(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wallstreet pada penutupan pasar hari Rabu ditutup anjlok tajam menyusul aksi jual massal yang melanda pasar ekuitas. Sentimen pasar hancur setelah Bank Sentral AS (The Fed) menahan suku bunga acuan namun memancarkan sinyal pengetatan, diperparah oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah serta kembali memanasnya ancaman perang terbuka di Timur Tengah.
Indeks Dow Jones Industrial Average terjun bebas -2,22% atau 1.153,18 poin ke level 51.594,14, yang merupakan salah satu hari penurunan tertajam bagi Dow Jones pada tahun ini. Indeks S&P 500 merosot -1,52% atau 112,63 poin ke posisi 7.316,15, menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir. Sementara itu, Indeks Nasdaq Composite anjlok -1,74% atau 433,97 poin ke level 24.442,94. Penurunan ini membawa indeks Nasdaq 100 resmi memasuki area koreksi teknikal setelah anjlok 11% dari rekor tertingginya pada bulan Juni lalu.
Kekecewaan terhadap keputusan suku bunga The Fed menjadi penekan utama bursa. The Fed memang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75%, namun pasar menangkap sinyal adanya perpecahan internal (hawkish dissent). Sebanyak 3 dari 12 anggota komite FOMC secara terbuka lebih memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin demi meredam kebangkitan inflasi. Sinyal ketatnya kebijakan ini memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS tenor 30 tahun ke level tertinggi sejak tahun 2007.
Dari sisi geopolitik, sentimen pasar kian hancur setelah Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi adanya serangan rudal balistik mendadak dari Iran ke basis militer AS di Timur Tengah. Meski rudal berhasil dicegat, ketegangan ini memicu ancaman perang terbuka dan membuat harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7% menembus di atas $88 per barel. Lonjakan harga energi ini langsung memicu kekhawatiran baru bahwa inflasi AS akan kembali meroket dan menyulitkan pemangkasan suku bunga ke depan.
Saham-saham yang menggerakkan bursa hari Rabu diwarnai oleh aksi jual masal. Investor ritel dan institusi mencatatkan volume penjualan bersih saham individu terbesar sejak era pandemi COVID-19. Saham semikonduktor kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya menjadi motor reli pasar tahun ini kembali dilepas secara agresif. Saham raksasa chip seperti Micron Technology, AMD, dan Nvidia memimpin rentetan kejatuhan di indeks Nasdaq.
Pelemahan juga didorong oleh sikap hati-hati menjelang rilis laporan keuangan. Pelaku pasar memilih mengamankan dana (de-risking) sesaat sebelum rilis laporan keuangan kuartalan dua raksasa teknologi, Microsoft dan Meta Platforms, yang dijadwalkan keluar seusai bel penutupan perdagangan. Investor khawatir bahwa belanja modal (capex) yang besar pada infrastruktur AI belum sebanding dengan pertumbuhan profitabilitas perusahaan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall-Street pada sesi selanjutnya akan sangat merespons hasil rilis pendapatan dari raksasa teknologi, mengamati dinamika lonjakan inflasi energi akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah, serta mencermati pergerakan imbal hasil obligasi AS.








