(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah melonjak mencapai level tertinggi dalam 3,5 minggu dan ditutup meroket di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran yang menggangu jalur pelayaran Selat Hormuz.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS berakhir meroket 9,42% pada $78,14 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent berakhir melonjak 6,16% pada $83,30 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah meningkat pada hari Senin setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS memberlakukan kembali blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz.
Harga minyak mentah melonjak setelah pada akhir pekan, AS melancarkan serangan rudal baru terhadap Iran, menargetkan sistem pertahanan udara Iran, situs radar pantai, dan kemampuan rudal dan drone. Iran melancarkan serangan balasan rudal dan drone ke target di Yordania, Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Iran juga menyerang dua kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Trump menambahkan bahwa, jika tidak, selat tersebut akan tetap terbuka “dengan atau tanpa Iran” dan bahwa AS akan menjadi “penjaga” jalur air tersebut, menuntut penggantian biaya sebesar 20% dari seluruh kargo yang dikirim untuk memberikan perlindungan di daerah tersebut.
Pemberlakuan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dapat mendorong Iran untuk meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak mentah dapat bergerak naik terpicu meningkatnya ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz yang mengganggu pelayaran pengiriman minyak, sehingga menguatkan harga minyak.
Harga minyak mentah berjangka WTI diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $80,28-$82,41. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $74,31-$70,47.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $85,6-$88,06. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $79,10-$74,90.








