(Vibiznews – Commodity) Perdagangan gula dunia hari ini kembali mengalami tren kenaikan tajam atau bullish hingga menyentuh level tertinggi dalam 16 bulan terakhir, dipicu oleh rilis proyeksi defisit pasokan global untuk musim mendatang.
Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar NY-11 naik menjadi 18,72 sen dolar AS per pon atau menguat 1,86 persen secara harian, mencatatkan lonjakan harga yang konsisten hingga lebih dari 24 persen dalam satu bulan terakhir dan menyentuh rekor tertinggi sejak April 2025. Sejalan dengan pasar New York, harga gula putih atau white sugar di bursa ICE London juga bertahan kokoh di level 540,60 dolar AS per metrik ton, menguat 1,39 persen secara harian.
Lompatan harga gula di pasar internasional didorong oleh akumulasi sejumlah faktor sentimen. Sentimen utama datang dari proyeksi defisit global untuk musim 2026/2027, di mana International Sugar Organization (ISO) secara resmi memproyeksikan defisit gula global sebesar 200 ribu metrik ton. Pengamat komoditas lain seperti Green Pool Commodity Specialists bahkan memperkirakan defisit yang jauh lebih parah, yakni mencapai 3,2 juta metrik ton.
Selain itu, krisis produksi di Uni Eropa turut menambah tekanan pada sisi pasokan. Lembaga pemantau pasar tebu Uni Eropa melaporkan bahwa estimasi produksi gula di kawasan tersebut diperkirakan merosot tajam hingga 19 persen secara tahunan menjadi hanya 13,4 juta metrik ton, akibat dampak kekeringan dan gelombang panas ekstrem.
Faktor lain yang turut mengerek harga adalah dilema alokasi tebu ke sektor etanol di Brasil. Sebagai produsen utama dunia, pabrik pengolahan tebu di Brasil diproyeksikan mengalihkan lebih banyak bahan baku untuk produksi etanol ketimbang gula kristal. Kebijakan peningkatan mandatori campuran etanol pada bahan bakar bensin domestik Brasil turut memicu kekhawatiran akan semakin terkurasnya volume ekspor gula ke pasar internasional.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah masih berpotensi melanjutkan tren penguatan seiring belum meredanya sentimen defisit pasokan global dari berbagai negara produsen utama. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Resistance 18,90-19,15. Namun, jika muncul aksi ambil untung dari para pedagang setelah reli panjang yang membawa harga ke level tertinggi dalam 16 bulan, pergerakan berpotensi terkoreksi menuju kisaran Support 18,45-18,25.








