(Vibiznews-Commodity) Serangan pesawat nirawak yang menghantam pipa minyak utama East-West milik Arab Saudi pada Kamis, 10 September 2026, telah menciptakan guncangan hebat di pasar energi global. Titik api besar dan kepulan asap hitam yang terekam citra satelit di sekitar stasiun pompa wilayah Riyadh dan Madinah memaksa Kementerian Energi Arab Saudi mengambil langkah darurat. Sehari setelah serangan, jalur pipa vital ini resmi ditutup. Insiden yang diyakini berasal dari wilayah operasi milisi pro-Iran di Provinsi Maysan, Irak selatan, ini menjadi katalis utama kepanikan pasar karena secara efektif memutus hampir semua rute aman ekspor minyak dari Timur Tengah.
Fungsi pipa East-West yang membentang sepanjang 1.200 kilometer dari ladang minyak Abqaiq menuju Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah ini sangat krusial. Jalur ini merupakan rute bypass utama agar Arab Saudi tetap bisa mengekspor pasokannya ke Eropa dan Amerika Serikat tanpa harus melewati Selat Hormuz yang terus-menerus diblokade. Dengan kapasitas angkut hingga 7 juta barel per hari, kelumpuhan infrastruktur raksasa ini membuat dunia secara mendadak berisiko kehilangan pasokan yang setara dengan 4% dari total suplai minyak global. Situasi semakin genting karena stok minyak mentah di terminal ekspor Yanbu menipis dengan sangat cepat. Kapasitas penyimpanan di pelabuhan tersebut tidak terisi penuh saat serangan terjadi, menyisakan pasokan komersial yang diproyeksikan akan habis hanya dalam jendela distribusi lima hingga tujuh hari ke depan.

Tertutupnya jalur darat yang berbarengan dengan jatuhnya titik navigasi Pulau Perim di Selat Bab el-Mandeb ke tangan kelompok Houthi memicu kepanikan massal di bursa keuangan. Pada perdagangan 14 September 2026, harga acuan global Brent Crude melonjak lebih dari 3% hingga menyentuh US$107,87 per barel akibat ketakutan akan terputusnya rantai pasok di Eropa dan Asia. Di saat yang sama, minyak acuan Amerika Serikat WTI Crude ikut melesat di atas 3,2% mendekati level US$103,22 per barel, memicu kenaikan instan pada harga bahan bakar komersial domestik.

Tim teknis Saudi Aramco kini berpacu dengan waktu untuk mengevaluasi kerusakan struktural. Jika kerusakan terbukti minimal, aliran parsial bisa diaktifkan dalam hitungan hari. Namun, skenario terburuk memperkirakan perbaikan memakan waktu hingga enam minggu apabila infrastruktur kritis seperti mesin pemompa dan kontrol otomatisasi hancur total. Krisis ganda ini membuat posisi Arab Saudi semakin terjepit, menahan opsi balasan militer langsung sembari mencari dukungan keamanan maritim. Jika penutupan ini melewati batas waktu satu minggu, pasar global harus bersiap menghadapi efek domino berupa inflasi harga pangan, lonjakan tarif logistik perkapalan, dan ancaman kelangkaan bahan bakar.








