(Vibiznews – Index) – Bursa saham Wall Street alami pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan yang berakhir Kamis dinihari (11/6/2026), dengan semua indeks utama ditutup pada zona merah.
Dow Jones merosot sebesar 953,33 poin atau 1,9 persen ke level 49.918,78, Nasdaq yang sarat saham teknologi anjlok 509,32 poin atau 2,0 persen ke posisi 25.169,50, dan indeks S&P 500 merosot 119,66 poin atau 1,6 persen untuk ditutup pada level 7.266,99.
Tekanan jual saham di Wall Street dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan retorika ancamannya terhadap Iran. Langkah ini menyusul aksi saling serang yang melibatkan kekuatan militer kedua belah pihak baru-baru ini.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan bela diri terhadap pangkalan militer Iran pada hari Selasa atas perintah langsung dari presiden. Serangan jet tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS tersebut membidik sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan situs radar pengawasan Iran di dekat Selat Hormuz, menyusul jatuhnya helikopter milik militer AS.
Sebagai bentuk pembalasan, pihak Iran dilaporkan langsung menggempur sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Kekhawatiran pasar akan meluasnya konflik di kawasan penghasil minyak tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Dari rilis data makroekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pertumbuhan harga konsumen (CPI) untuk bulan Mei meningkat selaras dengan perkiraan para ekonom sebelumnya.
Lihat: Inflasi AS Mei 2026 Melonjak ke 4,2%, Tertinggi Sejak April 2023 Akibat Guncangan Energi
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS tercatat naik 0,5 persen secara bulanan (MoM) di bulan Mei, melandai tipis dibandingkan kenaikan 0,6 persen pada bulan April. Secara tahunan, tingkat inflasi tahunan (YoY) mengalami akselerasi menjadi 4,2 persen dari posisi sebelumnya 3,8 persen di bulan April, sesuai dengan proyeksi pasar.
Secara sektoral, saham maskapai penerbangan anjlok tajam dan memimpin pelemahan dengan NYSE Arca Airline Index anjlok tajam 5,4%.
Pelemahan yang signifikan juga terlihat pada saham-saham emas, yang bergerak turun seiring dengan harga logam mulia hingga membuat NYSE Arca Gold Bugs Index turun sebesar 5%.
Saham-saham sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang berhasil melawan arus penurunan pasar dan melaju di zona hijau, memanfaatkan kenaikan harga minyak mentah global.
Analis Vibiz Research Center melihat bahwa pergerakan Wall Street ke depan masih akan sangat sensitif terhadap dinamika di Timur Tengah. Jika eskalasi militer terus berlanjut, kekhawatiran terhadap pasokan energi global berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi, yang pada gilirannya dapat terus menekan prospek pertumbuhan ekonomi dan memicu aksi penghindaran risiko yang lebih luas di pasar finansial.







