(Vibiznews-Kolom) Foreign direct investment (FDI) tidak lagi sekadar mencari biaya produksi yang lebih murah. Modal global kini bergerak mengikuti geopolitik, teknologi, energi, dan industri masa depan, menciptakan peta perdagangan baru yang perlu dibaca oleh perusahaan dan negara.
Dunia tidak sedang berhenti globalisasi, tetapi sedang mengubah arah
Selama beberapa tahun terakhir, istilah seperti deglobalisasi, decoupling, dan reshoring semakin sering muncul dalam pembicaraan mengenai ekonomi global. Ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, perang tarif, dan gangguan rantai pasok menimbulkan kesan bahwa dunia sedang bergerak menuju ekonomi yang semakin terfragmentasi. Namun, analisis McKinsey Global Institute (MGI) memberikan gambaran yang sedikit berbeda. Yang sedang terjadi bukan semata-mata berakhirnya globalisasi, melainkan perubahan konfigurasi jaringan perdagangan dunia. Perdagangan global masih tumbuh, tetapi hubungan perdagangan dan investasi semakin diarahkan kepada negara-negara yang secara geopolitik lebih dekat atau lebih selaras.
Perubahan ini penting karena keputusan investasi yang dibuat perusahaan hari ini pada dasarnya merupakan gambaran awal mengenai bagaimana peta ekonomi dunia akan terbentuk beberapa tahun ke depan. Ketika sebuah perusahaan multinasional memutuskan membangun pabrik, tambang, fasilitas energi, atau pusat data di suatu negara, keputusan tersebut tidak hanya menciptakan aktivitas ekonomi pada saat itu, tetapi juga berpotensi mengubah arus perdagangan, rantai pasok, kebutuhan tenaga kerja, dan hubungan bisnis di kawasan tersebut.
FDI menjadi sinyal bagi ekonomi masa depan
Perdagangan sering kali baru memperlihatkan hasil dari keputusan bisnis yang dibuat bertahun-tahun sebelumnya. Sebuah produk yang saat ini diproduksi di suatu negara bisa jadi merupakan hasil keputusan investasi yang dilakukan lima atau bahkan sepuluh tahun sebelumnya. Karena itu, FDI dapat dilihat sebagai salah satu indikator yang memberikan gambaran lebih awal mengenai arah perubahan ekonomi dan perdagangan global. MGI mencoba membaca sinyal tersebut dengan menganalisis sekitar 200.000 proyek atau pengumuman FDI selama satu dekade dan melihat apa yang mungkin terjadi apabila proyek-proyek tersebut benar-benar terealisasi.
Dari pendekatan tersebut terlihat bahwa perusahaan multinasional bukan hanya mengubah lokasi investasinya, tetapi juga mengubah sektor yang menjadi tujuan utama modal. Pergeseran ini menunjukkan bahwa investasi asing semakin terkait dengan perubahan struktural ekonomi dunia. Jika perdagangan mencerminkan apa yang sudah terjadi, maka investasi dapat memberikan petunjuk tentang kapasitas produksi dan jaringan bisnis yang sedang dibangun untuk masa depan.
Modal global mengalir ke industri yang menentukan masa depan
Salah satu temuan utama MGI adalah semakin besarnya konsentrasi investasi pada industri masa depan dan sumber daya yang diperlukan untuk menopangnya. Sekitar tiga perempat proyek investasi yang diumumkan sejak 2022 mengarah pada industri seperti infrastruktur AI, advanced manufacturing, energi, pertambangan, serta sektor-sektor yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan kapasitas produksi baru.
Perubahan tersebut terlihat dari pembangunan semiconductor fabs, gigafactories untuk baterai, dan data centers yang diperkirakan akan meningkat dua hingga tiga kali lipat. Yang menarik bukan hanya pertumbuhan jumlah fasilitas tersebut, tetapi juga perubahan lokasi investasinya. Pembangunan semiconductor fabs semakin bergeser ke Amerika Serikat, sementara gigafactories tidak lagi hanya terkonsentrasi di China, tetapi juga berkembang di Eropa, Indonesia, Malaysia, dan Maroko. Dengan demikian, industri masa depan mulai tersebar ke lebih banyak negara dan menciptakan pusat-pusat produksi baru di luar lokasi tradisionalnya.
Geopolitik semakin menentukan arah investasi
Perubahan geografis tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkembangan geopolitik. MGI menemukan bahwa jarak geopolitik dalam perdagangan telah menurun sekitar 7 persen sejak 2017. Artinya, negara-negara semakin banyak melakukan perdagangan dengan mitra yang memiliki kedekatan posisi geopolitik. Dalam FDI, kecenderungan tersebut bahkan terlihat lebih kuat, dengan perubahan arah investasi berlangsung sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan perubahan dalam perdagangan.
Perubahan tersebut terlihat jelas dalam hubungan investasi antara negara-negara Barat dan China. Pengumuman investasi baru dari perusahaan multinasional Barat ke China turun sekitar 70 persen, sementara proyek-proyek baru di negara-negara maju meningkat. Investasi yang masuk ke Amerika Serikat bahkan meningkat secara signifikan. Perusahaan multinasional tampaknya sedang merencanakan ulang jejak operasional mereka dengan mempertimbangkan bukan hanya faktor ekonomi, tetapi juga keselarasan geopolitik dengan negara tempat mereka berinvestasi.
Asia tidak bergerak dalam satu pola
Di tengah perubahan tersebut, Asia memiliki posisi yang sangat penting karena kawasan ini menyumbang sekitar separuh arus perdagangan global dan sekitar separuh arus FDI global. Namun, Asia tidak dapat dilihat sebagai satu kesatuan dengan pola investasi yang seragam. MGI menunjukkan adanya perbedaan besar antara China, negara-negara Asia maju, ASEAN, dan India dalam posisi mereka terhadap arus modal global.
China dan negara-negara Asia maju seperti Jepang dan Korea merupakan investor keluar yang besar, dengan arus investasi keluar yang jauh lebih besar dibandingkan investasi yang mereka terima. Sebaliknya, ASEAN dan India merupakan penerima FDI bersih, dengan arus masuk sekitar tiga kali lebih besar daripada arus keluar. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perubahan peta investasi global menciptakan peran yang berbeda bagi masing-masing kelompok ekonomi di Asia.
ASEAN menawarkan cerita yang berbeda-beda
Di dalam ASEAN sendiri, arah perkembangannya tidak seragam. Malaysia dan Thailand mengalami pertumbuhan yang kuat, khususnya yang didorong oleh advanced manufacturing dan investasi yang berkaitan dengan AI. Vietnam mendapatkan momentum terutama dalam sektor elektronik, sementara Indonesia menunjukkan momentum sektoral yang kuat dalam pengembangan rantai nilai baterai. India juga menarik perhatian karena pertumbuhan FDI-nya relatif sejalan dengan rata-rata global dan sumber investasinya cukup seimbang antara Amerika Utara, Eropa, dan negara-negara Asia maju.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa persaingan antarnegara Asia semakin kompleks. Negara tidak lagi hanya bersaing berdasarkan biaya tenaga kerja atau besarnya pasar domestik, tetapi juga berdasarkan kemampuan mereka menempati posisi tertentu dalam rantai nilai industri masa depan. Karena setiap negara memiliki keunggulan yang berbeda, perubahan tersebut pada akhirnya membentuk jaringan produksi yang saling melengkapi di seluruh Asia.
Indonesia dan peluang dari pergeseran rantai nilai
Dalam peta tersebut, Indonesia memiliki posisi yang menarik, terutama karena disebut sebagai salah satu lokasi berkembangnya investasi gigafactory baterai. Posisi ini berkaitan dengan momentum Indonesia dalam rantai nilai baterai dan industri kendaraan listrik. Namun, masuknya modal asing tidak dengan sendirinya menjamin terjadinya transformasi ekonomi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana investasi tersebut dapat menciptakan hubungan yang lebih luas dengan industri domestik dan meningkatkan kapasitas ekonomi secara berkelanjutan.
Analisis MGI terhadap lebih dari 900 kombinasi negara dan sektor selama 20 tahun menunjukkan bahwa sekitar 65 persen kasus FDI menghasilkan peningkatan berarti dalam kinerja ekspor. Negara-negara yang berhasil memiliki beberapa kesamaan. Mereka terintegrasi dengan global atau regional value chains, memperkuat infrastruktur yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, termasuk pelatihan tenaga kerja dan infrastruktur transportasi, serta menggunakan FDI sebagai modal awal yang kemudian mendorong investasi domestik.
Dengan demikian, keberhasilan FDI tidak hanya dapat diukur dari nilai investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah apakah investasi tersebut mampu menciptakan hubungan dengan perusahaan lokal, meningkatkan produktivitas, membuka akses ke pasar global, membangun kemampuan tenaga kerja, dan memicu investasi berikutnya dari pelaku domestik.
Risiko ketergantungan pada proyek besar
Perubahan struktur FDI juga membawa risiko. Salah satu fenomena yang menonjol adalah meningkatnya megadeals, yaitu proyek investasi dengan nilai lebih dari US$1 miliar. Megadeals kini menyumbang sekitar separuh nilai investasi yang diumumkan, meningkat dari sekitar 30 persen sebelum pandemi. Besarnya nilai proyek membuat sejumlah kecil investasi dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap struktur suatu industri atau bahkan perekonomian suatu negara.
Namun, ketergantungan terhadap beberapa proyek besar juga dapat menjadi kerentanan. MGI menemukan sekitar 100 negara di mana hanya tiga perusahaan multinasional menyumbang lebih dari separuh investasi pada sektor tertentu. Jika satu atau dua proyek tidak berjalan sesuai rencana, sebagian besar potensi investasi yang diharapkan negara tersebut dapat ikut hilang. Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa proyek-proyek besar tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi mampu membangun ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Peluang terbesar bisa berada di sekitar proyek utama
Ketika sebuah proyek besar dibangun, perhatian biasanya tertuju pada nilai investasi dan perusahaan yang menjadi investor. Padahal, peluang ekonomi yang lebih luas sering kali muncul dari berbagai kebutuhan yang mengelilingi proyek tersebut. Sebuah semiconductor fab, misalnya, membutuhkan bahan kimia, mesin, jasa pemeliharaan, makanan untuk pekerja, logistik, dan berbagai layanan pendukung lainnya.
Di sinilah perusahaan domestik dapat mengambil posisi. Mereka tidak harus menjadi investor utama untuk mendapatkan manfaat dari arus FDI. Mereka dapat menjadi pemasok, penyedia jasa, mitra logistik, penyedia makanan, perusahaan konstruksi, penyedia tenaga kerja terampil, maupun bagian dari berbagai layanan profesional yang dibutuhkan oleh proyek besar tersebut. Dengan pendekatan seperti ini, satu investasi besar dapat berkembang menjadi ekosistem bisnis yang jauh lebih luas.
Koridor ekonomi baru mulai terbentuk
Pergeseran FDI juga menciptakan hubungan ekonomi baru antarnegara. Ketika perusahaan Jepang dan Korea meningkatkan investasi di India, misalnya, muncul potensi terbentuknya koridor baru antara Jepang dan India yang kemudian menciptakan kebutuhan terhadap layanan perbankan, logistik, dan berbagai infrastruktur pendukung perdagangan.
Pola yang sama terlihat di Asia Tenggara. Investasi perusahaan China ke berbagai negara ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia, memperkuat hubungan dalam rantai nilai kendaraan listrik. Pada saat yang sama, perusahaan Jepang dan Korea memperkuat hubungan investasinya dengan India. Dengan kemampuan yang berbeda-beda di setiap negara, Asia semakin membentuk jaringan ekonomi yang saling melengkapi daripada sekadar hubungan perdagangan antarnegara yang berdiri sendiri.
Perusahaan perlu membaca peta lima tahun ke depan
Perubahan ini membawa konsekuensi bagi strategi perusahaan. Ketika FDI dipandang sebagai sinyal mengenai masa depan, perusahaan tidak cukup hanya melihat di mana permintaan berada hari ini. Mereka perlu memperhatikan ke mana perusahaan besar berinvestasi, industri apa yang sedang berkembang, koridor perdagangan mana yang mulai terbentuk, dan kebutuhan baru apa yang kemungkinan muncul ketika proyek-proyek tersebut mulai beroperasi.
Pendekatan tersebut mengubah cara perusahaan membaca persaingan. Alih-alih hanya mengikuti pasar yang sudah terbentuk, perusahaan dapat mencoba mengidentifikasi celah yang belum banyak dilihat pesaing. Jika sebuah kawasan akan menjadi pusat produksi baru dalam lima tahun mendatang, misalnya, maka kebutuhan terhadap logistik, pembiayaan, tenaga kerja, properti, akomodasi, makanan, dan berbagai jasa pendukung juga berpotensi berkembang bersamanya.
FDI adalah peta menuju ekonomi yang belum terbentuk
Pada akhirnya, perubahan FDI menunjukkan bahwa dunia tidak sedang meninggalkan globalisasi, melainkan sedang menggambar ulang peta globalisasi. Rantai pasok menjadi lebih beragam, keputusan investasi semakin dipengaruhi geopolitik, modal semakin terkonsentrasi pada industri strategis, dan proyek-proyek besar semakin menentukan arah kompetisi.
Bagi Asia, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. MGI memperkirakan bahwa dalam skenario fragmentasi maupun diversifikasi perdagangan, sekitar 30 persen perdagangan global dapat berpindah dari satu koridor ke koridor lainnya. Bagi perusahaan yang sangat terhubung dengan global value chains, perubahan sebesar itu memang membawa risiko, tetapi sekaligus membuka ruang bagi pemain baru yang mampu bergerak lebih cepat.
Karena itu, FDI sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai angka investasi yang masuk ke suatu negara. Di balik setiap pabrik, tambang, data center, atau fasilitas energi terdapat keputusan perusahaan mengenai di mana mereka melihat masa depan. Negara dan perusahaan yang mampu membaca keputusan tersebut lebih awal akan memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri sebelum perubahan benar-benar terlihat dalam statistik perdagangan.
FDI bukan sekadar tentang ke mana uang bergerak. FDI adalah petunjuk tentang di mana kapasitas ekonomi dunia sedang dibangun, industri apa yang akan berkembang, dan koridor bisnis mana yang mungkin menjadi penting pada tahun-tahun mendatang. Tantangannya bagi Indonesia bukan hanya bagaimana menarik investasi tersebut, tetapi bagaimana memastikan bahwa ketika modal global datang, perusahaan domestik, tenaga kerja, infrastruktur, dan ekosistem bisnis nasional telah siap tumbuh bersamanya.






