(Vibiznews – Economy) – Tingkat inflasi tahunan di Amerika Serikat mengalami percepatan di luar perkiraan pada bulan Mei 2026, didorong oleh pemasukan biaya energi yang tajam sebagai dampak dari ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) AS, tingkat inflasi tahunan (YoY) melonjak menjadi 4,2% pada Mei 2026, merupakan level tertinggi sejak April 2023.
Data ini meningkat signifikan dari posisi 3,8% pada bulan April dan bergerak sesuai dengan ekspektasi pasar. Data ini juga sekaligus mencatat percepatan inflasi bulanan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Sektor energi menjadi kontributor terbesar dalam laporan inflasi bulan ini akibat guncangan pasokan global yang dipicu oleh konflik dengan Iran. Secara tahunan, total biaya energi meroket hingga 23,5%, melonjak dari kenaikan 17,9% pada bulan April.
Komoditas bensin mencatat lonjakan tajam sebesar 40,5% setelah kenaikan 28,4% pada bulan sebelumnya, sementara harga bahan bakar juga ikut mengalami kenaikan 58,9% (vs 54,3% pada bulan April).
Selain sektor energi, tekanan inflasi juga kembali naik pada sektor perumahan yang mencatat kenaikan 3,4% (vs 3,3% pada bulan April) serta sektor pangan yang ikut mencapai angka 3,1% (vs 2,3% pada bulan April).
Secara bulanan (MoM), Indeks Harga Konsumen (CPI) utama AS naik 0,5%, sedikit melandai dibandingkan dengan kenaikan 0,6% pada bulan April dan sesuai dengan perkiraan pasar.
Sektor energi menyumbang lebih dari 60% dari total kenaikan bulanan tersebut dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,9%.
Sementara itu, tingkat inflasi inti tahunan , yang tidak mencakup komponen pangan dan energi yang bergejolak, naik tipis menjadi 2,9%. Angka ini merupakan rekor tertinggi baru sejak September 2025, naik dari 2,8% pada bulan April dan bergerak sesuai dengan perkiraan para ekonom.
Namun, sebagai angin segar bagi pasar, data inflasi inti secara bulanan (MoM) justru menunjukkan perlambatan dengan hanya naik 0,2%. Data ini lebih rendah dari pencapaian 0,4% pada bulan April serta berada di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan kenaikan 0,3%.
Melandainya inflasi inti bulanan memberi sinyal bahwa tekanan harga belum sepenuhnya merembet ke sektor jasa dan barang non-energi lainnya.
Meskipun inflasi bulanan memberikan sedikit kelegaan, angka inflasi utamayang berada di level 4,2% tetap bertahan jauh di atas target jangka panjang Federal Reserve yang sebesar 2%.
Para analis menilai, rilis data yang kokoh ini akan memperkuat posisi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Kemungkinan besar The Fed akan menahan suku bunga acuan di level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, atau bahkan membuka opsi kenaikan suku bunga lanjutan jika tekanan harga energi global terus berlanjut.
Kondisi ini langsung direspon oleh pasar keuangan global dengan meningkatnya sikap berhati-hati di kalangan investor, yang mengantisipasi langkah-langkah pengetatan lanjutan dari bank sentral AS dalam pertemuan mendatang.





