Yield Obligasi Naik, Investor Mulai Menghitung Ulang Strategi

60
Obligasi Global
Sumber : Unsplash


(Vibiznews-Kolom) 

Tekanan dari pasar global membuat imbal hasil SBN Indonesia melonjak. Namun, kenaikan yield juga mulai membuka peluang baru bagi investor yang melihat pasar dengan horizon lebih panjang.

Tekanan datang dari pasar global

Pasar obligasi Indonesia kembali mendapat tekanan. Perdagangan 2 September menunjukkan kenaikan yield hampir di seluruh tenor SBN, mengikuti pergerakan yield surat utang pemerintah Amerika Serikat dan Jepang. Yield UST 10 tahun naik menjadi 4,814%, sementara yield UST 30 tahun mencapai 5,289%. Kenaikan di dua pasar besar tersebut dengan cepat terasa di pasar obligasi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Amerika dan Jepang ikut menentukan arah Indonesia

Kenaikan yield punya dua sisi yang berbeda. Bagi orang yang sudah memegang obligasi, kenaikan yield berarti harga obligasi di pasar turun dan nilai portofolio bisa tertekan. Bagi calon pembeli, ceritanya justru berbeda karena obligasi yang dibeli sekarang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Perbedaan kepentingan inilah yang membuat pergerakan yield selalu menarik untuk diikuti, terutama ketika perubahan terjadi cukup cepat.

Tenor menengah paling banyak terkena dampak

Kenaikan yield tidak terjadi dengan kekuatan yang sama di semua tenor. Yield SBN 1 tahun naik 9,37 basis poin menjadi 6,7412%, sedangkan tenor 3 tahun naik 13,16 basis poin. Kenaikan terbesar terjadi pada tenor 4 tahun, sebesar 13,20 basis poin, sementara tenor 5 tahun naik 12,72 basis poin. Di sisi yang lebih panjang, yield 20 tahun hanya meningkat 7,08 basis poin dan 30 tahun naik 6,93 basis poin.

Kurva obligasi mulai berubah bentuk

Perbedaan tersebut membentuk apa yang disebut bear flattening. Istilahnya memang terdengar rumit, tetapi maknanya cukup sederhana: yield seluruh tenor naik, namun kenaikan di tenor pendek dan menengah lebih besar daripada tenor panjang. Spread antara yield 10 tahun dan 30 tahun pun menyempit menjadi sekitar 4,6 basis poin dari sebelumnya 7,0 basis poin. Kurva obligasi sedang memberi sinyal bahwa tekanan paling besar berada di bagian tengah, bukan di ujung panjang.

Rupiah juga berada di bawah tekanan

Pergerakan obligasi tidak berdiri sendiri. Rupiah ikut melemah menjadi Rp17.756,3 per dolar AS atau turun 0,34% dibandingkan sesi sebelumnya. US Dollar Index juga menguat 0,15% ke 99,82. Ketika dolar menguat bersamaan dengan naiknya yield US Treasury, aset berbasis dolar dapat terlihat semakin menarik dibandingkan aset di negara berkembang, sehingga pasar seperti Indonesia menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya tariknya.

Investor asing mulai sedikit mundur

Pergerakan dana asing juga patut diperhatikan. Data terakhir yang tersedia menunjukkan kepemilikan asing di SBN mencapai Rp907,45 triliun pada 27 Agustus 2026. Jumlah tersebut turun Rp1,88 triliun dari posisi tertinggi periode tersebut, yaitu Rp909,33 triliun pada 26 Agustus. Penurunannya memang belum besar, tetapi arahnya menjadi penting karena terjadi ketika yield global sedang meningkat.

Di tengah tekanan, tenor panjang mulai dilirik

Ada bagian dari pasar yang justru terlihat semakin menarik setelah yield bergerak naik. Tenor 20–30 tahun mengalami kenaikan yield yang lebih kecil dibandingkan tenor menengah. Bagi investor yang memiliki kemampuan menahan investasi lebih lama, level yield tersebut mulai memberikan alasan untuk melihat kembali obligasi jangka panjang. Samuel Sekuritas sendiri menempatkan tenor 20–30 tahun sebagai pilihan dalam Trade of the Day.

Tidak semua investor mempunyai permainan yang sama

Manajer investasi memiliki alasan untuk melihat tenor panjang dari perspektif total return dan roll-down. Perusahaan asuransi dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan asset-liability management, sedangkan dana pensiun membutuhkan instrumen yang dapat disesuaikan dengan kewajiban jangka panjang. Kenaikan yield justru dapat memberikan kesempatan bagi kelompok investor tersebut untuk memperoleh imbal hasil yang lebih baik ketika melakukan penempatan dana secara bertahap.

Investor ritel punya pertimbangan berbeda

Investor ritel mempunyai pertimbangan yang sedikit berbeda. Ketika yield SBN naik, instrumen seperti ORI027T3 dan SR024T5 menjadi lebih menarik untuk diperhatikan karena premi imbal hasil terhadap deposito semakin lebar. Tetapi keputusan membeli tetap harus memperhitungkan kemungkinan harga bergerak turun apabila yield kembali meningkat. Kupon yang menarik belum tentu berarti investor terbebas dari risiko apabila instrumen tersebut dijual sebelum jatuh tempo.

Pasar masih menunggu beberapa jawaban

September akan menjadi bulan yang cukup menentukan bagi arah pasar. Data konsumsi dan ritel Agustus, cadangan devisa pada 7 September, serta keputusan BI Rate pada 17 September akan menjadi perhatian investor. BI Rate saat ini berada di 5,75%, dan rapat September memiliki perhatian tambahan karena menjadi rapat perdana di bawah Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti.

Arah global masih menjadi kunci

Di luar Indonesia, arah UST dan JGB tetap menjadi variabel yang sulit diabaikan. Jika yield keduanya kembali naik, tekanan terhadap SBN masih bisa berlanjut. Sebaliknya, jika kenaikan yield global mulai berhenti dan pasar melihat peluang penurunan suku bunga ke depan, obligasi yang sudah menawarkan yield tinggi dapat berubah menjadi aset yang semakin menarik. Untuk investor, pertanyaannya bukan sekadar apakah pasar obligasi sedang turun, tetapi yield setinggi apa yang layak dikunci sebelum arah pasar berubah lagi.