pribadi, termasuk dengan berjalan kaki untuk aktivitas jarak dekat. Mereka memanfaatkan aplikasi pencari harga bensin termurah serta program loyalitas untuk mendapatkan potongan biaya bahan bakar.
Lonjakan perhatian terhadap harga energi juga tercermin dari meningkatnya penggunaan aplikasi pencari harga bensin, yang dilaporkan melonjak tajam dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen kini semakin sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar.
Namun, belum ada kepastian bahwa harga akan segera turun. Harga minyak mentah masih bergejolak di tengah konflik geopolitik yang berkembang, sementara faktor musiman seperti peningkatan perjalanan liburan musim semi dan peralihan ke bahan bakar musim panas yang lebih mahal turut mendorong kenaikan. Dalam skenario tertentu, harga bensin bahkan diperkirakan memiliki peluang untuk mendekati 4 dolar per galon dalam waktu dekat.
Jika kondisi ini berlanjut, sebagian pekerja gig mulai mempertimbangkan perubahan kebijakan. Ada dorongan agar platform tempat mereka bekerja menerapkan biaya tambahan bahan bakar, seperti yang pernah dilakukan ketika harga bensin melonjak ke rekor tertinggi pada 2022. Namun, respons dari perusahaan-perusahaan besar dinilai masih terbatas, sehingga beban penyesuaian lebih banyak ditanggung oleh pekerja itu sendiri.
Di sisi lain, pelaku usaha kecil yang bergantung pada kendaraan juga mulai melakukan penyesuaian. Beberapa mempertimbangkan penambahan biaya layanan untuk jarak tertentu guna mengimbangi kenaikan biaya operasional, meskipun langkah ini berisiko mengurangi daya saing harga.
Secara struktural, sektor gig dinilai berada dalam posisi yang rentan. Diperkirakan hanya sebagian kecil populasi yang bekerja di sektor ini, namun jumlahnya terus bertumbuh setiap tahun. Di sisi lain, pendapatan pekerja gig cenderung lebih rendah dibanding pekerja tetap karena jam kerja yang tidak menentu.
Kelompok ini juga lebih banyak berasal dari kalangan berpenghasilan rendah, usia muda, dan kelompok yang secara ekonomi lebih rentan. Hal ini membuat mereka lebih terdampak oleh tekanan biaya seperti kenaikan harga bahan bakar.
Selain itu, tekanan biaya lain juga meningkat. Harga asuransi kendaraan dan biaya perbaikan mengalami kenaikan sejak pandemi, sementara harga suku cadang turut terdorong oleh kebijakan perdagangan yang meningkatkan biaya impor. Kombinasi faktor ini semakin memperberat beban operasional para pekerja.
Dibandingkan dengan lonjakan harga pada 2022, kondisi saat ini dinilai lebih menantang karena pasar tenaga kerja yang lebih ketat membatasi alternatif pekerjaan bagi para pekerja gig. Pada saat yang sama, mereka tidak memiliki fleksibilitas untuk menaikkan tarif secara mandiri karena harga layanan ditentukan oleh platform.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa pekerjaan di sektor gig memiliki tingkat ketidakstabilan yang tinggi, di mana perubahan biaya eksternal seperti harga bahan bakar dapat langsung memengaruhi pendapatan harian.
Tekanan serupa juga terlihat di sektor logistik. Pengemudi truk dilaporkan menghadapi kenaikan harga diesel yang bahkan lebih tinggi dibanding bensin, sehingga semakin menggerus margin keuntungan yang sudah tipis. Dalam kondisi ini, para pengemudi diperkirakan akan menaikkan tarif untuk menutup biaya operasional yang meningkat.
Dampaknya diperkirakan tidak berhenti pada sektor transportasi. Kenaikan biaya logistik berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih tinggi di toko dan pasar.
Dengan demikian, lonjakan harga bahan bakar tidak hanya menjadi masalah bagi pekerja gig atau pengemudi, tetapi berpotensi meluas menjadi tekanan inflasi yang dirasakan oleh masyarakat secara luas.



