
Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah sempat tertekan menyusul rilis data inflasi Juli yang sesuai ekspektasi. Pergerakan tersebut mencerminkan tarik-menarik antara dua kekuatan utama yang kini membentuk arah pasar valuta asing: prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Data inflasi konsumen AS yang dirilis pada Rabu tidak memberikan kejutan berarti bagi pasar. Inflasi utama dan inflasi inti sama-sama sesuai dengan perkiraan ekonom, sekaligus menunjukkan perlambatan secara tahunan.
Kondisi tersebut sempat mendorong dolar melemah karena investor mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Namun, pelemahan dolar tidak bertahan lama.
Ketidakpastian terkait kesepakatan damai di Timur Tengah, khususnya menyangkut Selat Hormuz, kemudian memberikan dukungan terhadap dolar. Investor kembali memperhitungkan risiko geopolitik yang dapat memengaruhi pasar energi dan perekonomian global.
Pada pukul 14.44 waktu New York atau 18.44 GMT, indeks dolar AS naik 0,2% menjadi 99,98. Indeks tersebut sebelumnya sempat turun hingga 99,61 setelah data CPI dirilis pada pagi hari, sebelum berbalik arah dan bergerak lebih tinggi menjelang tengah hari.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat data inflasi sebagai penentu arah dolar. Ketika risiko geopolitik meningkat, faktor keamanan dan permintaan terhadap aset yang dianggap relatif aman kembali mengambil peran.
CPI Sesuai Ekspektasi, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Berkurang
Fokus utama pasar valuta asing pada Rabu memang tertuju pada laporan CPI Juli. Data tersebut menjadi penting karena sebelumnya pasar telah mengalami perubahan ekspektasi yang cukup besar setelah laporan ketenagakerjaan AS Juli menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan.
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI utama naik 0,1% secara bulanan pada Juli, setelah turun 0,4% pada Juni.
Secara tahunan, inflasi utama melambat menjadi 3,4% dari 3,5%.
Sementara itu, CPI inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi meningkat 0,2% secara bulanan, setelah tidak berubah pada Juni. Secara tahunan, inflasi inti juga melambat menjadi 2,5% dari 2,6%.
Keempat angka tersebut seluruhnya sesuai dengan ekspektasi pasar.
Bagi investor, tidak adanya kejutan kenaikan menjadi hal penting. Pasar sebelumnya mengkhawatirkan kemungkinan bahwa tekanan harga kembali meningkat sehingga memaksa The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga.
Namun, data Juli justru memberikan gambaran berbeda. Inflasi tidak kembali meningkat, sementara pasar tenaga kerja sebelumnya juga menunjukkan pelemahan.
Kombinasi tersebut membuat The Fed memiliki lebih banyak ruang untuk menunggu sebelum mengambil keputusan mengenai suku bunga.
Peluang The Fed Tahan Suku Bunga Meningkat
Ekspektasi pasar langsung merespons data tersebut.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas Federal Open Market Committee (FOMC) mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi 62% setelah laporan CPI, dari 54% sebelumnya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut secara teori dapat menjadi tekanan bagi dolar. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar karena investor memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi.
Sebaliknya, ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, daya tarik tersebut dapat berkurang.
Namun, kali ini dinamika tersebut tidak berlangsung secara sederhana.
Dolar memang melemah sesaat setelah data CPI keluar, tetapi kemudian berbalik menguat. Pasar harus memperhitungkan faktor lain yang tidak kalah penting: risiko geopolitik dan potensi dampaknya terhadap harga energi.
Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management, menilai justru absennya kejutan dalam laporan inflasi menjadi kabar positif bagi pasar.
Menurutnya, kombinasi inflasi yang tidak kembali meningkat dan laporan ketenagakerjaan yang lemah memberikan The Fed lebih banyak waktu untuk menunggu sebelum mengambil keputusan.
Dalam kondisi normal, pasar mungkin akan menyambut prospek pemangkasan suku bunga. Namun, ketika sebagian pelaku pasar justru memperkirakan kenaikan suku bunga, segala sesuatu yang dapat menunda atau bahkan menghilangkan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga dapat dipandang positif.
Pandangan tersebut juga tercermin pada pasar saham. Indeks S&P 500 naik sekitar 0,4%, menunjukkan bahwa investor secara umum menerima data inflasi tersebut dengan cukup positif.
Perhatian Beralih ke PPI dan PCE
Meskipun CPI menjadi perhatian utama pasar, laporan inflasi Juli belum menjadi penentu terakhir bagi kebijakan The Fed.
Pada Kamis, pasar akan mendapatkan data Producer Price Index (PPI) atau indeks harga produsen Juli.
PPI penting karena mengukur perubahan harga di tingkat produsen dan dapat memberikan gambaran mengenai tekanan biaya yang berpotensi diteruskan kepada konsumen.
Selain CPI dan PPI, The Fed memiliki ukuran inflasi favoritnya sendiri, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index.
Sejumlah komponen CPI dan PPI digunakan dalam perhitungan PCE. Karena itu, data-data tersebut tetap memiliki arti penting dalam memperkirakan arah inflasi yang menjadi perhatian bank sentral.
Bagi The Fed, kombinasi data ketenagakerjaan dan inflasi akan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan langkah berikutnya.
Jika inflasi terus melandai sementara pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, alasan untuk menaikkan suku bunga akan semakin berkurang.
Namun, apabila harga energi kembali melonjak dan mendorong inflasi naik, situasinya dapat berubah dengan cepat.
Selat Hormuz Menjadi Sumber Risiko Baru
Di sinilah faktor geopolitik mulai memainkan peran penting.
Harga minyak berfluktuasi pada Rabu di tengah ketidakpastian mengenai masa depan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak global, sempat menyentuh US$90 per barel.
Pasar masih belum melihat kemajuan berarti dalam upaya mencapai kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Amerika Serikat dan Iran masih mempertahankan posisi masing-masing mengenai kendali atas Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan melalui Truth Social bahwa Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran menyatakan bahwa selat tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum AS mengubah kebijakannya dan memenuhi sejumlah tuntutan Teheran.
Ketidakpastian tersebut membuat pasar energi berada dalam kondisi sangat sensitif.
Sedikit saja muncul indikasi bahwa pasokan minyak akan terganggu, harga minyak dapat kembali melonjak. Sebaliknya, tanda-tanda deeskalasi dapat dengan cepat meredakan tekanan harga.
Harga Minyak Bisa Mengubah Narasi Inflasi
Bagi pasar keuangan, persoalan Selat Hormuz bukan hanya mengenai geopolitik.
Dampaknya dapat menjalar langsung ke inflasi AS.
Kenaikan harga minyak akan mendorong harga bensin dan bahan bakar lainnya. Dampaknya kemudian dapat menyebar ke biaya transportasi, logistik, produksi, dan distribusi barang.
Jika kenaikan tersebut bertahan cukup lama, tekanan harga dapat kembali muncul dalam data inflasi konsumen.
Dengan demikian, data CPI Juli yang relatif jinak belum tentu menjadi akhir dari persoalan inflasi.
Pasar justru menghadapi pertanyaan baru: apakah penurunan inflasi akan bertahan jika harga minyak kembali naik?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan karena ekonomi AS masih berusaha mencapai target inflasi 2%.
Jika tekanan energi kembali muncul, The Fed mungkin menghadapi dilema yang lebih sulit. Menahan suku bunga dapat membantu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi kenaikan inflasi akibat energi dapat membuat kebijakan tersebut terlihat terlalu longgar.
Sebaliknya, menaikkan suku bunga untuk merespons tekanan inflasi yang berasal dari energi berisiko memperlambat ekonomi lebih dalam.
Dolar Mendapat Dukungan dari Ketidakpastian
Dinamika inilah yang menjelaskan mengapa dolar mampu menghapus kerugian setelah data CPI dan kembali bergerak positif.
Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga turun, dolar memang menghadapi tekanan. Namun, meningkatnya ketidakpastian geopolitik memberikan dukungan lain melalui meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap relatif aman.
Investor kini harus menimbang dua narasi sekaligus.
Narasi pertama adalah disinflasi. Inflasi AS melambat, pasar tenaga kerja melemah, dan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September berkurang.
Narasi kedua adalah risiko energi dan geopolitik. Ketegangan di Timur Tengah dapat mendorong harga minyak lebih tinggi dan menghidupkan kembali tekanan inflasi.
Kedua kekuatan tersebut bergerak berlawanan dan membuat arah dolar menjadi lebih sulit diprediksi.
Dolar Kembali Menguat, Yen dan Mata Uang Eropa Tertekan
Pergerakan tersebut juga terjadi di tengah dinamika mata uang utama lainnya.
Yen Jepang kembali melemah terhadap dolar setelah sebelumnya memperoleh keuntungan dari intervensi bersama bersejarah antara Washington dan Tokyo pada akhir bulan lalu.
Pasangan USD/JPY naik 0,1% menjadi 159,46.
Di Jepang, survei terbaru Reuters Tankan menunjukkan kepercayaan dunia usaha membaik pada Agustus. Peningkatan tersebut didukung oleh kuatnya permintaan semikonduktor dan konsumsi domestik.
Survei Reuters Tankan juga menjadi indikator awal sebelum survei bisnis triwulanan Bank of Japan.
Sementara itu, euro melemah 0,2% menjadi US$1,1524, sedangkan pound sterling turun 0,1% menjadi US$1,3491.
Pasar Menghadapi Persimpangan
Pergerakan dolar pada Rabu memperlihatkan bahwa pasar global saat ini berada pada persimpangan.
Di satu sisi, data inflasi memberikan alasan bagi The Fed untuk lebih sabar. CPI utama dan inti sama-sama sesuai ekspektasi dan melambat secara tahunan. Ditambah laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah, data tersebut mengurangi urgensi untuk menaikkan suku bunga.
Namun, risiko geopolitik dapat mengubah situasi tersebut.
Jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut dan harga minyak bertahan di sekitar atau bahkan menembus US$90 per barel, tekanan inflasi dapat kembali menjadi perhatian utama.
Untuk sementara, pasar tampaknya masih memberikan respons positif terhadap data CPI. Namun, investor belum dapat menganggap persoalan inflasi telah selesai.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada data PPI, perkembangan pasar tenaga kerja, dan terutama arah harga minyak.
Bagi dolar AS, pertarungan antara ekspektasi suku bunga dan risiko geopolitik kemungkinan masih akan menjadi tema utama.
Jika inflasi terus melandai dan The Fed mempertahankan suku bunga, tekanan terhadap dolar dapat meningkat. Tetapi jika ketegangan Timur Tengah mendorong harga energi kembali melonjak, ekspektasi inflasi dapat berubah dan memberikan dukungan baru bagi greenback.
Dengan kata lain, data CPI Juli memang meredakan kekhawatiran inflasi, tetapi belum menghilangkan risiko yang dapat mengubah arah pasar. Di tengah ketidakpastian Selat Hormuz, investor masih harus bersiap menghadapi volatilitas—baik di pasar valuta asing, obligasi, saham, maupun komoditas energi.





