Rekomendasi Harga Minyak 3 September 2026

83

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia ditutup menguat sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu waktu Amerika Serikat, membawa minyak Brent dan WTI bertengger kokoh di level tertinggi dalam enam minggu terakhir. Namun, memasuki sesi perdagangan hari ini, Kamis (3/9/2026) pagi di pasar Asia, laju kenaikan komoditas energi ini mulai mengambil jeda dan bergerak sedikit melandai, seiring pelaku pasar yang mulai menimbang ketidakpastian dampak perang jangka panjang di Timur Tengah.

Berdasarkan data penutupan sesi Rabu, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent ditutup menguat 1,00 persen atau naik 98 sen ke level 95,63 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 0,90 persen atau 79 sen ke level 91,01 dolar AS per barel. Memasuki perdagangan pagi ini di kawasan Asia, kedua patokan harga minyak tersebut terkoreksi tipis, dengan Brent bergerak ke posisi 95,20 dolar AS per barel dan WTI melandai ke level 90,77 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak hingga 1 persen semalam dipicu oleh babak baru saling serang yang masif antara militer Amerika Serikat dan Iran. Konflik antara kedua negara kini telah memasuki bulan ketujuh, dengan rentetan serangan terbaru ini disebut sebagai pertukaran tembakan terbesar antara Teheran dan Washington sejak Juli lalu. Pasukan AS dilaporkan menggempur wilayah pantai selatan Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, sehingga kembali mendorong premi risiko geopolitik ke level yang lebih tinggi.

Perang yang terus berkobar ini menahan risiko disrupsi pasokan tetap tinggi, mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi pengapalan sekitar 20 persen konsumsi minyak mentah dunia. Meski demikian, pasar sedikit ditenangkan oleh laporan bahwa aliran ekspor alternatif serta kapal-kapal tanker minyak masih terus berupaya menembus pasar secara bertahap, sehingga gangguan pasokan fisik belum sepenuhnya melumpuhkan jalur distribusi dari kawasan Teluk.

Dari sisi fundamental pasokan Amerika Serikat, laporan mingguan Energy Information Administration (EIA) semalam menunjukkan persediaan minyak mentah domestik AS menyusut tajam hingga 4,5 juta barel untuk pekan lalu. Angka penurunan stok ini jauh melampaui estimasi konsensus para analis yang sebelumnya hanya memperkirakan penurunan moderat sebesar 1,1 juta barel, sehingga turut menjadi salah satu penopang utama penguatan harga pada sesi Rabu.

Namun, laju kenaikan harga pada perdagangan pagi ini tertahan setelah munculnya pernyataan yang meredakan kekhawatiran bahwa konflik terbaru ini akan berubah menjadi perang regional yang berkepanjangan, sekaligus meredakan kecemasan inflasi energi global secara instan. Selain itu, ekspektasi bahwa aliansi OPEC+ kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan kuota produksinya untuk bulan Oktober tanpa ada pemangkasan baru turut membatasi ruang kenaikan harga lebih lanjut, ditambah dengan peningkatan volume ekspor dari Irak yang memberikan bantalan tambahan bagi pasokan di pasar fisik.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang terkoreksi tipis ke level 90,77 dolar AS per barel pada sesi Asia pagi ini menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut, setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis 91,00 dolar AS per barel pada penutupan Rabu. Selama harga tertahan di bawah pivot point, konsolidasi jangka pendek berpotensi berlanjut menuju support 1 di kisaran 90,00 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di support 2 pada area 88,80 dolar AS per barel apabila muncul sinyal de-eskalasi lebih lanjut dari konflik AS-Iran. Sebaliknya, apabila harga kembali menguat menembus resistance 1 di kisaran 91,50 dolar AS per barel, momentum bullish berpeluang berlanjut menuju resistance 2 pada area psikologis 93,00 dolar AS per barel apabila eskalasi militer di Selat Hormuz kembali memanas.

Untuk minyak mentah Brent, dengan harga terkoreksi tipis ke level 95,20 dolar AS per barel setelah sempat menyentuh level tertinggi enam minggu di 95,63 dolar AS per barel, pivot point harian berada di kisaran level tersebut. Selama harga tertahan di bawah pivot point, potensi konsolidasi dapat mengarah ke support 1 di kisaran 94,30 dolar AS per barel, dengan support 2 di area psikologis 92,50 dolar AS per barel sebagai lantai pertahanan berikutnya jika sentimen mereda lebih lanjut. Sementara itu, resistance 1 berada di kisaran 96,50 dolar AS per barel, dengan resistance 2 di area psikologis 100,00 dolar AS per barel sebagai target berikutnya apabila konflik AS-Iran kembali meningkat tajam dan mengancam kelancaran arus Selat Hormuz.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan konflik militer AS-Iran yang telah memasuki bulan ketujuh, kelancaran arus pelayaran di Selat Hormuz, keputusan resmi OPEC+ terkait kuota produksi bulan Oktober, serta laju pemulihan volume ekspor Irak yang akan menjadi penyeimbang di tengah tingginya premi risiko geopolitik saat ini.