Indeks Nikkei Senin Berakhir Melemah; Saham SoftBank Anjlok

36
nikkei

(Vibiznews – Index) Indeks Nikkei Jepang ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin, 14 September 2026, membawa Nikkei menyentuh level terendah dalam enam minggu terakhir setelah sempat tertekan parah hingga menembus ke bawah level psikologis 63.000 pada sesi pagi.

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 518,35 poin, atau turun 0,81%, dan berakhir di level 63.492,99. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, indeks sempat menyentuh area terendah harian di 62.726,18 pada sesi pagi, sebelum akhirnya sedikit memangkas pelemahannya menjelang penutupan. Berbeda dengan indeks utama Nikkei yang tertekan oleh saham teknologi besar, indeks Topix justru ditutup menguat 0,74% ke level 4.058,21, seiring investor beralih ke saham-saham defensif dan bernilai.

Pelemahan tajam Nikkei 225 hari ini dipicu oleh kombinasi kecemasan industri teknologi global dan guncangan pasokan energi di Timur Tengah. Faktor utama kejatuhan hari ini datang dari sentimen global akhir pekan, di mana CEO Anthropic Dario Amodei yang didukung oleh CEO OpenAI Sam Altman menyerukan agar industri memperlambat pengembangan model kecerdasan buatan paling canggih demi alasan keamanan dan mitigasi risiko.

Raksasa investasi teknologi Jepang, SoftBank Group, yang merupakan investor kunci di sektor AI, menjadi korban paling terdampak dengan harga sahamnya anjlok hingga 10,7%, bahkan sempat menyentuh 12% saat sesi perdagangan. Karena Nikkei 225 menggunakan metode price-weighted, kejatuhan saham berbobot besar seperti SoftBank langsung menyeret turun indeks secara signifikan.

Sentimen diperburuk setelah Arab Saudi menutup pipa minyak utama East-West akibat serangan drone dari Irak. Gangguan pada jalur alternatif Selat Hormuz ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent di atas USD 109 per barel. Bagi Jepang yang merupakan importir energi bersih, lonjakan harga energi memicu kecemasan inflasi baru yang dapat menekan profitabilitas emiten manufaktur.

Investor juga bersikap menghindari risiko menjelang pertemuan kebijakan moneter The Fed dan BOJ pada pekan ini. Pasar mengantisipasi potensi kelanjutan pengetatan moneter ganda yang membuat biaya modal berpotensi naik, menahan minat pelaku pasar untuk mengoleksi aset berisiko tinggi. Meski demikian, tekanan jual hanya terlokalisasi pada saham berbasis teknologi dan semikonduktor. Investor di bursa Tokyo secara aktif melakukan rotasi modal ke saham-saham domestik yang berorientasi nilai dan defensif, membantu indeks Topix bertahan di zona hijau di tengah pelemahan indeks utama.