(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO di Bursa Malaysia Derivatives Exchange terpantau bergerak melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu (2/9/2026). Berdasarkan data pasar sore ini, kontrak acuan CPO untuk pengiriman November 2026 mengalami penurunan sebesar 0,80 persen ke level RM4.932 per metrik ton pada pukul 14:41 WIB. Koreksi ini terjadi setelah komoditas minyak kelapa sawit sempat mencatat reli penguatan yang solid dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya.
Pelemahan harga CPO dunia hari ini murni dipicu oleh maraknya aksi ambil untung dari para pelaku pasar. Pakar komoditas dari pialang Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengonfirmasi bahwa aksi tersebut terjadi setelah harga CPO melonjak signifikan pada perdagangan awal pekan hingga sempat menembus area resistansi psikologis. Tekanan jual ini turut diperberat oleh lesunya data permintaan ekspor jangka pendek, di mana estimasi pengiriman ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang bulan Agustus tercatat melambat dan turun sekitar 14,85 persen dibandingkan performa ekspor pada bulan Juli.
Kendati mengalami koreksi harian, prospek harga CPO dunia untuk paruh kedua tahun 2026 dinilai tetap kokoh secara jangka panjang. Pasar masih mengantisipasi ancaman penurunan pasokan global akibat dampak cuaca kering El Nino yang melanda Asia Tenggara, sebuah risiko yang berpotensi menekan produktivitas panen sawit di kawasan produsen utama. Selain itu, katalis positif dari implementasi mandatori biodiesel B50 di Indonesia turut menjadi fondasi penopang sentimen bullish jangka panjang, mengingat kebijakan tersebut diperkirakan akan menyerap volume besar CPO domestik dan memperketat pasokan untuk pasar ekspor global.
Sebagai tambahan informasi bagi perdagangan bulan ini, Kementerian Perdagangan Indonesia baru saja menetapkan Harga Referensi atau HR CPO untuk periode September 2026 sebesar US$1.007,51 per metrik ton, ditambah dengan skema pungutan ekspor sebesar 12,5 persen dari HR. Penetapan harga referensi yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya ini turut mencerminkan optimisme pemerintah terhadap tren harga sawit global yang secara struktural masih berada dalam jalur penguatan menuju akhir tahun.








