(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO acuan untuk pengiriman November 2026 di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan sore hari ini, Senin (24/8/2026). Kontrak acuan tersebut mencatatkan penurunan sebesar 1,43 persen dan berada di level RM4.940 per metrik ton. Koreksi ini mengakhiri tren kenaikan beruntun yang sempat berlangsung selama lima hari bursa pada pekan lalu, ketika harga CPO sempat mencetak rekor tertinggi baru di kisaran RM4.977 hingga di atas RM5.000 per metrik ton.
Pembalikan arah harga CPO dunia hari ini utamanya dipicu oleh aksi ambil untung para pelaku pasar setelah reli luar biasa yang terjadi akhir pekan lalu. Tekanan jual semakin diperberat oleh pelemahan tajam harga minyak nabati saingan, di mana harga minyak kedelai di bursa Chicago tercatat merosot signifikan. Ketika harga minyak nabati substitusi melorot, daya saing harga CPO secara global ikut terpengaruh, sehingga mendorong pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi pada perdagangan hari ini.
Selain faktor teknikal dan minyak nabati pesaing, kehati-hatian investor turut muncul setelah Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau EPA mengisyaratkan rencana perpanjangan tenggat waktu kepatuhan pencampuran biofuel bagi perusahaan pengolah minyak setempat. Sinyal kebijakan ini memicu proyeksi penurunan serapan jangka pendek untuk bahan baku minyak nabati dunia, termasuk CPO, sehingga menambah tekanan bagi harga acuan di Bursa Malaysia pada perdagangan hari ini.
Meski terkoreksi hari ini, para analis menilai tren jangka panjang harga CPO masih cenderung kuat. Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino terus memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi turunnya produktivitas tandan buah segar kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia, sebuah risiko yang berpotensi mengetatkan pasokan global dalam beberapa bulan mendatang. Di sisi lain, rencana percepatan penerapan penuh kebijakan mandatori biodiesel B50 oleh pemerintah Indonesia diproyeksikan akan menguras pasokan domestik dan memperketat kuota ekspor ke pasar luar negeri, sehingga tetap menjadi fondasi kuat bagi prospek harga CPO ke depan.
Sejalan dengan koreksi di Bursa Malaysia, pasar fisik domestik Indonesia turut mengikuti pergerakan serupa meski masih bertahan pada level yang relatif tinggi. Harga CPO fisik di KPBN Inacom untuk skema Franco Dumai berada pada kisaran Rp15.888 hingga Rp15.925 per kilogram, mengikuti penguatan yang terjadi pekan lalu, sementara harga berjangka di Indonesia Commodity and Derivatives Exchange masih kokoh bertahan di kisaran Rp16.500 per kilogram pada perdagangan hari ini.








