(Vibiznews – Index) – Bursa Saham Wallstreet pada penutupan pasar awal pekan ini berakhir anjlok signifikan akibat tekanan jual masif yang dipicu oleh kecemasan makroekonomi dan sentimen mengejutkan dari sektor teknologi.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup merosot -0,29% atau 152,09 poin ke level 52.421,20, Indeks S&P 500 ditutup melemah -0,48% ke level 7.619,98, dan Indeks Nasdaq Composite terpangkas -0,56% ke level 26.186,41.
Tekanan terbesar datang dari pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat, di mana imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat menembus level psikologis 5,00% untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Kenaikan imbal hasil ini terjadi menjelang pertemuan krusial Federal Reserve pada pekan ini, di mana pasar mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga akibat inflasi yang persisten. Tingginya imbal hasil aset bebas risiko ini membuat pasar ekuitas kehilangan daya tariknya dan memicu aksi jual berkelanjutan.
Dari sisi komoditas, harga minyak mentah dunia yang meroket akibat ketegangan geopolitik turut membebani sentimen para pelaku pasar. Serangan drone terhadap infrastruktur energi memaksa Arab Saudi menutup pipa minyak utama yang melintasi jalur bypass Selat Hormuz dengan kapasitas 7 juta barel per hari. Insiden ini membuat harga minyak mentah Brent sempat mendekati level $110 per barel sebelum menetap di kisaran $105,68. Lonjakan tajam pada harga energi ini memicu kekhawatiran baru mengenai lonjakan inflasi yang dapat memaksa The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu yang lebih lama.
Saham-saham yang menggerakkan bursa pada awal pekan ini diwarnai oleh aksi jual masif di sektor teknologi dan semikonduktor. Intel ditutup anjlok -5,6%, Advanced Micro Devices (AMD) turun -4%, dan Nvidia merosot -3%.
Pelemahan tajam pada sektor teknologi ini dipicu oleh sentimen negatif yang menghantam industri kecerdasan buatan (AI). Pernyataan bersama dari para pemimpin raksasa AI global yang menyerukan perlambatan global pada pengembangan kemampuan model AI demi alasan keamanan kemanusiaan, ditambah dengan keputusan OpenAI untuk membatalkan rencana IPO mereka pada tahun ini, telah mengguncang kepercayaan investor. Rentetan kabar ini memicu keraguan atas valuasi tinggi industri AI yang selama ini menjadi penopang utama rekor tertinggi bursa saham.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan bursa Wall-Street pada sesi perdagangan selanjutnya akan sangat diwarnai oleh sikap kehati-hatian investor dalam menantikan hasil keputusan suku bunga dari Federal Reserve, serta terus memantau dampak gangguan pasokan terhadap pergerakan harga minyak mentah global.








