(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah Brent bergerak melemah tajam pada perdagangan komoditas sesi Eropa hari Selasa (23/6/2026), memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya hingga menyentuh level terendah dalam hampir tiga bulan terakhir.
Penurunan ini dipicu oleh tanda-tanda kemajuan signifikan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global.
Harga spot minyak mentah Brent berada di posisi $77,37 atau turun 0,78%, untuk kontrak berjangka bulan Mei 2026 yang paling banyak diperdagangkan di ICE Eropa turun 0,55% menjadi $76,97 per barel.
Sentimen bearish utama datang dari langkah mengejutkan Washington yang memberikan izin selama 60 hari bagi Iran untuk kembali menjual minyaknya di pasar internasional. Kebijakan ini langsung merespons pelaku pasar dengan ekspektasi peningkatan pasokan global yang lebih cepat dari perkiraan semula.
Secara riil, arus distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah mulai menunjukkan kelancaran. Lalu lintas komersial melalui Selat Hormuz dilaporkan mengalami peningkatan volume.
Sejumlah negara produsen utama seperti Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) telah mengoptimalkan penggunaan jalur alternatif ekspor untuk memastikan kelancaran logistik.
Sementara itu, Iran sendiri dilaporkan telah mengirimkan lebih dari 30 juta barel minyak mentah sepanjang pekan lalu, menambah tekanan pasokan di pasar global yang sedang mengalami pemulihan distribusi.
Meskipun pasar diliputi sentimen melimpahnya pasokan jangka pendek, penurunan harga minyak masih tertahan oleh volatilitas geopolitik yang belum sepenuhnya reda. Fokus pasar kini dimulai pada membahas seputar program nuklir Teheran.
Laporan dari media resmi Iran baru-baru ini membantah klaim Wakil Presiden AS, JD Vance, yang menyatakan bahwa Teheran akan mengizinkan kembali masuknya inspektur nuklir internasional ke negara tersebut.
Bantahan ini mengindikasikan bahwa perundingan damai kedua belah pihak masih berjalan di atas landasan yang rapuh.
Menurut analis Vibiz Research Center menilai bahwa dalam jangka pendek, harga minyak Brent masih cenderung tertekan di bawah level $80 per barel seiring bergulirnya masa izin dagang 60 hari bagi Iran.
Namun, mengingat dinamika politik Timur Tengah yang sangat dinamis, kepastian kembalinya inspeksi tur nuklir ke Iran akan menjadi kunci penting bagi arah pergerakan harga minyak selanjutnya. Jika negosiasi mengalami jalan buntu, harga minyak berisiko kembali mengalami rebound secara agresif.








