(Vibiznews-Kolom) Lonjakan eksponensial harga minyak mentah dunia kembali terjadi memasuki pertengahan September 2026. Eskalasi militer yang kian mencekam di Selat Hormuz sukses mendorong minyak mentah Brent menembus level psikologis baru di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), ikut mengekor di zona hijau dan melesat mendekati angka USD 96–97 per barel.
Kenaikan tajam ini terjadi di tengah rentetan serangan balas-membalas antara Iran dan Amerika Serikat di jalur pelayaran energi paling vital di dunia tersebut, yang membuat pasar semakin meragukan prospek dibukanya kembali Selat Hormuz secara normal dalam waktu dekat.

Tren Kenaikan: Dari USD 80 ke Atas USD 100
Berikut ringkasan pergerakan harga dua acuan minyak dunia sejak awal Agustus hingga titik puncaknya pada 9–10 September 2026:
| Jenis Komoditas | Harga Awal Agustus | Sesi Rabu (9/9) | Sesi Kamis (10/9) | Status vs Level Psikologis |
| Brent Crude (Acuan Global) | ~USD 80,00 | USD 101,21 | USD 101,34 | Tembus target > USD 100 |
| WTI Crude (Acuan AS) | ~USD 75,00 | USD 96,05 | USD 96,55 | Mendekati target USD 100 |
Kenaikan ini melanjutkan tren yang sudah terlihat sejak awal konflik: rata-rata harga spot Brent bahkan sempat tercatat di kisaran USD 91 per barel sepanjang Agustus, naik sekitar USD 7 dibanding Juli, seiring ekspor dari Timur Tengah yang terus tertahan dan sejumlah produsen kawasan terpaksa memangkas produksi.
Tiga Pemicu Utama Tembusnya Harga USD 100
- Saling Serang Terbesar di Laut
Lonjakan dramatis harga minyak dipicu oleh eskalasi serangan yang saling diklaim kedua belah pihak di perairan Selat Hormuz. Iran mengeklaim telah menyerang sejumlah kapal komersial dan tanker di kawasan tersebut sebagai aksi balasan atas serangan militer AS terhadap beberapa kapal tanker Iran, termasuk yang menyasar hub ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg. Sebagai eskalasi lanjutan, milisi Houthi yang didukung Iran juga dilaporkan menyasar infrastruktur energi di Arab Saudi bagian selatan.
- Penipisan Cadangan Strategis AS (SPR)
Pasar semakin panik karena kapasitas rilis minyak darurat Amerika Serikat kian menyusut. Data industri menunjukkan persediaan cadangan minyak strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) AS telah turun signifikan secara tahunan, sehingga membatasi ruang gerak pemerintah AS untuk melakukan intervensi pasar guna meredam gejolak harga akibat gangguan pasokan global.
- Risiko Skenario Terburuk: Stagnasi Total Pengiriman
Sejumlah lembaga keuangan global memperingatkan bahwa peluang terjadinya stagnasi pengiriman total di Teluk Persia terus meningkat selama blokade fisik dan serangan asimetris berlanjut. Badan Informasi Energi AS (EIA) sendiri dalam proyeksi terbarunya memperkirakan produksi minyak di Timur Tengah baru bisa kembali mendekati level normal pada awal 2027, dengan rata-rata harga Brent sepanjang paruh kedua 2026 diperkirakan bertahan di kisaran USD 90 per barel — sebuah asumsi dasar yang kini mulai terlampaui akibat eskalasi terbaru.
Jika blokade fisik total atau perang asimetris terus berlanjut sepanjang paruh kedua 2026, sejumlah analis memproyeksikan harga Brent berisiko melonjak lebih jauh menuju USD 120 per barel.

Konteks: Perang Melebar ke Ranah Militer dan Ekonomi
Lonjakan harga minyak ini tidak lepas dari dua front konflik yang berjalan beriringan di kawasan tersebut.
Di front militer, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada 9 September 2026 mengumumkan penetapan zona terlarang baru di luar wilayah Selat Hormuz, sementara armada AS memperketat blokade di perairan sekitar Iran untuk memastikan jalur pelayaran internasional tetap terbuka. Iran bahkan mengeklaim berhasil menangkap sebuah drone kapal selam intelijen milik militer AS di dasar selat tersebut.
Di front ekonomi, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengintensifkan tekanan finansial melalui paket sanksi baru bertajuk “Operation Economic Outcast”, yang menyasar sektor aviasi, aset digital, emas, teknologi, hingga perkapalan Iran — termasuk sanksi terhadap 27 maskapai penerbangan Iran per 8 September 2026. Uni Eropa turut bergabung memperluas sanksi terhadap program rudal balistik dan nuklir Iran, sementara Iran membalas dengan membingkai penahanan kapal-kapal komersial di Hormuz sebagai bentuk “rezim sanksi” versinya sendiri.
Kombinasi tekanan militer dan ekonomi yang saling bersahutan inilah yang membuat pasar minyak dunia terus dibayangi ketidakpastian, dan menjadi alasan utama di balik tembusnya harga Brent ke atas USD 100 per barel pekan ini.
Perlu Dicermati Pelaku Pasar
Selama perundingan damai antara AS dan Iran belum menemui titik terang, dan selama risiko gangguan fisik di Selat Hormuz — jalur yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia — tetap tinggi, harga minyak diperkirakan akan terus bergerak volatil dengan kecenderungan menguat. Pelaku pasar kini mencermati apakah level USD 100 per barel akan menjadi level bertahan (floor) baru, atau justru batu loncatan menuju USD 120 per barel jika eskalasi kembali memburuk.
Artikel ini disusun berdasarkan data pasar dan laporan media per 9–10 September 2026. Harga dapat berubah cepat mengikuti perkembangan situasi di lapangan.
Oleh: Asido Situmorang








