(Vibiznews – Commodity) Harga gula mentah dunia atau raw sugar pada akhir pekan ditutup melemah akibat aksi ambil untung investor. Meskipun terkoreksi pada sesi perdagangan terakhir, harga gula sukses mempertahankan reli kuatnya dan bertahan di zona tertinggi dalam 16 bulan terakhir akibat ancaman defisit pasokan global yang terus membayangi pasar.
Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar NY-11 di bursa ICE New York ditutup pada level 18,54 sen dolar AS per pon, turun 1,01 persen atau melemah 0,19 dolar AS setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di 18,76 sen pada pertengahan pekan. Secara akumulasi bulanan, harga raw sugar telah mencatatkan lonjakan performa sebesar 10,53 persen dalam sebulan terakhir, dan naik sekitar 14,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pergerakan harga komoditas pemanis internasional saat ini digerakkan oleh pergeseran peta pasokan dari negara-negara produsen utama dunia. Sentimen pertama datang dari aksi pembalikan posisi dana spekulatif, di mana analis pasar dari StoneX mencatat terjadinya pergeseran sentimen yang masif setelah dana investasi yang selama berbulan-bulan menahan posisi jual (short), dalam beberapa pekan berbalik arah menjadi net-long. Aksi beli dari dana investasi spekulatif ini memperkuat fondasi kenaikan harga komoditas.
Selain itu, sentimen raw sugar juga mendapat sokongan penuh dari naiknya harga energi global akibat ketegangan militer di Timur Tengah. Tingginya harga minyak Brent dan WTI mendorong pabrik-pabrik penggilingan tebu di Brasil selaku produsen terbesar dunia untuk memproduksi lebih banyak etanol dibandingkan gula mentah, sehingga secara otomatis menekan rasio output gula global.
Di sisi lain, langkah darurat India membuka keran impor turut mewarnai pergerakan pasar. Untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, pemerintah India secara mengejutkan mengizinkan impor bebas bea hingga 1 juta ton gula mentah hingga Oktober mendatang. Langkah drastis ini diambil demi meredam gejolak lonjakan harga gula domestik di India akibat kerusakan tanaman pasca fenomena iklim ekstrem.
Sentimen yang turut menopang harga datang dari revisi proyeksi defisit global untuk musim 2026/2027. Lembaga pemetaan komoditas pangan seperti Covrig Analytics resmi merubah proyeksi mereka dari surplus menjadi defisit global sebesar 300 ribu metrik ton. Penurunan produksi yang tajam, lebih dari 4 juta ton, diperkirakan terjadi di kawasan Uni Eropa, Thailand, dan Amerika Tengah akibat gangguan cuaca panas kering yang berkepanjangan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah masih berpotensi bertahan dalam tren bullish jangka menengah, meski rentan mengalami koreksi teknikal jangka pendek pasca reli panjang yang membawa harga ke level tertinggi dalam 16 bulan terakhir. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Support 18,30-18,10. Namun, jika sentimen defisit pasokan global dan aksi beli dana spekulatif kembali menguat, pergerakan berpotensi mengarah pada penguatan lanjutan menuju kisaran Resistance 18,80-19,00.








