(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York ditutup melemah tajam pada perdagangan hari Selasa, tertekan oleh melimpahnya pasokan fisik dari Afrika Barat serta berlanjutnya rekor persediaan di tingkat global.
Harga kontrak berjangka kakao acuan dunia pada hari ini, Selasa (28/7), ditutup ambles 3,37% dan menetap di level US$5.150,90 per metrik ton. Sepanjang sesi perdagangan di pasar komoditas, harga bahan baku utama industri pangan tersebut bergerak dalam rentang harian antara level terendah US$5.085,00 hingga level tertinggi US$5.559,00.
Penurunan tajam ini membawa harga kakao terpuruk ke level terendahnya dalam tiga minggu terakhir, sekaligus melanjutkan tren koreksi dari puncak tertingginya di bulan ini yang sempat menyentuh level US$6.455 pada 9 Juli lalu. Secara kinerja satu tahun terakhir, harga komoditas ini telah mencatatkan penurunan drastis sebesar 37,27% dibandingkan posisi tahun lalu, menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat mendekati level US$12.906 pada akhir tahun 2024.
Tekanan jual masif di pasar berjangka utamanya dipicu oleh faktor melimpahnya pasokan dari Pantai Gading. Akumulasi data terbaru menunjukkan bahwa para petani di negara tersebut telah mengirimkan 2,11 juta metrik ton kakao ke pelabuhan, mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 21% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain lonjakan pengiriman fisik, persediaan kakao yang terdaftar resmi di gudang bursa ICE juga terus merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir, yakni mencapai 3.361.752 karung. Melimpahnya ketersediaan komoditas siap pakai di gudang ini menjadi katalis utama yang mendorong penurunan harga pasar (bearish).
Dari sisi permintaan, pasar turut merespons sentimen negatif dari koreksi serapan industri di wilayah Eropa. Data dari European Cocoa Association melaporkan bahwa volume penggilingan kakao (grindings) kuartal kedua di Eropa mengalami penurunan tajam hingga 4,6% secara tahunan. Angka konsumsi manufaktur ini dinilai jauh lebih buruk dari ekspektasi pasar sebelumnya.
Menghadapi dinamika harga komoditas saat ini, produsen cokelat raksasa global seperti Lindt mulai menunjukkan sikap yang lebih fleksibel dengan mengonfirmasi adanya peluang pemotongan harga produk secara selektif. Langkah strategis ini rencananya akan diambil guna merangsang kembali pertumbuhan volume penjualan di tingkat konsumen, setelah daya beli masyarakat sempat terpukul oleh harga bahan baku yang sangat mahal dalam beberapa tahun terakhir.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao masih berpotensi dibayangi oleh sentimen tekanan jual terpicu melimpahnya pasokan fisik jangka pendek dan lesunya serapan industri di Eropa. Harga kakao diperkirakan bergerak jika melanjutkan koreksinya menguji kisaran Support US$5.085-US$5.000. Namun jika terjadi aksi beli teknikal dan berbalik arah, harga akan bergerak naik menguji kisaran Resistance US$5.350-US$5.559.








