(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global mencatatkan koreksi turun tajam pada perdagangan hari ini, menghapus seluruh keuntungan yang sempat diraih pada sesi sebelumnya. Meskipun secara fundamental pasar jangka menengah masih dibayangi oleh risiko defisit pasokan global, sentimen musiman jangka pendek berhasil memicu tekanan jual yang cukup masif di pasar berjangka.
Pada pergerakan bursa komoditas berjangka terbaru, harga kontrak berjangka kakao di ICE New York anjlok signifikan hingga terperosok ke kisaran 6.204 hingga 6.283 dolar AS per metrik ton. Penurunan harian yang mencapai rentang 4 persen hingga 5,6 persen ini menandai salah satu sesi pelemahan terdalam dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, harga di bursa ICE London untuk kontrak pengiriman Desember 2026 terpantau lebih stabil, masih mencoba bertahan kokoh dan berupaya melakukan konsolidasi di area 4.845 poundsterling per metrik ton.
Fluktuasi tajam yang mewarnai perdagangan kakao hari ini sangat dipengaruhi oleh derasnya sentimen pelemahan jangka pendek yang datang dari kawasan Afrika Barat. Tekanan jual utamanya dipicu oleh pembukaan musim panen utama 2026/2027 yang jatuh pada tanggal 1 September. Dimulainya siklus kalender pasokan baru ini serta merta mendorong para pelaku pasar global untuk melakukan aksi likuidasi spekulatif dan melepas posisi beli mereka.
Kondisi pelemahan ini semakin diperkuat oleh rilis data pelabuhan terbaru yang mengonfirmasi bahwa volume pengiriman kakao dari Pantai Gading ternyata berjalan 19 persen lebih cepat dibandingkan laju tahun lalu. Pengiriman yang lancar ini sukses meredakan kepanikan pasar atas potensi kelangkaan stok dalam waktu dekat. Dari sisi regulasi, pemerintah Pantai Gading telah menetapkan harga beli di tingkat petani sebesar 1.200 franc CFA per kilogram untuk musim baru, mempertahankan tingkat harga yang rendah sehingga mendorong petani untuk segera mencairkan sisa stok domestik mereka. Penguatan indeks dolar AS di saat yang bersamaan juga memberikan tekanan mekanis tambahan bagi pergerakan harga.
Kendati didera aksi jual besar-besaran, kejatuhan harga yang lebih dalam berhasil ditahan oleh prospek pengetatan pasokan dalam jangka menengah. Lembaga broker komoditas StoneX baru saja memangkas secara drastis estimasi surplus kakao dunia untuk musim 2026/2027 sebesar lebih dari 80 persen. Proyeksi surplus kini hanya tersisa 25.000 metrik ton, turun jauh dari perkiraan awal yang mencapai 149.000 metrik ton.
Penyusutan proyeksi ini didukung oleh temuan survei awal di Pantai Gading yang mendeteksi rendahnya tingkat pembentukan buah kakao muda akibat merebaknya penyakit pucuk bengkak serta imbas cuaca ekstrem. Produksi utama Pantai Gading untuk musim ini diproyeksikan akan merosot hingga 18 persen secara tahunan menjadi 1,8 juta metrik ton. Sejalan dengan hal tersebut, regulator kakao Ghana juga memperkirakan total produksi negaranya akan merosot jauh dari target awal 750.000 metrik ton menjadi hanya sekitar 450.000 hingga 550.000 metrik ton, terbebani oleh populasi pohon yang menua serta ancaman cuaca kering akibat fenomena El Nino.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk sesi perdagangan selanjutnya, pergerakan harga kakao masih akan diwarnai oleh volatilitas tinggi merespons adu kuat antara sentimen derasnya pasokan awal musim panen melawan ancaman menyusutnya total produksi global secara jangka panjang.








