(Vibiznews – Forex) Mata uang Euro terhadap dolar AS berakhir turun pada akhir pekan hari Jumat, tertekan penguatan dolar AS.
Pasangan mata uang EUR/USD ditutup turun 0,11% pada 1.1599.
Euro berakhir turun akibat tekanan dari dolar AS yang menguat.
Nilai tukar Euro juga terbebani sepanjang minggu oleh lonjakan harga minyak sebesar +9% (secara bersih), yang merupakan faktor negatif bagi ekonomi Zona Euro karena kawasan ini sangat bergantung pada impor minyak.
Namun Euro mendapat dukungan dari langkah ECB menaikkan suku bunga pada hari Kamis, yang memperbaiki selisih suku bunga euro.
ECB juga menaikkan proyeksi PDB Zona Euro untuk tahun 2026, yang menjadi faktor positif bagi Euro.
Pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 78% bagi ECB untuk menaikkan suku bunga sebesar +25 basis poin (bp) pada pertemuan kebijakan berikutnya tanggal 29 Oktober.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan pada hari Minggu bahwa sebuah proyektil menghantam kapal yang sedang melintasi Selat Hormuz. Tingkat kerusakan dan kondisi awak kapal belum diketahui secara pasti saat ini.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak global, sehari setelah Arab Saudi menutup jalur pipa vital Timur-Barat akibat serangan pesawat nirawak (drone) yang berasal dari Irak.
Insiden ini menambah tekanan pada pasar energi setelah harga minyak mentah Brent kembali melonjak di atas $100 per barel pekan lalu. Selat Hormuz sebagian besar telah tertutup akibat perang selama enam bulan, sehingga jalur ekspor alternatif menjadi semakin penting bagi para produsen di kawasan Teluk.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Euro dapat bergerak turun terpicu ketegangan bari di Selat Hormuz yang dapat meningkatkan harga minyak dan permintaan safe haven dolar AS. Pasangan mata uang EUR/USD diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 1.1597-1.1583. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 1.1622-1.1633.








