Rebound Rupiah dan IHSG Berlanjut, setelah Konsolidasi ke Mana? — Domestic Market Outlook, 22-26 June 2026

99
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • Pasar keuangan di minggu lalu melanjutkan rebound sebelumnya, baik IHSG maupun rupiah, namun bergerak lebih fluktuatif dan konsolidatif.
  • BI Rate kembali dinaikkan 25 bps menjadi 5,75%.
  • Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia April tumbuh 1,9% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
  • Sentimen global saat ini sekitar pembicaraan damai AS-Iran, walaupun masih diragukan pasar akan ketahanannya; turunnya harga minyak mentah dunia, serta arah kenaikan suku bunga global.
  • Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah rilis jumlah uang beredar bulan Mei pada Selasa nanti.

Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 22-26 June 2026.

===

Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau melanjutkan rebound pekan sebelumnya, sempat di sebulan tertingginya dipimpin sektor energi, kemudian fluktuatif setelah MSCI merilis Global Market Accessibility Review yang menyorot terutama sisi Information Flow pasar modal Indonesia. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed di tengah bertambahnya estimasi naiknya suku bunga global. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 2,82%, atau 169,483 poin, ke level 6.177,139.

Untuk minggu berikutnya (22-26 Juni 2026), IHSG kemungkinan akan konsolidasi dalam bias menguat, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.460 dan 6.631. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 5,677 dan bila tembus ke level 5,371.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu meneruskan rebound walau lebih fluktuatif, dan sempat mencapai sekitar level 3,5 minggu tertingginya lalu terkoreksi, setelah kembali naiknya BI Rate 25 bps menjadi 5,75% serta rally-nya dollar global. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 85 poin atau 0,48% ke level Rp17.780 per USD. Sementara, dollar global sepanjang pekan melaju ke sekitar 13 bulan tertingginya oleh naiknya prospek kenaikan suku bunga the Fed di akhir tahun ini.

Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan masih bisa menurun dengan tempo lebih terbatas, atau rupiah berpeluang bias menguat secara lebih bertahap, dalam range antara resistance di level Rp17.995 dan Rp18.180, sementara support di level Rp17.690 dan Rp17.600.

Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau naik secara mingguannya, terlihat dari pergerakan turun yield obligasi dan berakhir ke level 7,070%. Sementara yields US Treasury terpantau terkoreksi di pekan kedua.

===

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.

BI menyatakan ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah tetap tinggi, meskipun sedikit mereda setelah dilakukannya interim deal antara Amerika Serikat (AS)-Iran tanggal 14 Juni 2026. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik didukung oleh permintaan domestik. Konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi sejalan berlanjutnya realisasi program-program prioritas serta percepatan belanja Pemerintah.

Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7%.

Posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tetap terjaga. Posisi ULN Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 439,8 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh sebesar 1,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Maret. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi ULN sektor swasta yang berlanjut.

===

 

Berita pasar, apakah isyu dari kawasan Amerika, Eropa, atau dari the Federal Reserve, acapkali memengaruhi pasang surutnya pasar investasi. Satu saat sepertinya memberi harapan, pada kesempatan lain memutuskan ekspektasinya. Sangat tidak menentu. Sering juga spekulasi pasar terbentuk untuk menggerakkan pasar itu sendiri. Kita tidak menyalahkan pasar atas hal tersebut. Pasar tidak pernah salah. Kita, sebagai investor, yang harus mengerti siapa pasar, apa perilakunya dan psikologinya, serta bagaimana penyebabnya.

Vibiznews.com dapat menjadi pendukung bagi Anda untuk memahami pasar investasi lebih baik. Bagi Anda kami selalu hadir mendampingi. Saat ini, kami sampaikan terimakasih kepada para pembaca yang telah bersama terus dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting