Penjualan Ritel AS Juli Turun Pertama Kalinya Dalam 9 Bulan

105
wall street
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy & Business) Penjualan ritel AS turun pada bulan Juli untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan.

Penurunan tak terduga dalam penjualan ritel yang dilaporkan oleh Departemen Perdagangan pada hari Jumat ini juga merupakan dampak dari keputusan Amazon memajukan acara Prime Day dari bulan Juli ke Juni, ditambah dengan promosi tandingan dari pengecer lain. Penurunan harga bensin juga turut menekan pendapatan di stasiun pengisian bahan bakar.

Laporan ini, bersama dengan data hilangnya lapangan kerja yang tak terduga bulan lalu serta angka inflasi yang rendah, memperkuat ekspektasi pasar keuangan bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga pada bulan September, kecuali jika terjadi lonjakan tak terduga pada data harga dan ketenagakerjaan bulan Agustus.

Penjualan ritel turun 0,6% bulan lalu setelah mencatat kenaikan 0,2% (tanpa revisi) pada bulan Juni, menurut Biro Sensus Departemen Perdagangan. Penurunan ini merupakan yang pertama sejak Oktober lalu dan yang terbesar dalam 14 bulan terakhir. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebelumnya memperkirakan penjualan ritel—yang sebagian besar mencakup barang dan belum disesuaikan dengan inflasi—akan naik tipis sebesar 0,1%.

Estimasi berkisar antara penurunan 0,5% hingga kenaikan 0,7%. Secara tahunan (*year-on-year*), penjualan ritel meningkat 5,0% pada bulan Juli. Menurut para ekonom, konsumen kini semakin sensitif terhadap kenaikan harga serta lebih selektif dan cermat dalam melakukan pembelian.

Penurunan bulanan ini terutama didorong oleh penurunan penjualan sebesar 2,2% pada pengecer non-toko (*non-store retailers*). Pendapatan dealer kendaraan bermotor dan suku cadang anjlok 1,8%. Penjualan di toko elektronik dan peralatan rumah tangga turun 0,5%, sementara pendapatan di stasiun pengisian bahan bakar turun 0,9% akibat penurunan harga bensin.

Namun, penjualan di toko pakaian kembali naik 1,9%, kemungkinan didorong oleh aktivitas belanja kebutuhan sekolah (*back-to-school*).

Pendapatan di sektor layanan makanan dan tempat minum—satu-satunya komponen jasa dalam laporan tersebut—meningkat 0,5% setelah sebelumnya naik 0,4% pada bulan Juni. Kategori ini dianggap sebagai indikator utama keuangan rumah tangga. Terjadi peningkatan penjualan di toko furnitur, bahan bangunan, peralatan dan perlengkapan taman, serta di pengecer aneka barang dan gerai kesehatan serta perawatan pribadi.

Penjualan di toko perlengkapan olahraga, hobi, alat musik, dan buku tidak mengalami perubahan. Pengembalian pajak yang cukup besar tahun ini membantu meredam dampak kenaikan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah, sehingga menghasilkan belanja konsumen yang kuat pada kuartal kedua. Para ekonom menyatakan bahwa dana pengembalian pajak tersebut kini telah habis digunakan. Namun, dengan adanya reli pasar saham yang meningkatkan kekayaan rumah tangga, mereka tidak memperkirakan akan terjadi penurunan tajam dalam belanja konsumen.

Penjualan ritel—tidak termasuk mobil, bensin, bahan bangunan, dan layanan makanan—turun 0,4% bulan lalu setelah kenaikan sebesar 0,4% pada bulan Juni (angka yang kemudian direvisi sedikit ke bawah).

Para ekonom sebelumnya memperkirakan bahwa angka yang disebut sebagai penjualan ritel inti ini—yang paling erat kaitannya dengan komponen belanja konsumen dalam produk domestik bruto—akan naik 0,3%, menyusul kenaikan 0,5% yang dilaporkan sebelumnya untuk bulan Juni.