Harga Emas Anjlok, Membeli Saat Koreksi Masuk Akal

89
Emas

(Vibiznews-Kolom) Harga emas mengalami beberapa bulan yang berat, sehingga narasi bullish terhadap logam mulia ini tampak memudar. Namun demikian, emas tetap memiliki peran penting dalam portofolio investasi, dan kondisi saat ini dapat menjadi momentum yang tepat untuk membeli ketika harga sedang terkoreksi.

Reli harga emas yang telah berlangsung selama bertahun-tahun justru berakhir, secara ironis, ketika perang Iran pecah. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga emas telah turun 22%. Hal ini tampak paradoks. Bukankah krisis geopolitik yang memicu tekanan harga secara global seharusnya menjadi sentimen positif bagi aset yang selama ini dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakstabilan?

Para investor tampaknya bertaruh bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap tekanan inflasi, yang pada akhirnya akan mengurangi daya tarik emas dibandingkan kas karena emas tidak memberikan imbal hasil. Secara historis, emas cenderung berkinerja paling baik ketika suku bunga riil (real interest rates), yaitu suku bunga yang telah disesuaikan dengan inflasi, sedang menurun, ujar Giovanni Staunovo, ahli strategi komoditas dari UBS Chief Investment Office.

Beredar rumor yang terus berkembang di pasar bahwa sejumlah bank sentral di Timur Tengah menjual emas selama konflik berlangsung untuk memperoleh likuiditas yang dibutuhkan. Namun, menurut Staunovo, satu-satunya penjualan yang telah terkonfirmasi adalah oleh Turki. Bank Sentral Turki menjual 81 metrik ton emas pada paruh pertama tahun ini, berdasarkan data World Gold Council, dengan nilai sekitar US$10,6 miliar pada harga saat ini.

Walaupun penurunan harga emas terasa cukup mengejutkan, diperlukan perspektif yang lebih luas. Dalam periode 12 bulan terakhir, harga emas masih mencatat kenaikan sebesar 21%, sedikit lebih tinggi dibandingkan indeks S&P 500. Selain itu, kedua alasan yang dikaitkan dengan pelemahan emas selama krisis tersebut belum cukup kuat untuk menggugurkan reputasinya sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko.

Pertama, lihatlah kepemilikan emas oleh bank-bank sentral dunia. Jika memang cadangan emas terbukti menjadi sumber likuiditas yang berguna selama masa krisis, maka hal tersebut justru memperkuat posisi emas sebagai aset cadangan, meskipun reaksi harga jangka pendek menunjukkan pelemahan.

Data World Gold Council menunjukkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral meningkat tajam sejak invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Kondisi ini sebagian mencerminkan keinginan sejumlah negara di luar blok Barat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat serta menekan risiko terkena sanksi ekonomi.

Namun, permintaan emas tidak hanya datang dari negara-negara seperti Rusia dan China. Hal ini menunjukkan meningkatnya kewaspadaan global terhadap risiko geopolitik. Pembeli bersih terbesar pada paruh pertama tahun ini adalah Polandia, menurut World Gold Council.

Sementara itu, mengenai Federal Reserve, hingga kini masih belum jelas bagaimana bank sentral Amerika Serikat tersebut akan merespons kenaikan harga minyak. Pasar memang sempat memperoleh sedikit kelegaan ketika gencatan senjata Iran diumumkan, tetapi harga minyak kembali bergerak naik setelah konflik kembali memanas.

Federal Reserve memang bisa saja menaikkan suku bunga, tetapi hal itu masih jauh dari kepastian. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September saat ini berada di kisaran 50%.

Sikap Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, yang kurang menyukai praktik forward guidance, justru semakin menambah ketidakpastian arah kebijakan. Hingga saat ini, ia hanya menyampaikan komitmen terhadap stabilitas harga tanpa memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai langkah kebijakan selanjutnya.

Warsh juga telah membentuk beberapa gugus tugas untuk mengkaji berbagai isu, mulai dari faktor-faktor yang memengaruhi inflasi hingga dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence) terhadap produktivitas. Hasil kajian tersebut kemungkinan baru akan tersedia menjelang akhir tahun.

Salah satu kemungkinan adalah Federal Reserve yang baru bergerak terlalu lambat dalam merespons lonjakan harga minyak karena masih berupaya membangun kerangka pemikiran kebijakannya. Kondisi tersebut dapat memberi ruang bagi tekanan inflasi yang lebih luas untuk berkembang.

Kemungkinan lainnya adalah euforia investasi di bidang kecerdasan buatan mulai mereda sehingga Federal Reserve justru melonggarkan kebijakan moneternya, meskipun harga minyak tetap tinggi akibat faktor geopolitik. Kedua skenario tersebut berpotensi menyebabkan penurunan suku bunga riil, yang pada akhirnya akan menjadi sentimen positif bagi harga emas.

Mungkin argumen paling kuat yang mendukung kepemilikan emas justru terlihat dari perilaku pasar saham, yang terus menguat sepanjang sebagian besar periode perang berlangsung. Para investor saham secara umum masih sangat optimistis terhadap prospek kecerdasan buatan. Di sisi lain, mereka tampak sangat mengabaikan berbagai risiko yang berasal dari Iran maupun kawasan lain.

Dalam situasi seperti ini, mempertahankan sebagian alokasi investasi pada emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap berbagai risiko yang tidak terduga merupakan langkah yang rasional. Ketika harga saham mencerminkan ekspektasi terhadap dunia yang berjalan sempurna (goldilocks world), sering kali justru terdapat nilai yang menarik pada investasi emas.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, penurunan harga emas global tidak serta-merta mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi. Bagi investor domestik, harga emas dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu pergerakan harga emas dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ketika harga emas global melemah tetapi rupiah juga mengalami depresiasi, penurunan harga emas di pasar domestik biasanya menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, apabila harga emas dunia turun dan rupiah menguat, harga emas di Indonesia cenderung terkoreksi lebih dalam.

Dalam konteks portofolio investasi, emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi global, terutama di tengah meningkatnya risiko geopolitik, fluktuasi harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia. Bagi investor Indonesia, momentum pelemahan harga emas dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap (dollar-cost averaging), bukan dengan membeli sekaligus dalam jumlah besar. Strategi ini membantu mengurangi risiko memperoleh harga beli yang terlalu tinggi apabila volatilitas masih berlanjut.

Prospek emas di Indonesia juga akan dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia, pergerakan inflasi domestik, dan stabilitas nilai tukar rupiah. Selama ketidakpastian global masih tinggi dan permintaan emas dari bank-bank sentral dunia tetap kuat, emas berpotensi mempertahankan fungsinya sebagai aset diversifikasi yang penting dalam portofolio investasi masyarakat Indonesia, meskipun fluktuasi harga jangka pendek masih mungkin terjadi.